SLEMAN- Dua masalah harus dihadapi pemerintah dalam program swasembada pangan. Dua masalah itu adalah penyusutan lahan pertanian dan berkurangnya jumlah tenaga penggarap sawah.

Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (Dispertanhut) Sleman mendeteksi terjadinya penyusutan lahan pertanian minimal 100 hektare per tahun. Hal itu terjadi akibat alih fungsi lahan untuk pembangunan fisik. “Itu yang berizin. Yang tidak izin mungkin lebih banyak,” ungkap Kepala Dispertanhut Widi Sutikno kemarin (13/1).

Menurut Widi, luas lahan pertanian di Sleman saat ini sekitar 22.223 hektare. Jumlah tersebut bisa lebih sempit. Mengingat adanya lahan pertanian yang diubah untuk permukiman. Itu sering terjadi di kawasan pedesaan. Rumah warga dibangun di lahan bekas sawah tanpa izin.

Kendati begitu, Widi optimistis, 2016 Sleman tetap mengalami surplus beras. Meskipun harus menghadapi kendala jumlah tenaga penggarap lahan pertanian terus menurun. Widi belum mengetahui angka pasti jumlah tenaga pertanian. Hanya saja, saat ini warga usia produktif lebih memilih bekerja di pabrik atau usaha yang cepat menghasilkan uang.

Masalah jumlah tenaga penggarap disiasati dengan program bantuan alat dan mesin pertanian. Seperti yang sedang digenjot Kementerian Pertanian RI.

Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura Edy Sri Harmanta menambahkan, Sleman mengalami surplus beras hingga 107 ribu ton selama 2015.

Untuk mendongkrak hasil pertanian, dinas menyalurkan bantuan traktor roda empat, traktor roda dua, transplanter, dan pompa air. Sebagian besar bantuan berasal dari hibah APBN. Selain itu, pemerintah daerah juga mengalokasikan bantuan melalui APBD.

Edy yakin bantuan hibah bakal terserap maksimal seperti tahun lalu. Meskipun alokasi dana bantuan pengurusan badan hukum kelompok tani pada APBD 2016 dicoret Pemda DIJ.

Saat ini sedikitnya 60 kelompok tani telah berbadan hukum. Pada 2016 jumlah kelompok berbadan hukum diyakini bakal bertambah. “Kami mendorong kelompok mengurus badan hukum secara mandiri. Responnya bagus,” katanya.

Edy mengimbau para petani menjalankan teknik penanaman dan pemupukan secara optimal. Misalnya, sistem pola tanam jajar legawa dengan pemupukan berimbang perbandingan 5:3:2 untuk pupuk organik: NPK/Phonska: urea per hektare lahan.

Jika kondisi lahan didukung pengairan yang baik, petani lebih disarankan menerapkan sistem mina padi.(yog/din/ong)