BEKAS KANTOR GAFATAR: Kios Nomor 67 di Taman Kuliner, Condongcatur, Depok, Sleman berkamlufase menjadi koperasi dan badan penjaminan kredit. Dalam formulir eksodus dicatat sebagai Kantor DPD Gafatar DIJ.

EKSISTENSI Gafatar di DIJ yang diduga sebagai biang keladinya orang hilang di Jogjakarta akhir-akhir ini, disinyalir sudah berlangsung sejak dua tahun lalu. Markasnya berada di kompleks Taman Kuliner, yakni kios nomor K67, Condongcatur, Depon Sleman.

Radar Jogja, kemarin mengjungi tempat yang diduga sebagai Kantor DPD Gafatar DIJ itu. Namun sayangnya kios itu tertutup. Diduga tutup sejak beberapa pekan lalu. Dari fisik bangunan, memang tidak menunjukkan kalau itu markas organisasi keagamaan. Karena, yang terlihat pertama adalah plang tertulis badan penjaminan kredit yang miring.

Dari luaran, juga tidak terlihat apa isi di dalam ruko tersebut, karena terdapat rolling door di dalamnya. Dari formulir yang ditemukan Radar Jogja, tempat tersebut diklaim sebagai kantor DPD Gafatar DIJ.

Pemilik kios di sebelahnya, Santi mengatakan, kios tersebut sempat disebut untuk kegiatan Gafatar. Namun dia tidak mengetahui persis kegiatan organisasi itu. “Nggak pernah bawa bendera Gafatar, tapi memang sempat mencurigakan,” ujarnya.

Lama ke lamaan akhirnya bisa diketahui. Dikatakan bahwa enam bulan pertama menempati kios tersebut, tanda-tanda bahwa itu sebagai markas Gafatar terasa. Meski beberapa orang, sering ngomong organisasi berbasis ketahanan pangan, namun pada akhirnya ketahuan.

Itu setelah dia sempat menanyakan kepada Kepala UPT Taman Kuliner. Dan jawaban yang didapat, dikatakan kios itu adalah lembaga keuangan. “Koperasi, sebelumnya khusus untuk anggota Gafatar. Namun enam bulan lalu, diganti lembaga, sehingga sudah beda,” ungkapnya.

Selama hampir lebih dari setahun, Santi juga berhubungan baik dengan penjaga kios tersebut. Dia bahkan akrab dengan perempuan yang menjadi penjaga kios koperasi tersebut. “Perempuan itu, anaknya seorang purnawirawan TNI angkatan darat pangkat Letkol. Nikahan saya sempat diundang, ternyata Islam, pakai kerudung,” tuturnya.

Dikatakan, perempuan yang biasa di kios tersebut sederhana. “Kalau datang selalu bersih-bersih, ya nyapu, ngepel, padahal anaknya orang berpangkat. Kalau suaminya, anak seorang kepala dinas di Kalimantan,” jelasnya.

Dia juga mengatakan, para penghuni yang diduga Gafatar dari sepengetahuannya tidak pernah beribadah. Bahkan pernah dalam sepekan dua kali yanyi-nyanyi di dalam kios yang hanya seluas 4×4 meter tersebut. “Kalau penghuni yang dulu nggak salat. Nggak pernah salat. Mereka sampai tanya kok ingin tahu soal Gafatar to,” sebutnya.

Seingatnya, mereka masuk sekitar Oktober 2014 dan pada pertengahan 2015 mereka pergi. Mereka juga menyebut anggota Gafatar telah banyak berada di Indonesia. “Kalau yang masuk kedua sudah mau salat, sebelumnya ndak mau salat,” terangnya.

Sementara itu keamanan setempat Suroto mengatakan, bahwa memang yang menyewa di Kios 67 pernah nyanyi-nyanyi. Namun setelah diingatkan, tidak lagi. Disebutkan, mereka pindah kantor ke kawasan Kotagede, Jogja.

Pada bagian lain, kemarin (11/1) Polda DIJ kembali mendapat laporan orang hilang, yakni atas nama Kukuh Pambudi, warga Sleman. Direskrimum Polda DIJ Kombes Pol Hudit Wahyudi mengatakan, ada laporan bahwa Kukuh menghilang bersama keluarganya dan ikut dengan Gafatar. “Sejauh ini sudah ada empat yang hilang. Itu laporan yang masuk ke Polda,” kata Hudit kepada wartawan di Polda DIJ, Senin (11/1).

Dia menjelaskan, dari keempat orang hilang tersebut semuanya terhubung dengan organisasi Gafatar. Dari data yang ditemukan di markas Gafatar Sleman, nama Kukuh Pambudi masuk dalam data anggota Gafatar. “Kukuh itu juga anggota Gafatar, kalau yang lain juga terkait, misalnya ayah Kevin itu anggota Gafatar, lalu membawa Kevin,” tandasnya.

Sementara itu, dari hasil peneyelidikan hingga saat ini, dr Rica Tri Handayani, warga Lampung yang menghilang di Jogjakarta beberapa waktu lalu itu, rupanya sejak kuliah sudah aktif berkegiatan di Gafatar Jogjakarta. “Benar dr Rica dulu aktif sebagai anggota Gafatar saat masih kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di sini,” katanya.

Selain dr Rica, ada juga rekan Rica di Jawa Tengah yang juga hilang, yaitu dr Diah Ayu. Keduanya, dulu kuliah satu kampus dan sama-sama aktif di Gafatar. “Dokter Diah Ayu, itu temannya dr Rica. Bukan Diah Ayu yang di Sleman, kebetulan namanya sama. Keduanya aktif di Gafatar saat kuliah. Kemudian setelah menjadi dokter, keduanya diam-diam ikut Gafatar di wilayah masing-masing,” tuturnya. (riz/jko/ong)