RADAR JOGJA FILE
POTENSIAL: Seorang petani ikan di Sleman sedang menebar pakan di sebuah kolam pembesaran.

SLEMAN- Harga komoditas daging ayam masih belum stabil. Bahkan cenderung merangkak naik hingga tembus Rp 38 ribu per kilogram sejak seminggu lalu. Bukan hanya konsumen yang mulai mengeluhkan tingginya harga salah satu barang kebutuhan pokok itu. Para pedagang pun mulai resah.

Kini, untuk memenuhi kebutuhan protein hewani. Sebagian warga Sleman cenderung beralih ke ikan air tawar, terutama nila yang harga di tingkat petani Rp 26 ribu per kilogram. Selain nila, lele kian menjadi favorit. Ikan yang paling banyak dijual di warung-warung tenda itu hanya Rp 22 ribu per kilogram.

“Heran, kok, harga (ayam) malah naik. Dari produsennya sudah mahal,” ungkap Himawan, 40, pedagang ayam pedaging di Sleman kemarin (17/1). Himawan khawatir, jika harga daging ayam tidak segera turun, dia bakal kehilangan konsumen.

Suranto, pengelola Kelompok Budidaya Ikan Mina Kepis, Burikan, Sumberadi, Mlati membenarkan adanya tren kenaikan kebutuhan ikan air tawar sejak akhir Desember 2015.

Tak tanggung-tanggung, kenaikan penjualan mencapai lebih dari separo dibanding dua bulan lalu. Suranto mencatat, nilai penjualan pada November 2015 mencapai Rp 171 juta. Angka tersebut naik menjadi Rp 268 juta di bulan berikutnya.

Memasuki Januari 2016, hingga kemarin, nilai penjualan mencapai lebih dari Rp 114 juta. “Memang signifikan naiknya. Nila paling banyak dicari untuk ikan konsumsi” ungkapnya.

Menurut Suranto, kenaikan permintaan lebih banyak dari perseorangan (rumah tangga). Permintaan dari rumah makan/restoran cenderung tetap.

Suranto mengakui bahwa lonjakan permintaan ikan akibat kenaikan harga daging ayam. Informasi itu diperolehnya dari pelanggan baru.

Kabid Perikanan, Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Slemn Suparmono menuturkan, tren kenaikan harga daging ayam justeru menjadi momen untuk mendongkrak produktivitas ikan. Terlebih, saat ini pemerintah sedang gencar mengampanyekan kegiatan gemar makan ikan sebagai sarana murah memenuhi kebutuhan gizi dan protein.

Hasilnya, berbanding lurus dengan penghasilan petani ikan.

“Mereka lebih sejahtera. Apalagi, permintaan pasar kerap lebih besar dari hasil produksi,” ucapnya. Kondisi pasar didukung oleh cuaca dengan curah hujan cukup tinggi. Hal itu berpengaruh pada petumbuhan ikan produksi.(yog/din/ong)