HENDRI UTOMO/Radar Jogja
DOA BERSAMA: Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo menghadiri mujahadah dan doa bersama di Masjid Al Barokah, Pedukuhan Bebekan, Desa Glagah, Kecamatan Temon, Kulonprogo, Rabu (13/1) malam.

KULONPROGO – Pemkab Kulonprogo menggelar mujahadah dan doa bersama di Masjid Al Barokah, Pedukuhan Bebekan, Desa Glagah, Kulonprogo, Rabu (13/1) malam. Kegiatan yang mengambil waktu malam hari itu, mengambil tema “Membangun Kebersamaan Menuju Masa Depan”. Hadir dalam kegiatan ini, para jamaah dari berbagai pondok pesantren dan seluruh elemen masyarakat.

“Kegiatan ini bertujuan memohon perlindungan, keselamatan, kemudahan, kelancaran, dan dijauhkan dari segala kendala dan mara bahaya, baik pemerintah maupun seluruh warga masyarakat Kulonprogo dalam melaksanakan pembangunan di berbagai bidang,” kata Ketua Panitia Penyelenggara Arif Prastowo.

Selain jamaah Masjid Al Barokah dan dari pondok pesantrendi Kulonprogo, kegiatan itu juga dihadiri Bupati Kulonprogo dr.H.Hasto Wardoyo,Sp.OG(K), Wakil Bupati Drs.H.Sutedjo, Forkopimda, dan segenap pimpinan SKPD di lingkungan Pemkab Kulonprogo.

Hadir juga dari Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika DIJ Sigit Haryanta, Kepala BPN DIJ, BPN Kulonprogo, Angkasa Pura I. Mujahadah dan doa bersama ini dipimpin KH Suhadi Ishomulhadi dari Pondok Pesantren Al Maunah Bojong Panjatan.

Dalam kesempatan itu, Bupati Hasto menyampaikan, Pemkab Kulonprogo terus melakukan langkah-langkah strategis untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya, tak terkecuali bagi warga terdampak bandara.

Terkait tenaga kerja, dalam minggu-minggu ini, pemkab melalui dinas terkait akan mendata potensi tenaga kerja di Kulonprogo. Kepala Desa dan Dukuh juga diminta bersama-sama mendata seluruh warganya yang memiliki potensi tenaga kerja dan ingin bekerja di bidang apa saat bandara terealiasi dengan mengisi form.

“Supaya saya dan jajaran saget mapanaken (bisa mengarahkan) cocoknya kerja di bidang apa jika bandara sudah terwujud,” katanya.

Ditambahkan, pihak Angkasa Pura sebagai pemrakarasa juga sudah menyatakan, tenaga kerja yang paling banyak dibutuhkan di bandara nantinya, bukan tenaga ahli sarjana, tetapi justru lulusan SMA, SMP ke bawah.

“Jika ternyata memang banyak tenaga kita belum sarjana, dapat bersama-sama meminta kepada Angkasa Pura untuk mendata kemudian bisa mulai menata tenaga kerja di wilayah Temon ini,” imbuhnya.

Mengutip pernyataan Wakil Presiden Jusuf Kalla jika sudah jadi, bandara di Kulonprogo ini lebih besar dari pada bandara di Surabaya, Makassar, Semarang, dan Bali. Bandara di Kulonprogo menjadi bandara terbesar nomor dua di pulau Jawa, yang tentunya akan memberi kesejahteraan kepada seluruh masyarakat Kulonprogo.

“Kita tidak nggege mongso, tetapi Insyaallah, jika bandara terwujud, warga masyarakat dapat sejahtera, makmur, dan diberi rezeki yang cukup. Mugi-mugi saget murakabi buat masyarakat (Semoda dapat bermanfaat bagi masyrakat),” ucapnya.

Bupati Hasto juga memaparkan, dalam pembangunan bandara, ada prosedur yang tidak bisa ditinggalkan. Salah satunya pengukuran danpendataan lahan. Seusai amanat undang-undang hal itu, juga untuk melindungi masyarakat agar mendapatkan haknya secara adil.

“Menawi wonten prosedur ingkang kirang sekeco, (jika ada prosedur yang tidak sesuai dengan keinginan masyarakat) atas nama pemerintah daerah, saya minta maaf. tetapi prosedur itu pada intinya untuk menegakkan keadilan,” paparnya.

Bupati Hasto menandaskan, Appraisal Independen sudah bisa turun melakukan penilaian, dan Angkasa Pura bisa menyelesaikan pembayaran, yang ditarget akan dimulai sekitar bulan Mei. “Relokasi juga sudah disiapkan, lokasinya tidak jauh, bahkan ada yang tetap di satu dusun, desa atau masih satu kecamatan,” tandasnya. (tom/jko/ong)