SETIAKY A.KUSUMA/RADAR JOGJA

KADO ULTAH: Keluarga Mary Jane (ayah, ibu dan anak-anaknya) dari Filipina saat menjenguk terpidana mati kasus kepemilikan heroin 2,6 kg di Lapas Wirogunan, Jogja, kemarin.

JOGJA – Terpidana mati kasus penyelundupan heroin seberat 2,6 Kg asal Filipina, Mary Jane Viesta Feloso mendapat kunjungan istimewa dari anggota keluarganya, kemarin (12/1). Rombongan kelurga MJ, panggilan akrab Mary Jane, sengaja datang ke Lapas Wirogunan Jogjakarta untuk merayakan ulang tahun ke-31 perempuan yang lahir pada 10 Januari 1985 itu.

Rombongan kelurga tiba sekitar pukul 08.45 WIB dengan menumpangi dua mobil. Selain keluarga, juga tampak hadir perwakilan dari pemerintah Filipina. Mereka datang dengan membawa kado untuk MJ.

Kado yang dibawa, antara lain beberapa kaus, sandal, serta kartu-kartu ucapan tahun baru dan kartu ulang tahun. “Itu sudah seperti menjadi tradisi di sana. Ketika ulang tahun, memberikan kartu,” kata Laurence Castello dari Migrante International yang ikut mendampingi keluarga MJ kepada wartawan, kemarin (12/1).

Kalapas Wirogunan Zaenal Arifin menambahkan, pihak lapas tidak tahu jika Mary Jane berulang tahun pada 10 Januari kemarin. “Saya nggak tahu kalau Mary Jane ulang tahun. Malah kemarin ada ramai-ramai petugas kasih kejutan ulang tahun, tapi buat saya. Saya kemarin juga ulang tahun,” katanya pada wartawan di Lapas Wirogunan, Selasa (12/1).

Lebih jauh dikatakan, kondisi Mary Jane saat ini sehat. Mary Jane pun beraktivitas seperti biasa, setiap hari berolahraga dan ke gereja. “Aktivitasnya ya itu, tapi kemarin dia belajar menari Jaipong,” ungkapnya.

Pada bagian lain, aktivis Migrante Internasional Laorence Castillo mengatakan, Mary Jane akan diminta untuk memberi kesaksian kasus human trafficking di negaranya. Mary Jane akan memberikan kesaksian melalui teleconference setidaknya sekitar bulan Februari dan Maret nanti. “Mary Jane akan memberikan kesaksian di pengadilan Filipina dalam kasus trafficking yang melibatkan Maria Kristina Sergio,” katanya di Lapas Wirogunan, kemarin.

Sebelumnya, perekrut Mary Jane sebagai buruh migran yang bernama Maria itu menyerahkan diri kepada kepolisian Filipina menjelang eksekusi mati terhadap Mary Jane April 2015 lalu. Maria menyerahkan diri kepada Nueva Ecija Provincial Police Office (NEPPO).

Menurutnya, Maria saat ini mencoba untuk proses banding. Pihaknya akan terus mendorong kasus tersebut segera diproses. Dia menilai, saat ini proses hukum di Filipina masih lambat. ‎
“Dia (Mary Jane) itu korban, pelaku trafficking sebenarnya sedang menjalani sidang, dan korbannya harus bersaksi,” imbuhnya.

Castello menambahkan, apabila hasilnya nanti membuktikan Mary Jane korban perdagangan manusia dan tidak tahu-menahu tentang narkoba tersebut, ada kemungkinan MJ dapat dibebaskan. “Kami berterima kasih dengan pemerintah dan warga Indonesia yang telah memberikan dukungan kepada Mary Jane,” lanjutnya.

Di tempat yang sama, Kalapas Kelas IIA Wirogunan Jogjakarta, ‎Zainal Arifin mengaku belum menahu tahu terkait rencana teleconference pengadilan Filipina dengan Mary Jane. “Saya malah belum tahu,” ujarnya. (riz/jko/ong)