RYZA WIJAYANDA N
BUGAR: Pegiat Freeletic Jogja Ahmad Syahrir Maulana dalam sebuah kesempatan bersama anggota komunitas untuk berolahraga bersama.

Ajak Anak Muda Gemar Berolahraga

Freeletic merupakan program kebugaran yang cukup nge-tren di kalangan anak muda. Tak sekadar menurunkan berat badan saja, tetapi mampu menjaga kesehatan tubuh. Itu pula yang dirasakan oleh Ahmad Syahrir Maulana. Dia pun makin giat menularkan program kebugaran ini dengan mendirikan komunitas Freelatic Jogja.

RYZA WIJAYANDA N, Jogja

AWALNYA, Ahmad Syahrir Maulana termasuk kategori lelaki pemalu yang sulit untuk bersosialisasi. Adri, sapaan akrabnya, memiliki berat badan yang melempaui batas. Sadar akan banyak penyakit yang mengintainya, Adri lantas memulai berolahraga di gym. Hingga akhirnya jatuh cinta pada freeletic.

“Keinginan untuk hidup sehat, akhirnya saya menekuni olahraga,” ujarnya ditemui belum lama ini.

Setelah lama berada di ruang gym, lama-lama membuatnya bosan. Lantas Adri berpikir untuk mencoba berolahraga di ruang terbuka dan bersosialisasi dengan banyak orang. “Awalnya dikasih tahu teman mengenai aplikasi Freeletic. Saya mulai mencoba gerakannya dan langsung tertarik,” ujarnya.

Keinginan yang kuat untuk menurunkan berat badan, dan menjaga pola hidup sehat membuat Adri menekuni freeletic ini. Bahkan dia mencoba beragam gerakan secara otodidak. Tak hanya dari aplikasi kebugaran di gadget-nya saja. Dia juga tak segan untuk mencari informasi selengkap mungkin mengenai freeletic. Dijelaskan, freeletic merupakan olahraga yang mengandalkan berat badan sendiri tanpa menggunakan alat bantu apapun.

“Kurang lebih dua bulan saya belajar freeletic sendiri. Jujur, saya merasakan manfaatnya, berat badanya saya jadi stabil, badan bugar, dan hidup saya semakin teratur,” ujar Adri.

Tak ingin sehat sendirian, akhirnya Adri membentuk komunitas Freeletic Jogja. Ketika membentuk komunitas, ternyata tak semudah membalikkan telapak tangan. Bahkan Adri sempat menuai cibiran miring dari teman-temannya. Namun, dengan keinginan kuat untuk mengajak orang-orang berolahraga dan memperkenalkan freeletic di Jogja membuat Adri tetap teguh dengan pendiriannya. Pada 7 Januari 2015, Freeletic Jogja berdiri.

Adri sadar membangun sebuah komunitas yang tergolong baru tidaklah mudah. Pandangan aneh dan sorot mata remeh kerap diterima Adri. “Saya coba bertahan karena saya ingin mengajak orang-orang seperti saya dulu untuk olahraga dan peduli pada kesehatannya. Saya yakin ke depannya komunitas ini akan besar,” ujar pria kelahiran Palu 26 tahun silam ini.

Dalam empat bulan pertama berdirinya Freeletic Jogja, Adri hanya berhasil menggaet tidak lebih 20 orang. Kemudian Adri memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan kegiatan komunitasnya.

“Perkembangan Freeletic Jogja terbilang cukup lambat. Hingga pertengahan tahun 2015 lalu freeletic menjadi booming. Banyak komunitas freeletic di lain kota di Indonesia terbentuk. Ini memberi imbas baik bagi komunitas Freeletic Jogja,” ungkapnya.

Setelah booming, baru kemudian banyak anak muda yang mencari keberadaan Freeletic Jogja. Hingga banyak yang bergabung untuk berolahraga bersama. Biasanya mereka memilih tempat berolahraga berpindah-pindah. Tahun 2016, tepatnya 7 Januari lalu, Freeletic Jogja genap berusia satu tahun. Saat ini sudah berhasil memiliki anggota sebanyak 200 orang.

“Bangga atas perkembangan Freeletic Jogja, dan berharap terus berkembang serta memberi manfaat untuk orang banyak ke depannya,” ungkapnya.

Saat ini ada banyak tawaran bagi Adri untuk lebih mengenalkan freeletic ke warga Jogja. Bahkan tawaran dari gym maupun tempat olahraga lain dengan bayaran yang menjanjikan mendatanginya. Namun, Adri menolaknya.

“Saya belum kepikiran ke arah komersial. Dengan begini, bisa berkenalan dengan banyak orang dan bisa menularkan gaya hidup sehat. Itu sudah cukup,” ungkapnya. (ila/ong)