Rizal SN/Radar Jogja

DITEMUKAN: Aditya dan Rica turun dari bus dikawal Wadir Reskrimum Polda DIJ, AKBP Djuhandani, kemarin.

SLEMAN – Setelah hampir dua pekan menghilang secara misterius, lima korban yang hilang secara misterius, ditemukan Senin (11/1) pukul 06.30 WITA kemarin. Mereka antara lain dr. Rica Tri Handayani dan anak balitanya (Zafran Alif Wicaksono), E, N dan M.Mereka berhasil ditemukan polisi saat berada di Bandara Iskandar, Kotawaringin Barat, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah (Kalteng).

Selain lima korban, polisi juga berhasil menangkap orang yang diduga sebagai tersangkanya, yakni Eko Purnomo (E) dan Veni Orinanda (V). Seluruhnya berhasil digelandang lagi ke Jojkarata, danb tiba di Mapolda DIJ pukul 15.43 WIB.

Kapolda DIJ Brigjen Pol Erwin Triwanto menjelaskan, para korban dan dua tersangka tersebut berhasil diamankan saat akan chek in di Bandara Iskandar. “Rencananya, mereka akan terbang menuju Semarang pada pukul 07.30 WIB,” katanya kepada wartawan di Mapolda DIJ, sore kemarin.

Lima orang yang diamankan tersebut, kata Kapolda, merupakan hasil perekrutan yang diduga dilakukan Eko Purnomo dan Veni Orinanda (pasangan suami istri). Veni disebut masih sepupu dr Rica. “Tersangka E dan V sudah kita amankan, sekarang sudah di Jogja,” tandas Erwin.

Jenderal bintang satu polisi ini menambahkan, kepolisian masih menyelidiki dan berupaya mengungkap motif yang dilakukan tersangka dalam membawa kabur korbannya. Namun demikian, Kapolda mengaku masih kesulitan, lantaran keduanya memilih melakukan gencatan tutup mulut (GTM). “Belum dapat diungkap, karena mereka memilih tutup mulut,” lanjutnya.

Namun melihat surat korban Rica ke suaminya, polisi mendapatkan beberapa kata kunci yang dapat ditandai. Yaitu salah satunya mereka berkeinginan membuat peradaban yang lebih baik dan diridoi Allah SWT. “Memenuhi kewajiban hamba Allah manusia dengan mengabdi kepada Allah,” terang Kapolda Erwin.

Dari kata kunci di surat tersebut, Polda DIJ, melakukan langkah koordinasi dengan Mabes Polri. “Keterangan dari suaminya, sebelum menikah Rica telah aktif di organisasi. Setelah menikah semoat meninggalkan. Setelah suami S2 di Jogja sering pulang kampung, di situ lah komunikasi berjalan dengan organisasi tersebut,” bebernya.

Menjawab pertanyaan keluarga Ayu Diah Yulianingsih yang merasa tertipu dengan ormas Gafatar, Kapolda mengaku akan berkoordinasi dengan Kesbangpolinmas. “Organisasi itu kan sudah dibubarkan MUI, dan bermertamorfosis menjadi Negara Karunia Allah,” sebutnya.

Selanjutnya untuk pemulihan kondisi Rica, Polda DIJ akan meminta bantuan psikolog untuk memulihkan kondisinya. “Kamis akan meminta bantuan psikolog psikiatri membuka mewancarai kelima korban. Saat ini kondisi psikis masih tidak memungkinkan,” tandasnya.

Sementara itu, mengetahui dr. Rica telah ditemukan, keluarga korban hilang yang diduga terkait organisasi Gafatar mendatangi Polda DIJ, Senin (11/1). Sejumlah keluarga yang datang, yakni paman Diah Ayu Yulianingsih, Faried Cahyono dan kakak Silvi Fitriani, Fikri Hermawan.

Mereka datang ke Polda DIJ karena mendapat kabar ditemukan sejumlah korban Gafatar.

Diah Ayu Yulianingsih merupakan korban hilang pada 11 Desember lalu. Diah menghilang bersama anaknya yang masih balita. “Kami keluarga korban ingin tahu siapa saja yang sudah ditemukan,” kata Faried pada wartawan di Polda DIJ.

Dia mengatakan seharusnya polisi bisa bekerja lebih cepat. Sebab sudah diketahui jika korban yang hilang tergabung dengan organisasi Gafatar. “Karena tinggal panggil pengurus Gafatar,” ujarnya.

Dikatakan, Ayu diketahui keluarga sudah aktif di Gafatar sejak 2006. “Setelah suaminya meninggal tiga bulan lalu, akhirnya diiming-iming pekerjaan dengan gaji besar oleh Gafatar, karena itu dia tergiur dan terus menghilang,” tandasnya.

Sementara itu Silvi Fitriani adalah korban hilang yang merupakan mahasiswi UNS. Silvi menghilang pada 6 Desember 2015 lalu. Menurut kakaknya, Fikri, Silvi menghilang setelah dilarang oleh orangtuanya untuk bergabung Gafatar. “Tadinya pakai jilbab, terus lepas jilbab, tidak salat dan tidak puasa lagi. Karena itu dilarang. Setelah itu pergi dengan mengirimkan surat ke rumah di Banjarnegara,” ungkapnya.

Mahasiswa UNY asal Klampok, Banjarnegara itu pun berharap polisi bisa segera menemukan adiknya tersebut. Silvi adalah mahasiswa Tata Kota UNS Surakarta. “Terakhir diketahui dari lokasi pengambilan ATM di Bandung sebesar Rp 12 juta. Semoga ini ada informasi terkait dengan adik saya,” tandasnya. (riz/jko/ong)