GERAKAN Fajar Nusantara (Gafatar) saat ini menjadi sorotan masyarakat. Hal itu dipicu hilangnya beberapa orang di beberapa wilayah Indonesia, termasuk di Jogjakarta. Disebut-sebut mereka melakukan eksodus ke Pulau Kalimantan.

Salah seorang mantan pengurus Gafatar HD (bukan nama sebenarnya) menceritakan pengalamannya ‎sebagai seorang pengurus di sebuah daerah di ujung Indonesia. Pengurus tingkat DPD ‎tersebut melalui telepon selulernya mengungkapkan, Gafatar merupakan organisasi kemasyarakatan yang bersifat sosial dan mempromosikan ketahanan pangan.

“Gafatar itu organisasi yang bergerak melalui bakti sosial dan mempromosikan ketahanan pangan,” katanya melalui sambungan telepon kepada Radar Jogja, Selasa (12/1).

Menurutnya, secara resmi organisasi yang pernah dipimpinnya, sudah bubar secara nasional pada tahun 2015. Menurutnya, pembubaran Gafatar karena dianggap sesat oleh ulama di daerahnya. “Secara nasional sudah bubar tahun 2015, dan sekarang tidak tahu,” ucapnya.

Disinggung mengenai apakah Gafatar melarang anggotanya menjalankan ibadah, seperti puasa dan salat. Dia membantah jika ibadah tersebut dilarang dalam organisasinya. “Kalau itu harus dipisahkan dengan Gafatar, itu harus dipisahkan. Kita hanya bergerak dalam bidang ketahanan pangan dan pertanian,” tandasnya.

Dia mengaku tidak sepakat jika Gafatar dianggap aliran sesat. Menurutnya, Gafatar juga sempat besar, di mana sebelumnya sudah terdapat 24 Dewan Pengurus Daerah (DPD) tingkat provinsi.

“Di seluruh Indonesia telah ada 24 DPD Provinsi, itu terang-terangan untuk dideklarasikan. Karena larangan tersebut, kemungkinan juga ikut bubar sejak dianggap sesat tahun 2015 lalu,” tandasnya.

Sehingga saat ini jika ada gerakan ‎di sekitar Kalimantan yang menjadi tujuan warga Jogjakarta dan sekitarnya yang menghilang, dia mengaku tidak tahu. “Yang sekarang ini bukan Gafatar, tapi kalau mantan (anggota Gafatar) saya tidak tahu. Karena Gafatar sudah resmi bubar tahun lalu. Setelah dibubarkan, saya tidak tahu lagi,” katanya.

Dia mengaku, setelah dibubarkan, dia juga tidak menghubungi pengurus Gafatar nasional. Dia juga menyebut, tidak ada lagi kontak dengan para pengurus di pucuk pimpinan. “Setelah dibubarkan, kontak saya hilang semua,” pungkasnya. (riz/ila/ong)