Arista Atmadjat
 
JOGJA – Dunia penerbangan Indonesia mendapatkan penilaian negatif. Penilaian itu dikeluarkan oleh AirlineRatings.com yang merilis sembilan maskapai asal Indonesia masuk kategori maskapai dengan tingkat keselamatan dan kemanan penerbangan yang buruk.

Pernyataan dari AirlineRatings.com itu langsung dibantah oleh pakar penerbangan Arista Atmadjati. Menurut Arista, statement yang diberikan oleh situs penerbangan ini kurang mendalam. Situs tersebut menyatakan sembilan maskapai di Indonesia masuk dalam daftar hitam.

Dalam surveinya, AirlineRatings.com merilis sembilan maskapai asal Indonesia yang masuk kategori maskapai dengan tingkat keselamatan dan kemanan penerbangan yang buruk. Adapun maskapai-maskapai itu adalah Batik Air, Citilink, Kal-Star Aviation, Lion Air, Sriwijaya Air, TransNusa, Trigana Air Service, Wings Air, dan Xpress Air. “Situs itu buatan eks CEO Qantas, Geoff James Dixon,” ungkap Arista, kemarin (10/1).

Menurutnya, klaim maskapai Indonesia terburuk sedunia itu tidak benar. Sebab kualitas layanan dan safety maskapai Indonesia diatas Myanmar, Laos, Kamboja, Nepal, Tibet, Mongolia, dan Korea Utara. “Bahkan beberapa negara pecahan Uni Sovyet dan semua negara Afrika lebih parah jika dibandingkan maskapai Indonesia,” katanya.

Menurut Arista, maskapai negara-negara ini banyak yang memakai pesawat lama era tahun 1980an. Sedangkan beberapa maskapai Indonesia telah meremajakan pesawatnya. Seperti penggunaan Boeing seri 737 800 Next Generation hingga Airbus a330 series 200.

Pesawat-pesawat ini justru telah digunakan oleh maskapai yang masuk dalam daftar hitam. Seperti Lion Air, Batik Air dan Sriwijaya Air yang menggunakan Boeing 737 800 NG dan 737 900 Extended Range. Adapula Citilink anak dari Garuda Airline yang menggunakan Airbus a320.

Masuknya Citilink dalam daftar hitam, menurutnya, juga tidak berimbang. Arista beranggapan ada maksud terselubung dalam rating AirlineRatings.com ini. Sebab, Indonesia saat ini akan bergabung dalam dewan council International Civil Aviation Organization (ICAO).

“Perkembangan maskapai Indonesia pesat. Apalagi Indonesia saat ini berusaha meningkatkan Safety Category 2 ke Safety Category 1. Ini namanya AirlineRatings.com sudah tidak fair dalam menilai. Cenderung disorientasi dan absurd dalam ranking dan ratingnya,” tegasnya.

ICAO sendiri merupakan organsiasi di bawah PBB, yang menilai tingkat keselamtan penerbangan di semua negara anggotanya. Sehingga adanya rating ini, menurut Arista, merupakan upaya menjauhkan Indonesia dari dewan ICAO.

Dalam daftar tersebut beberapa maskapai Indonesia memang masih menggunakan pesawat lama. Namun dari segi kelayakan masih layak terbang. Di antaranya adalah Express Air, Trigana, Kal-Star Aviation, Wings Air menggunakan ATR 72/52. Pesawat ini jenis pesawat dengan baling-baling.

“Kalau dari segi safety keselamatan, sejak ada UU Penerbangan no 1 tahun 2009 sudah membaik. Seluruh maskpai telah memperbaiki kualitas keamanan dan keselamatannya. Justru beberapa negara yang saya sebutkan diatas, pesawatnya benar-benar tua dan tidak layak terbang,” ungkap pria yang menjabat Director of Arista Indonesia Aviation Center (AIAC) ini.

Rating AirlineRatings.com mengacu pada 50 tahun terakhir. Adanya catatan 87 kecelakaan maskapai yang telah menewaskan tidak kurang dari 1.597 orang. Sementara dalam 10 tahun terahir setidaknya ada 16 kecelakaan pesawat yang telah menewaskan 560 penumpangnya.

Laporan tersebut mengkategorikan 10 maskapai yang memiliki tingkat keselematan yang rendah. Setelah sembilan maskapai diisi dari Indonesia, satu maskapai dilengkapi dari Suriname, yaitu Bluewing Airlines. (dwi/ila/ong)