MAGELANG – Pejabat Wali Kota Magelang Rudy Apriyantono menyempatkan menikmati kuliner di Pasar Rejowinangun. Ia memilih Sup Senerek Pak Parto.

Sebelumnya, Rudy me-launching pusat kuliner di dalam Pasar Rejowinangun. Pusat kuliner tersebut dipilih di lantai 2 atau bekas kantor Pegadaian.

Di sini, ada 50 pedagang kuliner yang menjajakan aneka menu khas Magelang. Mulai Sup Senerek Pak Parto, Sup Senerek Pisangan, Sup Senerek Bu Yah, soto, Warung Lombok Ijo Mbok Kucir, Gule Bu Hadi, Gule Mbok Darmo, kupat tahu, mi ayam, bakso, dawet, gado-gado, lotek, dan aneka kuliner lainnya.

Sesekali, ia mengelap dahinya yang berkeringat. Bisa jadi, Rudy kepedasan atau kepanasan. Beruntung, segelas teh tawar menemaninya menyantap hidangan yang menjadi favorit warga Magelang ini.

Tidak sendirian, Rudy bersama para pejabat di lingkungan pemkot. Seperti Kepala Dinas Pengelolaan Pasar (DPP) Joko Budiono, Kepala Diskoperindag Isa Ashari, Assisten Sekda Sumartono, dan lainnya. Mereka duduk berdempetan dan santai menikmati kuliner yang ada.

“Rasanya sudah mantap dan juara. Tidak kalah dengan rasa restoran . Ini luar biasa,” ungkap Rudy, usai menyantap sup senerek, kemarin (11/1).

Para pedagang tersebut merupakan pedagang lama. Sebagian lainnya sudah menyebar ke berbagai tempat.

“Kami mencoba menata mereka dan diberi tempat yang layak, agar dagangan mereka lebih laris. Pengunjung pasar tidak kesulitan mencari kuliner di dalam pasar kalau di pusatkan seperti ini,” tegas Rudy.

Rudy meneruskan, Pasar Rejowinangun perlu direvitalisasi dan semua komponen harus terlibat. Termasuk para pengusaha. Pusat kuliner dibuat sebagai upaya meramaikan pasar yang baru dibangun, setelah terbakar tahun 2008. Pusat kuliner ini juga menjadi embrio sebagai pasar wisata.

Ke depan, pasar tradisional terbesar se-Magelang ini menjadi pasar berkonsep One Stop Shopping. Artinya, para pengunjung pasar bisa mendapatkan segala apa yang dibutuhkan dan cukup berada di satu tempat.

Untuk mewujudkan Pasar Rejowinangun sebagai pasar wisata dan one stop shopping, saat ini ada kerja sama dengan Diskoperindag. Para pelaku UMKM di Kota Magelang diberikan tempat menjual hasil usahanya di pasar ini.

“Pengunjung atau wisatawan yang datang ke pasar ini mudah mencari barang ciri khas Magelang. Seperti batik atau kerajinan lainnya,” tegasnya.

Kepala Dinas Sosial Propinsi Jateng ini menilai, pusat kuliner Rejowinangun sudah bagus, makanannya enak, dan tinggal penataannya yang perlu diperbaiki.

“Pengelola tinggal pilih,mau jual suasana atau jual rasa. Kalau jual suasana juga bisa ditambah musik, mainan anak, dan lainnya,” imbuh Rudy.

Kepala Dinas Pasar Joko Budiono menambahkan, pusat kuliner ini kembali mengingatkan warga Magelang akan masa dulu saat Pasar Rejowinangun belum terbakar. Di sini, ada 50 pedagang baik pedagang baru dan lama. Pedagang lama sudah dikenal masyarakat luas. Seperti Sup Senerek Pak Parto, Gule Bu Hadi, Mbok Kucir, dan lainnya.

“Dulu tempatnya saja kumuh, namun larisnya luar biasa. Sekarang tempatnya lebih bersih dan tertata, sehingga kami berharap warga bisa datang lagi ke Pasar Rejowinangun untuk menyantap makanan yang tersedia,” kata Joko.

Adanya pusat kuliner ini sebagai upaya menggeliatkan gairah ekonomi, sekaligus mempromosikan pasar agar menjadi tujuan warga luar kota untuk ke Magelang dan berbelanja.(dem/hes/ong)