DWI AGUS/Radar Jogja
 

JOGJA – Dunia fotografi saat ini telah jauh berkembang dengan datangnya era digital. Beragam kemudahaan dalam mengabadikan objek gambar tersaji dalam teknologi kamera saat ini. Begitu pula teknik mencetak foto, semakin detail mendekati objek aslinya.

Namun pemikiran ini tidak berlaku bagi mahasiswa Program Studi Fotografi, FSMR, ISI Jogja. Para mahasiswa ini justru memilih teknik cetak jadul. Hasil-hasil cetak ini bisa dilihat di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY) dalam pameran bertajuk Imaji #2: Alternative Photographic Processes.
“Meski teknologi telah berkembang, teknik cetak masa lalu tetap memiliki cerita tersendiri. Meski hasil cetakan tidak riil, justru memiliki nilai seni. Bisa dilihat dari hasil dan proses mencetaknya,” kata kurator pameran Irwandi kemarin (10/1).

Dosen FSMR ISI Jogja ini menilai perlu teknik khusus untuk mencetak foto. Berbeda dengan saat ini yang mengandalkan teknologi. Cetak zaman dulu justru dihasilkan dengan teknik manual.

Cetak masa lalu pun terbagi dalam istilah. Seperti historic photographic process, early photographic process, handmade photography dan alternative photographic process. Penggunaan istilah-istilah tersebut tergantung pada konteks penghadiran karya.

“Untuk menghasilkan sebuah cetak foto pun diwujudkan dalam berbagai eksperimen. Termasuk dalam pameran ini, setiap peserta pameran melakukan eksperimen masing-masing. Hingga bisa menghasilkan karya seperti yang dipamerkan saat ini,” jelasnya.

Pameran yang berlangsung hingga 12 Januari ini pun mengusung tiga jenis cetakan. Mulai teknik cetak cyanotype, vandyke brown, dan gum bichromate print. Ketiga teknik cetak ini, menurut Irwandi, diaplikasikan sejak era tahun 1840-an.

Selain itu dalam pameran ini, peserta pameran juga melakukan eksperimen. Salah satunya adalah karya berjudul Selvitasi. Karya ini dicetak dalam kain mori berukuran besar. Digambarkan sosok manusia memegang kamera di ujung tangannya.

“Ini eksperimen dari peserta pameran. Kain mori direndam dalam larutan ferric ammonium citrate 40 persen. Selanjutnya objek tidur di atasnya dengan menghadap matahari secara langsung. Selanjutnya kain mori dibilas dengan cairan potassium ferricyanide lalu dibilas air. Jadilah kain mori warna biru dengan objek paparan di atasnya,” terang Irwandi.

Dalam pameran ini Irwandi mengajak agar pelaku seni tidak terbatas oleh teknologi. Bercermin pada masa lalu, sebuah karya indah tetap dapat dihasilkan meski tanpa bantuan teknologi. Fokus utama dalam pameran ini adalah menghargai sebuah proses dalam berkarya.

“Hal lain yang dapat dipetik dari pameran ini adalah adanya upaya berproses dalam menciptakan karya. Perlu pengorbanan untuk menghasilkan sebuah karya tidak instan. Tujuannya meningkatkan sense para peserta pameran terhadap proses penciptaan karya fotografi seni,” tandasnya. (dwi/mg2/laz/ong)