MUNGKID – Pemkab Magelang akan berkoordinasi dengan satuan kerja perangkat daerah (SKPD) untuk menyikapi organisasi masyarakat Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar). Tidak menutup kemungkinan, pemkab mengadakan rapat untuk membentuk tim khusus yang melibatkan Forum Pimpinan Daerah. Karena, ada warga di dua yang diduga terlibat ormas Gafatar.

Bupati Magelang Zaenal Arifin mengaku menerima laporan satu keluarga asal Candimulyo yang menuju Kalimantan. Mereka diduga bergabung Gafatar. Pihaknya akan berkoordinasi dengan instansi terkait.

“Nanti segera perintahkan sekretariat Forkompinda. Kami akan mengambil langkah-langkah agar Gafatar tidak berkembang di wilayah ini,” janji Zaenal kemarin (14/1).

Ia mengimbau warga meningkatkan kewaspadaan. Pihaknya meminta segenap perangkat desa, kecamatan, maupun Kesbangpol segera melaporkan bila ada kegiatan yang dianggap tidak wajar.

“Kami akan koordinasi dulu. Ketika dilaporkan ada orang hilang, hilangnya karena apa. Ini perlu didalami,” tegasnya.

Terkait PNS Pemkab Magelang yang diduga terlibat Gafatar, ia akan berkoordinasi dulu. Aturan disiplin ada di BKD. Gafatar bukan hanya kekhawatiran Kabupaten Magelang. Namun menjadi persoalan nasional dan menyangkut disintegrasi bangsa.

Sebelumnya, satu keluarga di Kecamatan Candimulyo pergi ke Kalimantan. Komari, 52 dan istrinya PNS di Puskesmas Candimulyo, Siswati, 49, serta menantunya Aya meninggalkan rumah menuju Kalimantan. Kepergian, keluarga ini diduga bergabung Gafatar.

Selain itu, tiga anak Komari, Agung Suliadi, 27; Dwi Cahyo Romadhon, 25; Ari Kusumawati, 23, dan menantunya, Aya yang sebelumnya mengontrak rumah di Klumprit, Desa Surojoyo, Kecamatan Candimulyo juga pergi.

Selain itu, Adi Kurniawan, warga Perumahan Lembah Asri, Mantenan, Mertoyudan juga dikabarkan meninggalkan keluarganya sejak Oktober 2015. Keluarga Adi memutuskan melaporkan ke kepolisian atas hilangnya anaknya itu.

Orang tua Adi Kurniawan, 27, yakni Muh Subari dan Siti Sugiarti berharap anak pertama dari empat bersaudara bisa kembali ke rumah. Siti Sugiarti mengatakan, Adi meninggalkan rumah sejak Oktober 2015. Ia meninggalkan saudaranya ke Jakarta dengan alasan bebekerja. Selang beberapa minggu, Adi tidak bisa dihibungi. Orangtuanya menyakini Adi bergabung Gafatar.

Feeling saya, ia masih di Jabar. Dalam mimpi, saya melihat dia kebingungan, antara mau pulang ke Magelang atau meninggalkan Gafatar,” ungkap Siti.

Kapolres Magelang AKBP Zain Dwi Nugroho berjanji menindaklanjuti laporan yang disampaikan orang tua Adi. Kepolisian melakukan kerja sama dengan instansi lain untuk melakukan pencarian. Polres Magelang juga berkoordinasi dengan Polda Jateng dan Polda lain.

“Kalau di Kabupaten Magelang, Gafatar tidak terdaftar di Kesbangpol,” katanya.(ady/hes/ong)