SESUAI PAKEM ASLI: Sujiwo Tejo ketika membawakan lakon Ramayana di Auditorium Driyarkara Universitas Sanata Dharma Jogjakarta, Jumat malam (15/1) lalu.

Tak Lagi Slengekan saat Ndalang, Upaya Melestarikan Wayang

Seni dan budaya tidak hanya produk kearifan lokal semata. Bagi seniman dan budayawan Sujiwo Tejo, seni budaya adalah tonggak utama suatu bangsa. Terutama kesenian tradisi yang kaya nilai dan makna. Maka tak heran jika akhir-akhir ini, dia kerap menampilkan wayang sesuai pakem aslinya.

DWI AGUS, Sleman

BICARA seni tradisi, tentunya bicara produk budaya bangsa yang sangat kompleks. Sayangnya, seni tradisi masih dianggap sebagai suatu hal yang kuno dan ketinggalan zaman. Padahal, seni budaya tradisi merupakan salah satu pondasi identitas bangsa.

Lebih prihatin lagi, generasi muda tak lagi menaruh perhatian terhadap pelestarian seni tradisi. Namun, mereka baru berteriak ketika ada satu kesenian yang diklaim oleh negara lain.

“Mengetahui generasi muda yang tidak suka melihat wayang saya sedih. Wayang itu kaya, banyak inspirasinya. Seakan kita jadi bangsa yang minder, tidak percaya diri dengan kekayaan seni budayanya sendiri,” ungkap seniman sekaligus budayawan Sujiwo Tejo di Auditorium Driyarkara Universitas Sanata Dharma Jogjakarta, Jumat malam (15/1).

Kehadiran Sujiwo Tejo malam itu bukannya tanpa tujuan. Penulis Wayang Durangpo di Jawa Pos itu tengah membawakan wayang dengan lakon Ramayana dalam rangka Inisiasi Sanata Dharma (Insadha). Berbeda dengan penampilan sebelum-sebelumnya yang terkenal slengekan, Sujiwo Tejo mendalang sesuai dengan pakem asli.

“Generasi yang malu terhadap seni tradisi sejatinya tidak memiliki identitas diri. Senang terhadap budaya asing tidak apa-apa, tapi jangan lupa kekayaan yang kita miliki,” pesan pria kelahiran Jember, Jawa Timur, 31 Agustus 1962 ini.

Hal itu diungkapkan Sujiwo Tejo dihadapan penonton yang mayoritas adalah mahasiswa angkatan baru. Dia kerap menemui sejumlah event dari budaya asing yang justru banjir penonton. Berbeda dengan pementasan seni tradisi yang hanya segilintir orang saja yang melihat.

Namun, dia menampik jika seni tradisi, khususnya wayang kulit, ditinggalkan.

Menurutnya, sudut pandang ini kerap dihembuskan oleh media massa. Cara pandang dan pemberitaan ini menurutnya kurang tepat. Faktanya, wayang kulit tetap memiliki massa. Dianggap mulai ditinggalkan karena porsi pemberitaan yang justru tidak berimbang. Pengalaman selama menjadi dalang, khususnya di pedesaan, penonton pasti membeludak.

“Ini kalau kita melihat fakta di media massa ya anggapannya gitu, ditinggalkan. Kesan itu muncul karena tontonan wayang jarang diberitakan, tapi faktanya penontonnya tumbuh di daerah. Salah satu indikasi arus komunikasi di Facebook kencang sekali,” ungkapnya.

Sujiwo Tejo sendiri belakangan ini mengubah kebiasaannya saat mendalang. Jika sebelumnya kerap tampil di luar pakem pertunjukan wayang kulit. Kini, dia kembali menampilkan wayang kulit sesuai pakem aslinya. Menurutnya, perubahan ini sebagai upaya untuk melestarikan kesenian wayang yang asli. “Saat ini wayang kulit telah bergeser,” ungkapnya.

Ini berdasarkan konsep pementasan maupun esensi asli dari wayang kulit. Jika dahulu wayang kulit dianggap sebagai budaya warisan nenek moyang. Saat ini justru bergeser seakan menjadi budaya asing di tanahnya sendiri.

“Zaman dulu wayang kulit hadir dengan keasliannya. Saat ini kok saya rasa banyak yang dihilangkan dan dibenturkan dengan agama. Padahal kesenian ini sudah ada sebelum agama masuk ke Nusantara. Harusnya jalan beriringan,” ungkapnya.

Terpisah, Ketua Inisiasi Sanata Dharma (Insadha) Aloysius Bagus Cahyadi menjelaskan, kehadiran Sujiwo Tejo untuk membuka mata generasi muda. Sebagai sosok yang kritis dan cinta terhadap budaya tradisi Indonesia. “Beliau adalah sosok inspiratif yang memiliki pemikiran yang luas,” terangnya.

Dia mengungkapkan, dipilih Sujiwo Tejo untuk tampil karena konsistensinya terhadap seni budaya yang sangat tinggi. Tujuannya agar teman-teman mahasiswa melihat kesenian sebagai wujud yang kompleks. “Tidak hanya sebagai produk budaya tapi juga makna dibaliknya,” tutupnya. (ila/ong)