DWI AGUS/Radar Jogja

Terkendala Modal, Satu Hari hanya Satu Lembar Kain

Gunungkidul tidak hanya terkenal dengan keindahan wisata alamnya. Kabupaten ini juga terkenal dengan sentra kain tenunnya. Ini terletak di Dusun Mundon, Tancep, Ngawen, Gunungkidul. Di desa ini, terdapat puluhan perajin tenun, salah satunya Ngadinem Warso Dimejo yang berusia 70 tahun.

DWI AGUS, Gunungkidul

MENUJU salah satu sudut Gunungkidul, Radar Jogja tertarik akan eksotisme Dusun Mundon, Desa Tancep, Kecamatan Ngawen, Kamis (14/1). Bukan wisata alam, atau potensi alam, justru desa ini terasa tenang dan sunyi. Meski begitu, beberapa kali terdengar suara tek..tek..tek di setiap rumah.

Mendekati salah satu rumah, terlihat seorang perempuan tua duduk di teras rumahnya. Perempuan bernama Ngadinem Warso Dimejo ini terlihat sibuk dengan alat tenun gendongnya. Dengan telaten, dia menyatukan helai tiap helai benang hingga menjadi sebuah tenunan.

Monggo mas mlebet rumiyin, ngapunten kula ngrampungke niki rumiyin njih (Silakan mas, masuk dulu, mohon maaf saya selesaikan ini dulu ya),” kata perempuan tua yang akrab disapa Mbah Warso ini dalam bahasa Jawa.

Nenek berusia 70 tahun ini merupakan salah satu perajin tenun di Dusun Mundon. Meski tak lagi muda, tangan keriputnya tetap sigap. Bahkan warga RT 01 RW 14 ini menjadi satu-satunya perajin tenun gendong di desanya.

Warso mengaku sudah sejak lama menggeluti dunia tenun. Kurang lebih sudah 55 tahun dirinya bergulat dengan kain tenun. Keahlian tenun kain ini didapatkan dari turun temurun. Sehingga ibu lima anak ini wajib meneruskan warisan nenek moyangnya.

“Sudah sejak usia 15 tahun belajar tenun. Dari simbah saya, lalu ibu dan sekarang ke saya. Tetap mempertahankan tenun tradisional, karena ini warisan yang wajib dijaga,” ungkapnya.

Untuk merampungkan satu lembar kain tenun, Warso membutuhkan waktu 1 hingga 3 hari. Namun jika tidak ada kegiatan lain, kain tenun bisa diselesaikannya dalam satu hari. Untuk merampungkan satu kain ini menurutnya diperlukan kesabaran dan ketelatenan.

Menurutnya tenun tradisional memerlukan proses yang panjang. Mulai dari membeli bahan baku benang, lalu dipintal. Selanjutnya pintalan benang ini diramu hingga menjadi selembar kain tenun. Proses ini lebih lama dibanding kain tenun hasil Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM).

“Kalau pakai tustel (ATBM) lebih cepat jadinya. Beda dengan tenun gendong karena prosesnya lebih tradisional lagi. Tapi dari semua alat ini tetap mengajarkan kesabaran untuk hasil yang bagus,” ungkapnya.

Wajah Warso pun berubah sayu ketika menceritakan perjuangannya melestarikan tenun lurik. Sebagai perajin rumahan, Warso tidak bisa menghasilkan kain dalam jumlah besar. Di sisi lain, modal menjadi momok utama untuk menghasilkan kain tenun.

Dirinya mengaku tidak setiap hari bisa menghasilkan kain tenun. Jika ada modal dirinya baru bisa merampungkan selembar kain tenun. Jika tidak ada, dirinya lebih memilih untuk mengurus hewan ternak miliknya.

Terlebih nenek tua ini hidup sendiri di rumahnya. Sang suami yang bernama Warso sudah meninggal dua tahun lalu. Hal ini yang membuat nenek tua ini berkurang produktivitasnya. “Biasanya mbah akung (suami) yang mengantar saya mencari bahan di Pasar Cawas Klaten. Kadang naik bus kadang naik sepeda ke pasar berdua saja. Kalau untuk modal sebenarnya ada tawaran koperasi. Tapi tidak berani ambil karena takut tidak bisa mengembalikan,” kisah nenek yang sudah memiliki 16 cucu ini.

Alasan Warso sangat masuk akal. Untuk satu lembar kain tenun sangat tidak sebanding dengan biaya produksinya. Namun dirinya harus tetap melakoni rutinitas ini. Pertama untuk melestarikan budaya tenun, kedua untuk menyambung hidup.

Menyambung hidup pun cenderung jangka pendek. Di mana pemasukan hari ini hanya bisa untuk menyambung hidup esok harinya. Untuk menjual, Warso mengandalkan pengepul yang kerap datang ke rumahnya. “Ada hari pasarannya biasanya Pahing dan Kliwon. Kalau pengepul biasanya datang setiap pasaran Legi dan Wage. Satu lembar kain tenun gendong dihargai Rp 25 ribu, sedangkan kalau ATBM Rp 7.500,” ungkapnya.

Sebenarnya Warso tidak sendiri dalam melakoni tenun ini. Anak ketiganya Sumiyati juga melakoni kerajinan yang sama. Bedanya sang anak menggunakan ATBM sebagai perajut kain tenun.

Sama halnya dengan sang ibu, perempuan berusia 40 tahun ini mengaku modal menjadi kendala utama. Jika tak ada modal, dirinya lebih memilih menggarap sawah. ATBM akan kembali berfungsi ketika ada modal untuk merajut kain tenun.

Ditanya tentang kepedulian pemerintah, Sumiyati sedikit mengiyakan. Salah satu bentuk kepedulian adalah memberikan bantuan ATBM. Namun sayangnya alat tenun ini tidak sesuai spesifikasi yang dibutuhkan.

“Kalau bantuan koperasi memang ditawarkan, tapi tidak kami ambil. Alasannya sama seperti simbok (Warso), takut tidak bisa mengembalikan. Sedang untuk ATBM dikasih juga, tapi kekecilan, hanya bisa membuat stagen saja,” ungkapnya.

Kain-kain tenun yang dihasilkan keluarga ini memang berbeda. Karena peruntukannya sebagai kain tenun gendong bukan stagen. Uniknya dari segi harga, baik itu kain produksi kualitas terbaik dan standar justru sama saja.

“Kalau hitunganya pakai gendok, satu gendok itu ada dua lembar kain tenun. Panjang 3 meter dengan lebar 60 cm. Dilemanya harga yang kain bagus dan yang standar sama saja. Terus di sini kami juga tidak punya ruang untuk pamer, langsung ke produksinya,” imbuh perempuan berusia 40 tahun ini.

Meski banyak kendala, baik Warso maupun Sumiyati tetap bertahan melestarikan kain tenun. Untungnya belum lama ini ada angin segar menerpa mereka. Kepedulian ini datang dari salah satu importir yang berasal dari Jepang.

Selain memborong kain tenun produksi, importir ini juga memberikan dana. Tidak hanya kepada Warso dan Sumiyati, juga perajin lainnya. Secara berkala hasil produksi kain diambil dan dikirim ke Jepang.

“Cukup membantu dengan adanya kepedulian ini. Dari kain tenun ini bisa menjadi beragam produksi kerajinan. Mulai dari tas, dompet hingga tempat pensil. Saya berharap kepedulian untuk melestarikan tidak hanya dijaga oleh kami para perajin tenun,” harap Warso. (jko/ong)