SLEMAN – Bandara Adisutjipto Jogjakarta kembali digegerkan dengan bom. Jika beberapa hari lalu seorang nenek berusia 69 tahun mengaku membawa bom hanya karena jengkel dengan ketatnya pemeriksaan, maka kali ini geger dengan pengakuan warga asli Maroko, Jossep Arick Azoulay.

Awalnya, saat menjalani pemeriksaan oleh petugas bandara, Jossep yang akan terbang dengan Air Asia tujuan Bali, mengalami kelebihan barang. Nah sisanya berupa bungkusan kardus besar. Oleh Jossep, sisa muatan itu disebutnya secara keras bahwa itu adalah bom.

Sesuai standar operating prosedur (SOP) bandara, bungkusan tersebut lalu diamankan petugas bandara, berikut orangnya. Setelah itu ditindaklanjuti ke kepolisian. Oleh polisi, bahan yang disebutnya sebagai bom lalu dibawa ke Polda DIJ. Pun demikian pula pemiliknya.

Kabid Humas Polda DIJ AKBP Anny Pudjiastuti menuturkan, awalnya dalam sebuah pemeriksaan, Jossep mengalami kelebihan barang saat chek ini di Bandara Adisutjipto. “Dia mengaku membawa bom setelah barangnya yang mau dibawa ke Bali dari Jogjakarta kelebihan muatan. Waktunya tadi sekitar jam 12.00 WIB,” kata Anny pada wartawan di Mapolda DIJ, kemarin.

Bungkusan tersebut lalu diamankan petugas bandara dan dibawa ke Polda DIJ. Sesampainya di Mapolda, barang yang dibungkus kardus tersebut ditaruh di tengah-tengah halaman Polda DIJ. Petugas lalu membuat garis pembatas dengan police line sekitar seratus meter. Seorang petugas dengan baju khusus sempat mengecek isi bungkusan.

Untuk detik-detik proses peledakan, sebuah robot yang dikendalikan dari jarak jauh, digunakan untuk membuka bungkusan tersebut. Setelah beberapa kali usaha, akhirnya diputuskan bungkusan diledakkan. “Duaarrr. ”
Setelah dipastikan aman, polisi lalu mengecek isi bungkusan tersebut. Ternyata tidak ditemukan benda berbahaya. Hanya sekumpulan benda seperti kursi lipat dan kotak tisu yang kesemuanya terbuat dari kayu. “Pemilik barang masih diperiksa dan kami tahan. Sesuai aturan undang-undang penerbangan bisa dihukum satu tahun penjara,” terang AKBP Anny. (riz/jko/ong)