JOGJA – Kasus hilangnya orang di Jogja terus bermunculan. Kali ini, guru bahasa Inggris Istiana, 42, melaporkan putri bersama suami dan anak, serta empat kerabatnya menghilang. Diduga mereka ikut eksodus ke Kalimantan.

Warga kampung Demangan, Gondokusuman ini merasa sangat terpukul dengan kepergian putri sulungnya, Dina Aktrissita Santoso, 18. Menurut Istiana, putrinya pergi tanpa pamit bersama suami dan anaknya yang masih balita.

Sudah lapor ke Polda DIJ pada 11 Januari 2016 lalu, tapi hingga saat ini belum ada kabar kelanjutannya,” ujar guru di SMP Muhammadiyah 6 Jogja, Sabtu (16/1) lalu.

Istiana menuturkan, putri sulungnya itu bekerja sebagai karyawan tetap di sebuah bank pemerintah. Sudah sekitar 10 tahun putrinya bekerja di bank, sehingga Istiana merasa tidak nalar jika putrinya tersebut pindah ke Kalimantan dengan alasan mencari pekerjaan yang lebih baik.

Dikisahkan, Dina Aktrissita Santoso menikah dengan Deky Kurniawan, 20, pada tahun 2012 dan dikaruniai satu anak, Ken Avantie yang masih berumur 2,5 tahun.

Deky selama ini diketahui bekerja sebagai desainer. Pada 29 Desember 2015, Deky pamit hendak pindah ke Kalimantan untuk mencari pekerjaan yang lebih baik. Namun, belum sempat diizinkan, keesokan harinya pada 30 Desember 2015, Deky bersama Dina dan anaknya sudah tak berada di rumahnya di Perumahan Giwangan Asri, Bantul.

Istiana juga mencoba memastikan kepergian anaknya itu kepada salah seorang kerabatnya, Kismiyati, 21, yang merupakan adik dari Deky Kurniawan. Namun, ternyata Kismiyati dan suaminya Yanuar Aziz, 30, bersama anak Satrio Javas Wirasana, 4, juga diduga turut pindah ke Kalimantan.

Istiana menuturkan, dia juga mencoba memastikan keberadaan anaknya dan bertanya kepada besannya Sri Mulyani, 56. Namun, sang besan ternyata sudah mengajukan pensiun dini sebagai PNS di Kabupaten Bantul dan ikut pindah ke Kalimantan.

“Kami tahu jika mantu saya (Deky Kurniawan) merupakan anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) dari salah satu kerabat. Selain itu, di akun Facebook Deky juga menunjukkan aktivitasnya sebagai tokoh Gafatar. Berharap kepolisian bisa menemukan anak saya,” ungkapnya.

Sementara itu, kasus orang hilang yang diduga bergabung dengan Gafatar menjadi sorotan MUI DIJ. Ketua MUI DIJ Thoha Abdurrahman bersama Kesbangpol DIJ mengadakan Forum Group Discussion (FGD) Minggu (17/1) kemarin. MUI DIJ telah melayangkan surat ke Polda DIJ, di mana dalam surat tersebut menerangkan Gafatar adalah merupakan metamorfosa dari Komunitas Milah Abraham. Milah Abraham sendiri merupakan kelanjutan dari al-Qiyadah al Islamiyah yang sudah dinyatakan sesat oleh MUI DIJ sejak 28 September 2007 silam. (sky/ila/ong)