SETIAKY A. KUSUMA/RADAR JOGJ
 
SLEMAN – Mengantisipasi insiden teror seperti yang terjadi di kawasan Sarinah, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Polda DIJ meningkatkan pengamanan di beberapa lokasi. Begitu pula di Mapolda DIJ, di bagian pos pintu masuk berjaga petugas Brimob bersenjata lengkap. Selain itu, petugas juga memeriksa satu per satu identitas pengunjung.

Pengunjung yang menggunakan mobil diwajibkan turun dan seluruh barang-barang diperiksa menggunakan peralatan kaca, dan metal detector. Akses keluar masuk kendaraan ke Mapolda hanya bisa dilakukan di bagian depan.

“Brimob menjaga dan operasi terus, kita berharap Jogja aman. Upaya preventif dan pengamanan kita maksimalkan, semua kita jaga,” kata Wakapolda DIJ Kombes Pol Abdul Hasyim Gani kepada wartawan di Mapolda DIJ, Kamis (14/1).

Dia melanjutkan, semua kantor dan objek vital di Jogja diberikan pengamanan secara maksimal. Gani, sapaannya, berharap, kejadian di Jakarta tidak terjadi di Jogjakarta. “Semuanya, bukan hanya American Branded, tapi tempat umum lain dan fasilitas publik. Termasuk pusat-pusat keramaian kita amankan,” jelasnya.

Lebih rinci lagi, mengenai upaya pengamanan dari polisi, Gani mengatakan, hal itu dapat dilakukan dengan pengamanan terbuka atau tertutup. Yakni dengan petugas yang berseragam lengkap maupun dengan institusi intelijen.

“Jauh sebelumnya, Jogja telah siaga satu. Dimulai sejak awal Desember 2015, Natal, dan Tahun Baru. Ada perintah dari Mabes, sampai sekarang belum dicabut,” tandasnya.

Dia juga mengingatkan, polisi yang bertugas di lapangan telah dibekali dengan kemampuan sesuai standard operational procedure (SOP). Jika menjadi korban tindakan teror, maka hal itu termasuk risiko tugas. “Itu sudah jadi risiko pekerjaan. Tapi semua anggota telah kita bekali pengamanan yang baik. Termasuk pengamanan senjata, semua kita bekali,” tandasnya.

Kabid Humas Polda DIJ AKBP Anny Pudjiastuti mengatakan, pengamanan juga dilakukan tidak hanya di Mapolda tapi juga di tingkat Polres dan Polsek. Kepolisian mengimbau kepada masyarakat di tingkat kelurahan, RT, dan RW agar memiliki daya tangkal terhadap tindakan teror dan kriminalitas yang membahayakan. “Melaporkan jika mendapati orang asing atau kegiatan yang mencurigakan,” terangnya.

Di tempat terpisah, Gubernur DIJ Hamengku Buwono (HB) X mengaku terkejut dan prihatin dengan terjadinya serangan teror bom di kawasan Sarinah, Jakarta. HB X mengharapkan peristiwa kemarin merupakan kejadian yang pertama dan terakhir.

“Semoga ini sekali dan terakhir, tidak terulang lagi. Kasihan publik,” ujar HB X saat ditemui di Kepatihan, kemarin (14/1).

HB X meminta aparat keamanan dapat memastikan kemanan publik dan peristiwa serupa tidak terulang kembali. Menurutnya, jika aksi teror ini tidak segera diselesaikan dan diantisipasi, yang menjadi korban adalah masyarakat umum. Raja Keraton Jogja tersebut meminta aksi-aksi kekerasan tidak digunakan lagi. “Saya kira kekerasan-kekerasan seperti itu jangan lagi digunakan,” ujarnya. (riz/pra/ila/ong)