Hendri Utomo/Radar Jogja
PINTU MASUK: Muara dan pintu masuk Pelabuhan Tanjung Adikarto di Desa Karwangwuni, Wates, Kulonprogo, tampak luas dari seberang barat Sungai Serang, kemarin.
KULONPROGO – Proses pengerukan kolam tambat pelabuhan Tanjung Adikarto di Desa Karangwuni, Wates, Kulonprogo, tidak selesai dan harus putus kontrak. Kendati demikian, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) DIJ tetap berencana melakukan ujicoba tambat labuh Februari mendatang.

Kepala DKP DIJ Andung Prihadi mengatakan, untuk melakukan ujicoba tambat labuh, pihaknya akan mengundang nakhoda-nakhoda nelayan. Mereka dikoordinasi untuk survei darat di pelabuhan sekaligus melihat jalur yang bisa dimasuki kapal-kapal.

Setelah itu baru dilakukan ujicoba dengan kapal kecil terlebih dulu, kemudian baru kapal atau perahu dengan kapastias 10 grosston (GT) ke atas. Menurutnya, dengan kondisi yang ada saat ini, termasuk pengerukan-pengerukan yang ada dan permasalahan yang ada, ujicoba tambat labuh kapal-kapal perikanan tetap harus dilakukan.

“Jadi bukan soft launching operasional. Tapi ujicoba, kapal-kapal kami persilakan untuk masuk, kami tidak membuat target langsung ramai,” ucap Andung, usai menghadiri upacara Dharma Samudera Lanal Jogjakarta di kawasan pelabuhan (14/1).

Dijelaskan, koordinasi dengan para nakhoda nelayan dilakukan mulai bulan ini, dibantu Lanal Jogja serta Polair yang akan membackup ujicoba. Seremonial ujicoba tambat labuh rencananya dilakukan minggu ketiga atau keempat Februari.

“Rencananya acara seremonial juga mengundang para pimpinan baik dari pemerintah pusat, provinsi, maupun kabupaten, sehingga bisa melihat dan mendalami permasalahan yang masih ada. Harapannya akan ada kesepahaman dan komitmen bersama untuk menyempurnakan seperti penyelesaian break water atau pemecah ombak,” jelasnya.

Andung berharap, perpanjangan break water sangat penting sebagai salah satu upaya mengatasi sedimentasi. Namun pihaknya berharap ada dukungan anggaran dari pemerintah pusat karena masih memerlukan anggaran yang besar. “Normalnya, break water sisi timur masih perlu penambahan sepanjang 80 meter dengan anggaran Rp 180 miliar,” harapnya.

Menurutnya, dua proyek pengerukan yakni alur masuk dan kolam pelabuhan sudah dianggarkan tahun lalu. Hasilnya, pengerukan alur masuk bisa diselesaikan sesuai kontrak, namun pengerukan kolam tidak selesai dan putus kontrak.

“Nah tahun ini tidak ada lagi kegiatan pengerukan, tetapi dialihkan menjadi studi kelayakan terkait persoalan sedimentasi. Studi akan melibatkan TNI AL dan para ahli untuk bersama-sama meneliti cara yang paling praktis mengatasi sedimentasi,” tandasnya.

Dituturkan, pengerukan kolam putus kontrak pada posisi 71,80 persen, sehingga hasilnya tidak bisa optimal. Yakni hanya sisi barat dan timur sebelah selatan yang bisa berfungsi tambat labuh, sedangkan yang tengah tidak bisa. Tapi sudah bisa didarati kapal-kapal sampai 30 GT walaupun tidak optimal.

Danlanal Jogja Kolonel Laut (S) Kartoli menyatakan pihaknya siap membantu dengan kemampuan yang ada dalam penyiapan operasional Pelabuhan Tanjung Adikarto. Pihaknya juga telah berkoordinasi dengan komando atas, terutama Lantamal Surabaya terkait hal itu.

“Kemampuan-kemampuan apa, baik SDM maupun fasilitas sarana prasarana, AL akan mendukung sepenuhnya apa yang menjadi program pemerintah, baik provinsi maupun Kabupaten Kulonprogo,” ucapnya. (tom/laz/ong)