GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
AUDIENSI: Seorang anggota keluarga Diah Ayu Yulianingsih, korban orang hilang seusai beraudiensi di Kantor PP Muhammadiyah, Selasa (12/1). Dari data dan informasi yang dikumpulkan, anggota keluarga yakin bahwa organisasi Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) berada di balik peristiwa tersebut.
Penyidik boleh saja menjerat penjemput para korban hilang dengan pasal penculikan. Pun demikian penjemput yang berdalih untuk mencarikan pekerjaan. Namun jika benar bahwa penjemput itu mengaku sebagai orang Gafatar, sejatinya tetap pantas dicurigai bahwa ajaran mereka tak selayaknya, atau sesat.

Tanda-tanda kea rah ajaran kesesatan, bisa dilihat dari hasil penelusuran di lapangan berupa isian formulir. Selain mendapati formulir kesediaan eksodus dari ormas Gafatar, di lokasi sebuah rumah yang diduga juga sebagai tempat kegiatan Gafatar, di Dusun Kadisoka Purwomartani, Kalasan, Sleman, juga ditemukan berkas-berkas daftar anggota dan target peserta eksodus.

Sedikitnya ada sekitar 25 orang yang ditargetkan akan berangkat untuk eksodus. Banyak di antara nama-nama tersebut dilingkari dan beberapa disilang. Namun beberapa nama sudah tidak lagi jelas.

Selain itu, ada daftar peserta absensi BMS DPK Gafatar Sleman. Ada sekitar 65 nama dalam daftar tersebut. Satu orang yang diketahui menghilang adalah Sanggar Yamin, ayah dari Ahmad Kevin Aprilio. Nama Sanggar berada di nomor 53.

Selain itu, juga ada pembukuan dengan judul Angket Pengembangan KKP. Di situ ada tabel isian nama kepala keluarga dan anggota keluarga, jumlah harta kekayaan (mulai mobil, sepeda motor, tanah, bangunan, dan sejenisnya) dan kesanggupan mengisi pengembangan KKP. Belum diketahui persis apa kepanjangan KKP.

“Angket ini ditujukan untuk dapat diisi dengan sebenar-benarnya agar kita dapat menggenapi seruan Tuhan Yang Maha Esa,” tulis Info Penting di samping kanan formulir yang ditemukan radar jogja di rumah tersebut.

Juga ditemukan satu buku catatan yang diduga milik salah satu anggota Gafatar. Catatan bloknote tersebut penuh dengan tulisan tangan. Hanya saja, karena telah lama dibuang dan terkena air, maka beberapa lembarnya tidak jelas terbaca
Berikut beberapa catatan menggunakan bloknote, yang ditulis menggunakan pulpen warna biru;
“Di luaran sana setinggi apa pun pangkat, sekaya apa pun mereka, sepintar dan sehebat apa pun mereka, tetap di mata Tuhan, mereka adalah orang yang terlaknat. Berbeda kita yang di dalam, semiskin apa pun kita, sesederhana apa pun kita, kita tetap istimewa di mata Tuhan,” tulisnya
“Apa yang selama ini kita lakukan, adalah buah dari ajaran Milah Abraham,” lanjutnya.

“‎Sementara fase ke 3 ini adalah fase kritis, berbahaya, kita tidak perlu berfikir macam-macam, bukan lagi saatnya mempertanyakan tentang keyakinan atau program. Sekarang ini masalah praktik. Tidak ada tawar menawar. Di sini bukti ketaatan dan ketundukpatuhan akan kelihatan,” sebutnya.

“Saatnya manusia bergerak, dan tidak boleh memperdebatkan apa yang sudah diajarkan. Kita dialihkan pimpinan kita, harus siap. Bukan lagi masih berfikir dan menganalisa. 2001- 2015 sudah dilewati fase pertama dan kedua. ”
Selain itu, dalam catatan buku itu juga disebutkan mengenai pengumpulan harta untuk perjuangan. “Hal-hal pengumpulan harta sudah diingatkan dalam firman Tuhan. Orang-orang kafir menafkahkan harta untuk menghadapi kita di jalan Tuhan. Secara kualitas, kita harus 10 kali lipat dari orang-orang luar,” katanya.

“Disiplin menjadi sesuatu yang tidak bisa ditawar. Perilaku ini sudah tidak pantas dilakukan orang yang telah melakukan persaksian. Dari fase ke fase, pasti akan ada orang tersingkirkan. Akan ada seleksi Tuhan,” ungkapnya.

Selain itu, ada kutipan ayat suci Alquran Surat Anisa ayat 97-100‎ tentang perintah hijrah. “(4/97-100) Kita ini tertindas tidak merdeka, kita tidak bisa hidup sesuai perintah/maunya Tuhan. Seluruh dunia/global masih banyak tanah kosong,” sebutnya.

Dalam tulisan tangan latin itu, penulis juga mengutip surat Al Baqoroh ayat 61 tentang ujian di tempat hijrah. Ada juga dalam catatan itu disebutkan tentang putus komunikasi dengan pihak luar. “Putus komunikasi dengan pihak luar (saudara, bapak, ibu)‎,” tulisnya.

Selain itu, ada catatan dari Injil Matius 13/44, namun dalam tulisan itu tidak terlihat jelas karena rusak akibat hujan. (riz/jko/ong)