JOGJA – Penderita demam berdarah tahun 2015 lalu, naik drastis dibanding 2014. Dari 418 kasus pada tahun 2014, menjadi 945 kasus dengan angka kematian 11 orang di tahun 2015. Sedangkan, endemisnya hampir seluruh kelurahan rawan menjadi daerah endemis.

Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jogja Yudiria Amelia mengungkapkan, adanya lonjakan tersebut di luar prediksi. Apalagi sampai menembus ribuan kasus. “Tapi bersyukur masih terkendali. Tidak seperti lima tahun lalu,” ujarnya, kemarin (14/1).

Tahun lalu, lanjut dia, wilayah endemis tinggi, juga mengalami perubahan. Jika 2014 kasus tertinggi di Wirobrajan, Wirogunan, Sorosutan dan Mantrijeron, maka tahun lalu (2015) empat kelurahan endemis tinggi bergeser jadi Sorosutan, Klitren, Muja-muju, dan Kricak.

“Daerah dengan endemis tinggi harus gencar melakukan antisipasi. Namun penderita yang meninggal dunia juga jadi pencermatan kami, apakah ada keterlambatan penanangan atau seperti apa,” imbuhnya.

Sesuai dengan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, kasus demam berdarah mulai ditemukan Januari hingga Maret. Ini bersamaan dengan intensitas musim hujan yang ikut meningkat. Sedangkan berdasarkan golongan umur, penderita tertinggi usia 7-12 tahun.

Tingginya kasus demam berdarah hingga angka kematian yang mencapai 1 persen, turut menjadi perhatian Pemprov DIJ. Menurut Yudiria, Gubernur DIJ, merekomendasikan agar community deak atau kesepakatan antar masyarakat di lingkungan masing-masing kembali digalakkan.

“Tanpa didasari, kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungannya setempat, maka kasus demam berdarah sulit dikendalikan. Kami juga akan mengerahkan segala sumber daya guna mengantisipasi kejadian luar biasa,” tambahnya.

Di samping itu, setiap gejala yang mirip dengan demam berdarah, harus segera diperiksakan ke fasilitas layanan kesehatan. Gejala tersebut berupa suhu badan meningkat atau demam hingga tiga hari. Apalagi, jika sempat terjadi penurunan suhu, namun kemudian kembali meningkat. “Hingga awal Januari tahun ini, sudah ada 10 kasus demam berdarah,” katanya.

Direktur Utama RS Jogja Tuty Setyowati meminta masyarakat untuk mengecek jika ada anggota kelurga yang mengalami demam lebih dari tiga hari. Ini agar, kondisi pasien saat dimasukkan ke RS bisa bertahan. “Jangan menunggu parah baru diperikasakan, agar bisa segera mendapatkan perawatan,” ujranya. (eri/jko/ong)