Gunawan/Radar Jogja
INDAHNYA: Adhitya (dua kiri) memberi pengarahan kepada wisatawan sebelum menyelam. Foto kanan, seorang wisatawan menikmati keindahan bawah laut Pantai Nglambor.

Ombak Aman, Bisa “Bersalaman” dengan Binatang Laut

Setiap orang atau kelompok bisa menjadi pelaku wisata. Namun tidak semua bisa melakukan itu dengan baik. Nah, di objek wisata Bintang Nglambor Snorkeling (BNS), Desa Puwodadi, Tepus, Gunungkidul, Yusuf Adhitya Putratama berbagi pengalaman mengemas tempat biasa menjadi luar biasa.

GUNAWAN, Gunungkidul
PANTAI Nglambor terletak di Desa Purwodadi, Tepus, berjarak sekitar 75 kilometer dari pusat Kota Jogja. Perjalanan waktu normal dari Jogja dengan kendaraan pribadi membutuhkan waktu sekitar dua jam. Nglambor berada di dekat Pantai Siung yang sudah lebih dulu dikenal wisatawan.

Untuk segera berjumpa dengan Pantai Nglambor, pengunjung terlebih dahulu melewati Tempat Pemungutan Retribusi (TPR) Pantai Siung. Di pos ini, wisatawan dikenai retribusi Rp 5.000. Kalau sudah melewati TPR, tidak perlu bingung, karena sudah ada papan petunjuk arah ke Nglambor.

Akses masuk ke pantai sendiri cukup menantang adrenalin, lantaran harus menaklukkan tanah berbatu, naik turun, dan jalan tidak terlalu lebar. Pengendara harus hati-hati benar.

Yups, debur ombak dan semilir angin pantai sudah terasa. Dari puncak bukit, Pantai Nglambor mulai terlihat. Mata telanjang langsung dihadiahi anugerah keindahan alam berupa teluk yang mengapit dua bukit karang besar. Di sanalah Pantai Nglambor.

Lalu, apa istimewanya Pantai Nglambor? Ternyata, keberadaan bukit karang di antara teluk membuat ombak di Nglambor menjadi tak terlalu tinggi dan besar. Artinya, pantai itu aman untuk berenang dan menyelam kemudian “bersalaman” dengan binatang laut.

Demikian, sekelumit catatan hasil observasi Adhitya, pengelola BNS. Pria bernama lengkap Yufus Adhitya Putratama yang akrab dipanggil Kak Aditya itu anak angkat dari pasangan suami istri (pasutri) Sawu, 79, dan Tukit, pemilik lahan kawasan Nglambor.

Mbah Mo, nama akrab dari Sawu, menjalin hubungan emosional dengan Kak Adhitya pada 2013. Kala itu, Nglambor masih biasa saja. Biasa dihuni kera ekor panjang dan warga terbiasa mengandalkan dapur ngepul dari bertani dan hasil laut yang tidak menentu.

Yo iki Adhitya, anakku lanang. Sehat waras yo le (ini Adhitya, anak lelaki saya. Sehat selalu ya, Red),” ucap Mbah Mo dengan logat medok, dialeg khas wilayah pesisir laut selatan, sambil terpingkal-pingkal menepuk bahu Kak Adhitya.

Adhitya sendiri nampak tersipu malu. Kemudian mengajak Radar Jogja untuk ikut merasakan sensasi wisata snorkeling. Dia ingin menunjukkan pamor pantai selatan Jawa yang tidak kalah dengan perairan di sudut lain Indonesia.

“Meski aman, kami tetap memantau setiap aktivitas wisatawan. Kekayaan biota laut harus dijaga. Bisa dilihat, diraba namun tidak boleh dirusak,” katanya.

Oleh karena itu, berjubelnya pengunjung tidak membuat matanya menjadi “hijau”. Peralatan snorkeling sengaja dibatasi agar lebih mudah dalam pengawasan. Pundi-pundi rupiah yang diperoleh dari jasa penyewaan alat selam pun berkah. Dengan uang Rp 50 ribu sekali selam, pengunjung dipandu menikmati anugerah indah alam bawah laut dari Tuhan.

“Rupanya, ambigu senang melihat orang senang, menjadi hoki usaha wisata kami,” ucapnya, semberi melepas senyum. (bersambung/laz)