RIZAL SN/RADAR JOGJA
LAYANGKAN SURAT: Surat terbuka untuk Ngarso Dalem tertanggal 12 Januari 2016 yang disampaikan sebagai jawaban atas permintaan Penghageng Kawedanan Hageng Punakawan (KHP) Panitra Pura Keraton Jogja GKR Condrokirono. Foto kanan, surat dari Keraton Jogja yang berisi Sabda Jejering Raja.

JOGJA – Rayi-rayi dalem atau adik-adik sultan ternyata masih ekstra sabar menyikapi manuver sang kakak yang beberapa kali mengeluarkan sabda. Termasuk menanggapi Sabda Jejering Raja yang disampaikan Sultan Hamengku Bawono Ka 10 pada 31 Desember 2015.

Merespons itu, putra-putra Sri Sultan Hamengku Buwono IX melayangkan surat bertajuk “Surat Terbuka untuk Ngarso Dalem. ” Surat tertanggal 12 Januari 2016 itu disampaikan sebagai jawaban atas permintaan salah satu putri HB Ka 10 yang juga menjabat Penghageng Kawedanan Hageng Punakawan (KHP) Panitra Pura Keraton Jogja Gusti Kanjeng Ratu (GKR)
Condrokirono.

“Surat terbuka itu juga kami tujukan kepada masyarakat DIJ agar tahu. Jadi bukan hanya kami kirimkan kepada Ngarso Dalem saja,” ungkap salah satu putra HB IX GBPH Yudhaningrat di gedung DPRD DIJ, kemarin (14/1).

Sebelum membuat surat tersebut, putra-putri HB IX lebih dulu mendapatkan surat dari Keraton Jogja pada 6 Januari lalu. Surat berisi tentang kutipan sabda jejering raja yang telah dibacakan HB Ka 10 di Bangsal Sitihinggil di penghujung 2015.

Semula hanya KGPH Hadiwinoto yang mendapatkan surat terkait isi sabda jejering raja tersebut. “Kangmas Hadi (Hadiwinoto,red) kemudian meminta agar semua putra-putri HB IX dikirimi semua. Akhirnya kami semua mendapatkan fotokopinya,” jelas pangeran yang sehari-hari menjabat Assekprov Administrasi Umum Setprov DIJ ini.

Setelah mengadakan rapat keluarga beberapa kali, rayi-rayi dalem berhasil merumuskan sikap yang kemudian dituangkan dalam surat terbuka tersebut. Dari 22 putra-putri HB IX, saat ini yang masih hidup ada 16 orang.

Terdiri dari empat orang perempuan dan 12 orang laki-laki. Salah satu anak laki-laki itu termasuk HB Ka 10. Sedangkan 15 orang lainnya meliputi tiga orang kakak perempuan, 11 adik laki-laki dan seorang adik perempuan.

Surat terbuka itu diteken empat putra-putri HB IX. Mereka yang menandatangani surat itu merupakan anak tertua mewakili dari masing-masing istri yang melahirkan keturunan. Ada empat orang yang membubuhkan tanda tangan. Keempatnya adalah Gusti Bendara Raden Ayu
(GBRAy) Murdokusumo, Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Hadiwinoto, Gusti Bendoro Pangeran Haryo (GBPH) Prabukusumo, dan GBPH Pakuningrat. Selain Murdokusumo, semua yang meneken surat terbuka berstatus rayi dalem. Sedangkan Murdokusumo adalah kakak beda ibu dari HB Ka 10.

Murdokusumo merupakan anak tertua dari istri pertama HB IX, Kanjeng Raden Ayu (KRAy) Pintokopurnomo. Demikian pula dengan Prabukusumo mewakili istri ketiga KRAy Hastungkoro, dan Pakuningrat dari istri keempat KRAy Tjiptomurti. Satu-satunya yang bukan putra tertua adalah Hadiwinoto. Meski di urutan putra laki-laki HB IX saat ini merupakan anak tertua setelah HB Ka 10, tapi di keluarganya, Hadiwinoto justru anak bungsu.

Pangeran yang merupakan anak dari istri kedua HB IX, KRAy Windyaningrum memiliki dua kakak perempuan dan laki-laki. Kakak perempuannya bernama GBRAy Riyokusumo dan kakak laki-laki Hadiwinoto adalah HB Ka10. Satu-satunya adiknya, GBPH Joyokusumo pada 1 Januari 2014 telah meninggal dunia.

Gusti Yudha, sapaan akrabnya, menerangkan, surat terbuka itu berisi tiga poin pernyataan. Pertama, mereka menegaskan posisi sultan bukanlah pemilik keraton, melainkan sebagai pemimpin adat. Dengan begitu, semua kegiatan keraton harus sesuai dengan tata tertib dan
paugeran yang berlaku.

Kedua, suksesi takhta seharusnya sesuai dengan paugeran yang sudah berlangsung turun temurun dan telah dicontohkan oleh para leluhur. Ketiga, yang bertakhta di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat saat ini adalah Sri Sultan Hamengku Buwono X. Maka semua sabda yang bukan dari nama tersebut tidak memiliki legitimasi.

Di bagian akhir, empat saudara raja Keraton Jogja tersebut masih berharap Ngarso Dalem, demikian sultan biasa disapa, dapat berubah pikiran dan kembali menggunakan gelar Hamengku Buwono X dan bukan Hamengku Bawono Ka 10.

“Kami masih berharap Ngarso Dalem dapat berubah pikiran dan kembali menjadi Hamengku Buwono X yang santun dan bijaksana, sesuai dengan harapan seluruh amsyarakat dan kerabat Kasultanan Jogjakarta,” kata Gusti Yudha mengutip surat itu.

Surat terbuka itu merupakan kali kedua dilayangkan saudara-saudara HB Ka 10. Surat pertama dilayangkan Juli 2015 dan diteken 15 saudara-saudara HB Ka 10. Berbeda dengan surat pertama, dalam surat kedua ini, kakak-kakak maupun adik-adik HB Ka 10 tak lagi meminta
jadwal bertemu dengan saudaranya tersebut.

Terpisah, HB Ka 10 mengaku belum menerima surat dari empat saudaranya tersebut. Menurut dia, pihaknya dalam hal ini Keraton Jogja justru yang mengirimkan surat resmi kepada saudara-saudaranya tersebut. Namun saat didesak lebih jauh, HB Ka 10 mengingatkan persoalan itu bukan menjadi ranah masyarakat. “Itu bukan urusan publik. Nanti ada ruangannya sendiri,” ujarnya saat ditemui di Kepatihan kemarin. (pra/kus/ila/ong)