GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
RUANG PUBLIK DADAKAN: Warga berfoto di sisi atas taman parkir portabel ABA, Minggu (17/1). Taman parkir ABA baru diujicobakan untuk lantai bawah sebagai parkir bus, sementara lantai atas belum digunakan sebagai lokasi parkir. Oleh warga, tempat parkir di lantai atas dimanfaatkan untuk lokasi foto maupun sekadar bercengkerama.
 
JOGJA – Selesainya pembangunan taman parkir bertingkat portable Abu Bakar Ali (ABA) ternyata belum mampu menyelesaikan persoalan parkir di Kota Jogja. Selain masih adanya penolakan dari para juru parkir (jukir) di Malioboro untuk pindah ke sana, lokasi parkir bus yang berada di lantai dasar dinilai belum memadai.

Saat ini untuk parkir bus di lantai bawah dikelola oleh Komunitas Abu Bakar Ali (Komaba) yang sudah sekitar delapan bulan menganggur selama proses pembangunan. Ketua Komaba Edy Susanto mengatakan, kondisi gedung parkir baru itu belum sempurna. Hal pertama yang terasa adalah ruang parkir dan manuver bus yang semakin terbatas.

“Konstruksi bangunan dengan puluhan tiang baja sebagai penyangga mengakibatkan ruang gerak bus semakin terbatas,” ujarnya, akhir pekan kemarin (16/1).

Menurut Edy, daya tampung bus yang sebelumnya bisa mencapai 50 bus turun menjadi hanya sekitar 30 bus saja. Kondisi itu berimbas pada hambatan untuk sirkulasi keluar dan masuk bus ke area parkir. Bila bus terdepan belum keluar, bus yang ada di belakangnya akan kesulitan untuk keluar meski seluruh penumpangnya sudah siap berangkat ke tujuan berikutnya.

“Saat kondisi padat, mau tidak mau bus yang terjebak di tengah harus menunggu sampai ada ruang untuk keluar,” jelasnya.

Sementara itu, sistem rotasi setiap dua jam yang sempat diwacanakan, menurut Edy, juga bukan langkah solutif. Sebab, sekali parkir bus pariwisata bisa menunggu hingga lebih dari tiga jam karena pengunjung tak bisa dipatok jam kunjungannya.

“Kalau di belakang sendiri masih bisa mundur kalau lalu lintas sepi. Kalau di tengah ya harus sabar menunggu depannya,” tuturnya.

Hal itu juga membuat pendapatan Komaba mengalami penyusutan keuntungan hingga 30 persen ketimbang sebelum adanya gedung parkir portable. Dari jumlah bus masuk di masa liburan misalnya, dulu sebanyak 80 bus bisa keluar masuk dalam sehari. Sekarang, jumlahnya tak sampai separo, berkisar antara 20 hingga 40 bus per hari. “Ini nanti akan jadi bahan evaluasi karena sekarang kan masih masa uji coba,” tandas Edy.

Terpisah, Kepala Dinas Perhubungan DIJ Sigit Haryanta mengaku secara pribadi tidak sepakat dengan parkir bus di ABA. Dia lebih setuju parkir di lantai dasar ABA tersebut digunakan untuk parkir mobil pribadi atau motor.

“Kalau bus kan jumlahnya banyak, sedang di sana (ABA) terbatas. Kalau sudah penuh, bus mau parkir dimana,” ujarnya.

Menurut Sigit, jika parkir bus di ABA maupun di Ngabean penuh, sementara bus yang datang tidak bisa ditolak justru berpotensi membebani kota. Banyak bus yang nantinya akan parkir di pinggir jalan.

Untuk pengaturan lama parkir bus sendiri, Sigit mengatakan, belum bisa diterapkan di DIJ. Pengaturan parkir dengan durasi waktu tertentu, jelas dia, juga tidak menjamin ketersediaan tempat kosong. “Untuk parkir bus kemarin kan masih uji coba, ke depan akan ditata lagi,” jelasnya.

Solusi untuk bus sendiri, mantan Kepala Biro Umum Humas dan Protokol Setprov DIJ ini mengatakan, sesuai usulan Gubernur DIJ sebaiknya bus dilarang masuk Kota Jogja. Dengan jalan yang tidak terlalu lebar serta ketersediaan kantong parkir yang terbatas, Sigit menilai memang seharusnya bus besar parkir di luar kota. “Untuk masuk dalam kota disediakan feeder. Nanti akan dipikirkan bersama Pemkot Jogja, lokasinya dimana saja,” ujarnya. (pra/ila/ong)