PADA bagian lain, para pelaku usaha travel agent di Jogjakarta mengharapkan, peristiwa teror bom di Ibukota Jakarta tidak berpengaruh ke dunia pariwisata di Jogjakarta. Apalagi secara nasional, tanda-tanda dampak tersebut sudah dirasakan missal untuk Jakarta dan Surabaya.

“Sudah ada beberapa pembatalan kunjungan wisatawan, terutama ke Jakarta. Dari informasi dari pengurus Asita, rencana kunjungan dan acara di Jakarta dialihkan ke Bali. Ada juga kapal pesiar yang rencananya mau merapat ke Surabaya, batal,” kata mantan ketua Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) DIJ Edwin Ismedi Himna, kemarin (15/1).

Untuk itu, pemilik Trends Tour ini berharap pemerintah segera menyatakan jaminan keamanan di Indonesia, sehingga tidak ada ketakutan wisatawan untuk datang. Travel Agent, jelas dia, tidak terlalu berani promosi ke luar negeri sebelum ada jaminan keamanan dari pemerintah. “Pemerintah harus cepat keluarkan statement,” ujarnya.

Meskipun begitu, dia mengapresiasi respons dari masyarakat, terutama di media sosial yang banyak mengkampanyekan tentang keamanan di Indonesia. Edwin menambahkan, sebenarnya kekhawatiran pasca ledakan bom kemarin, bukan saat ini, tapi pada bulan depan.

Pada Februari terdapat liburan Imlek, di mana biasanya banyak wisman dari Tiongkok, Singapura dan Malaysia yang melakukan kunjungan. “Sebenarnya yang kita takutkan bulan depan, kalau belum ada jaminan keamanan, bisa jadi mereka batal datang,” tuturnya.
Terpisah, Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) DIJ Aris Riyanta mengatakan, dampak teror bom Jakarta belum dirasakan di DIJ. Berdasarkan laporan yang diterima dari travel agent di DIJ, belum ada pembatalan kunjungan wisatawan ke DIJ. “Orang ke Jogja tetap seperti biasa,” ujar Aris saat ditemuai di PDRD DIJ, kemarin (15/1).

Kalau pun saat ini agak sepi kunjungan wisata, lebih dikarenakan sebagai siklus tahunan, di mana saat awal tahun (pasca perayaan tahun baru) mengalami low season. “Baru ramai berdatangan saat weekend saja,” tandas Aris.

Dia menambahkan, masa low season ini juga berlaku untuk wisman, apalagi bagi wisman asal Eropa. Menurut dia, dari siklus wisata ke DIJ, untuk wisman baru akan ramai saat pertengahan tahun nanti. Dari grup Whatsapp Kementerian Pariwisata yang diikutinya, juga akan ada pernyataan resmi tentang keamanan di Indonesia.

“Kemarin kan juga sudah ada pernyataan resmi tentang kondisi keamanan Indonesia, nanti akan ada pernyataan lagi yang menguatkan,” ungkapnya.

Maraknya broadcast yang menyebutkan tentang kondisi dan imbauan untuk menghindari lokasi-lokasi tertentu, seperti outlet-outlet luar negeri, diyakininya juga tidak banyak pengaruh. Menurut dia, pasca peristiwa kemarin, aparat keamanan diyakini telah meningkatkan keamanan di titik-titik strategis. “Kesiapsiagaan tentu harus ditingkatkan, di DIJ saya yakin tetap aman dan nyaman, tidak ada gejolak yang membuat wisatawan batal datang,” katanya.

Berdasarkan data Dispar DIJ, kunjungan wisman ke DIJ selama 2015 lalu meningkat sekitar 17 persen atau sekitar 281 ribu dari sebelumnya (2014). Sedang untuk wisatawan domestik meningkat 21 persen atau sebanyak 3,4 juta orang dari sebelumnya 3,1 juta orang. (pra/jko/ong)