Konsisten Sampaikan Pesan Keagamaan pada Masyarakat Menoreh

Salah satu bait Sholawatan Bangilung, kalau kita sudah berhenti, kita berdiri. Kalau kita sudah berhenti, sudah rampung kerjanya, betul. Ini sangat familier. Ya, itulah Sholawatan Bangilung, kesenian tradisional dari Perbukitan Menoreh. Kesenian ini bertahan untuk menjaga kebudayaan dan peninggalan nenek moyang.

ADIDAYA PERDANA, Mungkid

Nada dan syair yang menggelitik tersebut berpadu iring-iringan gamelan dan alat musik tradisional. Di atas panggung, 10 penari menunjukkan tari-tarian yang menarik perhatian penonton. Memang, tak banyak gerakan yang dimainkan. Hanya geleng-geleng kepala dan gerakan maju mundur. Sesekali di antara mereka, saling memutar untuk variasi gerakan.

Kesenian ini dimainkan para laki-laki. Mulai anak-anak, dewasa, hingga orang tua ikut menampilkan kebolehannya. Rata-rata dari mereka mengenakan kaca mata hitam dipadu seragam yang warna-warni.

Meski nama kelompok ini terkesan asing, sebenarnya mereka konsisten menyampaikan pesan-pesan keislaman pada masyarakat. Khususnya masyarakat di Perbukitan Menoreh. Selain bait di atas, ada lagu khusus yang mengandung pesan pada masyarakat, terkait kondisi dunia saat ini. Yakni, Ngilingono donyanipun sampun akhir. Hai menungso podholah mikir. Syair itu jika diartikan, memperingatkan bahwa dunia sudah tua. Para manusia, diajak untuk bersama-sama berpikir untuk tobat.

“Pesan ini memang mengingatkan manusia untuk selalu berpikir, menanggapi dunia yang sudah berumur,” ungkap Pitoyo, 37, salah satu pemain Sholawatan Bangilun, kemarin (17/1).

Kesenian tradisional Sholawatan Bangilun merupakan perpaduan seni gerak dan lagu. Pesan yang mereka sampaikan berisi petuah agama. Sholawatan Bangilun merupakan kesenian tradisional yang diyakini lahir di Dusun Wonosoko, Desa Ngargoretno, Salaman sejak dulu. Seni tari dan lagu itu syairnya berisi petuah agama dan petunjuk untuk berbuat kebaikan.

“Tentang kapan lahirnya kesenian ini, kami tidak tahu secara pasti. Ini peninggalan secara turun temurun dari nenek moyang,” lanjut Pitoyo.

Mereka yang kini mempertahankan tari dan sholawatan merupakan Grup Sukosari Budhoyo yang sekarang masih eksis dibentuk sejak 2007. Mereka yang merupakan generasi ketiga ini, terus berlatih dan tampil ke wilayah di sekitar Menoreh.

Di dalam grup seni tersebut juga ada ayah Pitoyo, yang bernama Mulyono, 70. Mulyono menjadi sesepuh sekaligus pelatih kesenian langka itu. Mulyono juga menjadi instruktur di sejumlah kelompok seni serupa di luar desa itu.

“Banyak desa lain yang berguru Sholawat Bangilun ke sini. Gurunya adalah bapak saya,” ungkap Pitoyo.

Setiap pentas kesenian ini, waktu bermainnya tergantung permintaan. Jika dirata-rata, mulai pukul 22.00 selesai pukul 02.00. Selain geleng-geleng, gerakan tarinya ada yang seperti bermain silat, karate, dan bermain api. Ada juga adegan pondhongan. Yakni, satu orang pemain mengangkat empat pemain lainnya. Mereka menari diiringi syair lagu yang mengingatkan umat Islam untuk lebih beriman.

“Saat adegan khusus Pondhongan, ini menunjukkan keperkasaan lelaki yang sportif dan punya tanggung jawab besar. Gambaran sikap ksatria seorang lelaki diperlihatkan dalam seni tradisional ini,” urai Pitoyo.

Menurutnya, ada ratusan syair lagu yang terangkum dalam sebuah buku khusus dengan tulisan huruf arab. Meski ada ratusan syair lagu, tidak semua bisa ditampilkan. Mengingat waktu tampil dibatasi waktu.

“Untuk melestarikan seni budaya, kini ada pemain generasi baru. Yakni sejumlah anak usia sekolah lanjutan tingkat pertama,” katanya.

Salah satu Tokoh Pemuda Ngargoretno Soim menambahkan, kesenian Sholawatan Bangilun merupakan peninggalan nenek moyang. Selain mempertahankan kebudayaan asli pribumi, kegiatan ini juga untuk mengurangi kebudayaan asing yang masuk ke Ngargoretno. Nantinya, melalui kegiatan tersebut, pemuda desa lebih peduli dengan kesenian asli peninggalan leluhur.(hes/ong)