GUNAWAN/Radar Jogja
DITUTUP PAKSA: Proses penutupan BPR Agra Arthaka Mulya yang beralamat di Plumbungan, Gedangrejo, Karangmojo, kemarin (14/1). Lembaga keuangan tertua di Gunungkidul ini terpaksa ditutup oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), karena sudah tidak sehat lagi alias bangkrut.
 
GUNUNGKIDUL – Untuk pertama kalinya dalam sejarah perbankan di Gunungkidul, salah satu lembaga keuangan bernasib tragis. Bank perkreditan rakyat tertua, BPR Agra Arthaka Mulya di wilayah Jogjakarta terpaksa dicabut izin usahanya, karena dinyatakan pailit atau bangkrut.

Lembaga provit yang beroperasi sejak 1994 tersebut, akhirnya dinyatakan sebagai bank tidak sehat dan harus ditutup. Bank yang beralamat di Plumbungan, Gedangrejo, Gunungkidul itu dicabut izin usahanya oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terhitung sejak kemarin (14/1).

Pencabutan izin usaha BPR Agra Arthaka Mulya ini dilaksanakan oleh Dewan Komisioner OJK dengan surat nomor 01/KDK.03/2016. BPR ini merupakan bank kedua di DIJ yang dicabut izin usahanya karena tidak memenuhi persyaratan beroperasi.

Matinya bank yang pernah berjaya pada zamannya ini, ditandai dengan pemasangan papan kertas berisi tulisan kurang lebih bunyinya penutupan izin usaha. Pemasangan pengumuman pencabutan izin usaha dilaksanakan oleh perwakilan dari OJK, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) serta pihak kepolisian, sekitar pukul 11.00 WIB.

Saat menyegelan tanda ditutupnya perbankan tersebut, BPR ini masih beraktivitas. Para karyawan masih ngantor seperti biasanya. Namun ketika betugas memberi tanda penutupan, para karyawan hanya bisa membisu di dalam kanmtor. Mereka berkumpul dan menyaksikan aktivitas petugas dari dalam.

“Terhitung mulai 14 Januari, BPR Agra Arthaka Mulya tidak operasional lagi. Segala aktivitas diberhentikan dan asetnya diamankan oleh LPS,” kata Kepala Divisi Perencanaan Likuidasi LPS Yanuar Ayub Falahi kemarin.

Dia menjelaskan, pasca-pencabutan izin, LPS segera melakukan rekonsiliasi dan verifikasi atas data simpanan dan informasi lain. Dari data awal tim LPS, per 31 Oktober 2015, jumlah aset milik BPR Agra Arthaka Mulya mencapai Rp 22 miliar, kredit senilai Rp 26 miliar dengan jumlah debitur mencapai 945 orang. Selain itu nilai simpanan mencapai Rp 20,6 miliar dengan jumlah rekening 9.686.

“Selanjutnya, LPS akan menetapkan simpanan yang layak untuk dibayar atau tidak dibayar,” ujarnya.

Dia menjelaskan, seluruh aset milik bank nantinya akan dicairkan guna kepentingan membayar seluruh kewajiban bank. Sementara para karyawan yang jumlahnya sekitar 40 orang akan diberhentikan maksimal tiga bulan setelah pencabutan izin.

Kepala Divisi Pembayaran Claim LPS Aris Suseno mengatakan, setelah proses verifikasi selesai, segera dilakukan pembayaran kewajiban kepada seluruh nasabah. Kepada seluruh nasabah, diminta untuk tetap tenang dan tidak mudah terpancing provokasi.

“Kami usahakan dalam waktu satu atau dua minggu sudah bisa membayarkan. Nanti akan dilakukan secara bergelombang dengan diumumkan terlebih dahulu,” jelasnya.

Sesuai dengan aturan, masing-masing nasabah akan mendapatkan haknya maksimal Rp 2 miliar. Sementara nasabah yang memiliki simpanan di atas Rp 2 miliar, kekurangan pembayaran dilakukan jika pencairan aset sudah selesai dilaksanakan.

Pada bagian lain, salah seorang karyawan Surono mengaku pasrah. Petugas keamanan yang sudah bekerja 15 tahun tersebut mengetahui lokasi tempatnya sudah tidak sehat sejak 9 tahun lalu. “Tapi hingga sekarang saya masih menerima gaji,” kata Surono. (gun/jko/ong)