HENDRI UTOMO/Radar Jogja

ANDALAN: Suradi dan Sugeng Suyitno membantu penumpang turun dari rakit bambu di tepi Sungai Progo, tepatnya di Dusun Mirisewu, Ngentakrejo, Lendah, Kulonprogo, kemarin. Jembatan sesek yang digantikannya amblas pasca diterjang banjir.

Keberadaannya Jadi Penanda Musim, Masyarakat Terbantu

Warga Kulonprogo yang tinggal di bantaran Sungai Progo bisa diidentikkan dengan sesek dan rakit bambu. Seperti apa keunikannya, kenapa bisa dijadikan penanda pergantian musim? Bagaimana juga bisa bertahan hingga sekarang?

HENDRI UTOMO, Kulonprogo

PETUAH bijak mengatakan, alam telah menyediakan semuanya bagi kehidupan manusia. Tidak terkecuali Sungai Progo yang telah memberikan napas kehidupan banyak orang di dekatnya.

Airnya yang melimpah mengalir mengairi sawah, belum lagi pasir dan batu yang terkandung di perutnya, seolah tak pernah habis dan bosan memberikan penghidupan bagi para penambang.

Tentu sudah lama pula manusia mengenal dan bersahabat baik dengan Sungai Progo. Mereka kenal betul tipikalnya, bahkan tidak sebatas urusan mengeruk kekayaannya dan memanfaatkan semuanya, tetapi saat meraba gerakannya.

Adalah sesek (jembatan) bambu dan rakit (kapal) bambu yang telah lama menjadi saksi. Keberadaanya juga sering dijadikan penanda musim. Keduanya buatan manusia, menjadi akses alternatif penghubung dua wilayah (Kulonprogo dan Bantul) yang telah lama dipisahkan sungai besar ini.

Kemunculan sesek dan rakit tidak pernah bersamaan. Saat musim kemarau tiba, di kala debit air mengecil, saat itulah waktu yang dimiliki sesek. Jembatan dari bahan bambu itu akan bermunculan di sepanjang bantaran Sungai Progo, khususnya di wilayah hulu.

Keberadaannya bahkan cukup dikenal belakangan ini, karena dimanfaatkan warga untuk sekadar berfoto selfie di atas jembatan yang memang terlihat cukup eksotis dan alami di zaman se-modern ini.

Ketika musim penghujan tiba seperti saat ini, volume air Progo membesar dan berhasil menyapu sesek-sesek bambu buatan warga. Saat itulah waktu milik rakit bambu. Dari tahun ke tahun selalu seperti itu, membantu warga di kedua wilayah di DIJ ini.

Jembatan Srandakan di selatan menjadi terlihat terlalu jauh. Manusia lagi-lagi tersimak syahwatnya, lebih memilih yang instan, cepat dan mudah. Terlepas dari jaminan keselamatan penggunanya, sesek dan rakit telah lama ada dan digunakan hingga sekarang.

Rakit bambu panjangnya tidak lebih dari lima meter dan lebar sekitar 1,5 meter. Namun sekali menyeberang, bisa mengangkut hingga delapan motor sekaligus pemiliknya. Jika tanpa kendaraan, rakit itu bahkan bisa menyeberangkan 30 orang dalam sekali jalan.

“Saya sudah belajar menjalankan rakit sejak umur 12 tahun. Ya, hanya untuk membantu menyeberangkan, kalau ada yang memberi ikhlas saya terima,” terang Suradi, warga Ngentakrejo, saat mengoperasikan rakit bambu di wilayah Dusun Mirisewu, Ngentakrejo, Lendah, Kulonprogo, kemarin (10/1).

Tidak sampai 10 menit rakit teleh menyeberang dan harus kembali mengangkut sejumlah penumpang yang menunggu. Rakit yang digunakan terbilang baru. Rakit itu dibuat sendiri, dan tidak jarang hilang saat Sungai Progo banjir dan meluap.

“Kabarnya di sini mau dibangun jembatan gantung permanen. Nanti kalau rakit sudah tidak dibutuhkan lagi, kami cari sumber rejeki lain,” ucap Suradi yang kali ini ditemani rekannya, Sugeng Suyitno, 56 .

Sugeng menjelaskan, banyak suka dan duka membantu masyarakat menyeberang dengan rakit bambu. Namun ia mengaku senang bisa membantu masyarakat mengompas jalan. Tidak sekadar menyeberangkan, ia kadang juga bisa menjadi teman mengobrol yang asyik bagi para penumpang.

“Sudah 24 tahun saya menjalankan rakit bambu. Biasanya saya mulai turun pukul 06.00 WIB dan pulang menjelang magrib. Ya, menyeberangkan siapa saja,” jelasnya.

Jam tangan menunjukkan pukul 10.24 WIB. Sugeng, pegawai UPTD Dinas Pendidikan Lendah tiba-tiba ikut bergabung dalam rombongan penyebrangan rakit yang entah ke berapa. “Saya sudah biasa naik rakit, tidak takut dan murah cukup bayar Rp 2000 sekali jalan. Lewat sini juga lebih dekat. Kalau lewat Brosot, selisih 30 km,” ucapnya.

Pengakuan senada diungkapkan Arin, 16, warga Dusun Nglatihan II, Ngentakrejo, Lendah. Ia sudah menjadi pelanggan setia rakit bambu saat berangkat dan pulang sekolah di SMK Negeri 1 Pandak, Bantul. ‘Saya sudah biasa naik rakit. Ya, ngeri-ngeri asyik gimana gitu,” selorohnya.

Arin mengungkapkan, saat musim kemarau ia juga selalu menjadi langganan sesek bambu yang dibuat masyarakat sekitar. Namun saat jembatan rusak dan putus, maka rakit menjadi transportasi alternatif dibanding naik sepeda memutar lewat Jembatan Srandakan.

Muhadi Sugito, 55, warga Pedukuhan Manukan, Desa Sendangsari, Kecamatan Pajangan, Bantul mengungkapkan, keberadaan sesek dan rakit bambu itu sangat membantu warga khususnya bagi anak sekolah. Sesek dan rakit juga mejadi sumber pendapatan bagi mereka yang mengoperasikannya. (laz/ong)