RADAR JOGJA FILE
KONSENTRASI: Penampilan Galuh Linggarjati (tengah) saat berlaga di Pekan Olahraga Nasional (PON) 2012 di Riau. PON 2016 di Jawa Barat membuka peluang bagi Linggar untuk memperbaiki prestasi.
 
JOGJA-Tim menembak DIJ masih menunggu kepastian kuota dari PB Persatuan Menembak dan Berburu Indonesia (Perbakin) untuk berlaga di PON 2016.

Kepastian itu terkait dengan nasib sembilan dari sepuluh atlet yang berangkat ke kejuaraan kualifikasi Pra-PON di Lapangan Tembak, Cisangkan, Cimahi, Jawa Barat akhir Desember 2015 lalu yang lolos poin standar Minimun Qualification Score (MQS). “Di cabang menembak ketentuan lolos ke PON yakni lolos MQS dan kuota,” ujar pelatih sekaligus manager tim menembak DIJ Joko Djuniarto kepada Radar Jogja Minggu (10/1).

Joko menjelaskan, pada Pra PON di Cimahi, Jabar kemarin, MQS yang harus dicapai atlet untuk bisa lolos yakni 377 di nomor air riffle putri, 359 di nomor air pistol putri, 537 di nomor air riffle putra, dan 554 di nomor air pistol putra.

Atlet DIJ yang lolos MQS Pra-PON yakni Trisnaninttyas Prameswari (397,1), Galuh Linggarjati (394,5), Devi Iswara (392,1), Damar Novi (583), Ries Arfianto (595,8), Fatimah Ashara (385), Winda (580), Aora (577,6) dan Nikita Mayllenia (345).

Joko menambahkan, tim menambak DIJ berangkat dengan kesiapan yang cukup, meskipun persaingain daerah lain sangat ketat dan memiliki peralatan latih yang lebih mumpuni. “Kami hanya bisa bersaing di jarak 10 meter. Selebihnya terlalu berat di peralatan karena memang harganya tidak murah,”ujarnya.

Disinggung mengenai persaingan, Joko menyebut atlet-atlet dari Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Papua, Jabar, dan Jawa Timur masih menjadi lawan yang berat. “Kami menunggu kuota dari PB. Karena bukan by name. Jadi bisa berganti orang. Kami akan latih kembali agar secara mental atlet benar-benar siap,”ujar Joko.(dya/din/ong)