Hendri Utomo/Radar Jogja
NGURI-URI BUDAYA: Suasana lomba MC berbahasa Jawa untuk para tunanetra di Aula Dinsosnakertrans Kulonprogo, Sabtu (16/1). Lomba diikuti 30 peserta dari seluruh DIJ.

Semangat Berlomba Jadi MC Bahasa Jawa Terbaik Se-DIJ

Tidak perlu saling tunjuk atau melempar tanggung jawab untuk urusan melestarikan budaya. Maka, salut dan acungan jempol pantas diberikan kepada Dewan Pengurus Cabang (DPC) Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Kulonprogo yang sukses menggelar lomba MC berbahasa Jawa. Seperti apa suasananya?

HENDRI UTOMO, Kulonprogo

ADA yang hebat dan menarik di Aula Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kulonprogo, Sabtu (16/1). Puluhan penyandang tunanetra se-DIJ saling bersaing menjadi yang tertbaik dalam lomba master of ceremony (MC) berbahasa Jawa yang dihelat DPC Pertuni Kulonprogo.

Keterbatasan yang mereka miliki tidak sedikitpun mengurangi semangat dan kenginan untuk nguri-uri (melestarikan) budaya Jawa. Satu persatu mereka maju ke depan, menunjukkan yang terbaik di depan dewan juri dan meraih sambutan serta tepuk tangan dari penonton.

Tidak hanya fasih menggunakan bahasa adat dan tampil lengkap dengan pakaian Jawa. Mereka juga tidak menanggalkan sikap sopan santun, membungkukkan badan ketika mengakhiri penampilan seraya mengucap terima kasih. Sebuah sikap luhur yang kadang orang yang utuh fisik sering lupa melakukannya.

Sikap sempurna itu sempat dipraktikan Pardiyono, 48, warga Senoboyo, Sidoagung, Godean, Sleman. Peserta lomba MC bahasa Jawa dengan nomor urut 22 itu sudah tidak mampu melihat sejak puluhan tahun silam. Saat-saat tertentu ia juga selalu membutuhkan pendamping.

Semangatnya luar biasa. Ia tidak luruh kendati harus menunggu lebih dari empat jam untuk menunjukkan kemampuan membawakan acara bertema peringatan ulang tahun Pertuni. “Saya baru tampil sekitar 13.30 WIB, sampai sini tadi sekitar jam 09.00 WIB,” terang bapak satu anak itu.

Pardiyono menjelaskan, untuk mengukti lomba kali ini ia tidak melakukan persiapan khusus. Melainkan hanya merancang naskah MC dalam bahasa Jawa dan membacanya beberapa kali sebelum tampil. Di atas panggung ia hanya diberikan waktu 10 menit, dengan waktu yang mepet itu ia sudah hafal dan tidak perlu naskah dalam huruf braille lagi.

“Naskah saya buat sendiri, tadi ada salah sedikit seharusnya nglajengaken tapi malah saya sampaikan nglanjutaken,” ucap wakil ketua DPC Pertuni Sleman ini sambil tersenyum.

Pardiyono menuturkan, dewasa ini sudah jarang generasi muda yang peduli atau mempraktikan bahasa Jawa dalam kehidupan sehari-hari. Hal itu yang menyebabkan pelestarian bahasa Jawa sangat perlu dilakukan. Kendati bahasa persatuan juga harus dijunjung tinggi, termasuk bahasa internasional agar tidak ketinggalan zaman.

“Seharusnya orang tua juga mengenalkan bahasa daerah kepada anak-anaknya sejak dini. Saya juga menerapkan itu kepada anak saya yang kini sudah berusia 22 tahun. Sejak kecil sudah saya biasakan berbahasa Jawa. Bahasa Jawa itu harus banyak latihan, karena banyak jenisnya dan tata cara penyampaian serta pengucapannya,” tuturnya.

Peserta lainnya, Maryono mengungkapkan hal senada. Sebagai tuan rumah ia mengaku senang dengan antusiasme peserta. Menurutnya, masyarakat boleh saja menguasai berbagai bahasa asing di dunia. Namun, bahasa daerah tidak boleh ditinggalkan.

“Boleh saja punya bahasa persatuan dan bisa bahasa Inggris atau bahasa lainnya. Tapi jangan lupa kalau kita juga punya budaya lokal dan bahasa daerah,” ucap Ketua DPC Pertuni Kulonprogo itu.

Dijelaskan, selain memeriahkan peringatan HUT Pertuni ke-50, lomba MC berbahasa Jawa juga menjadi bentuk kepedulian akan kelestarian bahasa daerah. Sedikitnya ada 30 pendaftar sebagai peserta dan berasal dari seluruh kabupaten/kota seluruh DIJ.

“Ya semua tunanetra, yang tidak hafal boleh bawa naskah braille ke atas panggung, yang penting semangatnya,” tandasnya. (laz/ong)