SETIAKY A KUSUMA/RADAR JOGJA
HARUS DIANTISIPASI: Sebagian wilayah di Kecamatan Prambanan, Sleman saat musim kemarau mengalami kekurangan air. Agar petani tidak merugi, ketersediaan air harus diperhatikan serius.
BANTUL – Dinas Pertanian dan Kehutanan (Dispertahut) mem-persiapkan sejumlah langkah antisipasi kemungkinan pendeknya musim penghujan pada awal tahun ini. Itu dilakukan agar target pro-duksi pangan pada tahun 2016 tercapai, atau bahkan surplus.Kepala Dispertahut Bantul Partogi Dame Pakpahan menyatakan telah mendengar perkiraaan pendeknya musim penghujan pada awal tahun ini sebagai akibat dari dampak badai El Nino. Bila perkiraaan ini menjadi nyata, dunia pertanian dalam ancaman cukup serius. “Karena berdampak pada keku-rangan air,” terang Partogi di ruang kerjanya, kemarin (18/1).

Ditegaskan Partogi, tercapainya kuantitas dan kualitas produksi pangan tidak terlepas dari enam variable pendukung. Yaitu, sumber daya manusia, ketersediaan lahan, iklim, bibit, alat dan mesin pertanian, serta air. Nah, badai El Nino bisa berakibat pada terganggunya dua variable pendukung tersebut. “Yaitu, iklim dan air. Kita tidak bisa berbuat banyak karena berkaitan dengan alam,” ujarnya.Menurutnya, sejumlah pilihan yang dapat ditempuh Dispertahut sebagai langkah antisipasi adalah mengubah kalender dan pola tanam. Ini karena tak semua lahan pertanian di Bantul dapat ditanami jenis tanaman tertentu seperti padi secara kontinyu. Ada yang dapat ditanami padi tiga kali dalam setahun. Ada yang dua kali. Bah-kan, ada yang bisa hanya sekali. “Dan badai El Nino ini juga ber-dampak pada pergeseran musim tanam,” ungkapya.

Ya, pada akhir tahun lalu tidak sedikit petani yang menggeser waktu tanam padi. Para petani cenderung ragu menanam untuk menghindari kerugian. Meski-pun pada akhirnya sebagian dari mereka ada yang memberanikan diri menanam. Tidak menentunya cuaca sebagai penyebabnya. Sikap ragu inilah yang menyebabkan musim tanam kemudian bergeser. “Panennya pun menjadi bergeser,” jelasnya
.Selain mengubah kalender dan pola tanam, Dispertahut juga intensif berkoordinasi dengan Dinas Sumber Daya Air (SDA) untuk menjaga dan mengatur ketersediaan air di saluran irigasi. Menurut Partogi, wilayah Bantul sebetulnya banyak dilintasi sungai besar. Ketersediaan air di sungai-sungai itu pun melimpah, meski-pun saat puncak musim kemarau. Sayangnya, air sungai banyak yang terbuang sia-sia lantaran masih buruknya manajemen pengelolaan air. Pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan Ko-dim dan BKP3 untuk menghadapi musim tanam tahun ini. “Dengan begitu, kami meyakini target pro-duksi pangan pada 2016 tetap tercapai,” tegasnya.

Kabid Tanaman Pangan Dis-pertahut Bantul Yuni Yunianti menyebutkan, target produksi pangan pada 2016 cukup tinggi. Padi, misalnya, ditargetkan 192.963 ton dalam setahun. Berikutnya, jagung 25.008 ton, dan kedelai 3.002 ton. “Tanaman padi dengan sasaran luas tanam 30.211 hektare, jagung 4.287 hektare, dan kedelai 2.137 hektare,” tambahnya.Di bagian lain, bahaya angin kencang mengancam sebagian wilayah Sleman beberapa hari ini. Akibatnya, dua rumah dan sebuah kandang ayam rusak setelah tersapu angin yang disertai hujan di Desa Candibinangun, Pakem Minggu (17/1).

Kepala Pelaksana Badan Pe-nanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman Julisetiono Dwi Wasito menimbau masyarakat selalu waspada. Meski ancaman terbesar angin kencang di wilayah utara Sleman yang merupakan kawasan pegunungan. Selain itu, Julisetiono meng-ingatkan potensi bahaya susulan atas musibah angin kencang dan hujan yang disertai petir. Seperti musibah kebakaran yang menimpa dua rumah, masing-masing milik Minuk dan Yulianto. Keduanya warga Dusun Ngepring, Purwo-binangun, Pakem. Akibat hujan lebat, aliran listrik di kawasan tersebut padam. Warga terpaksa menyalakan lilin untuk penerangan sementara. Apes bagi dua warga tersebut. Lilin terjauh sehingga mengenai bagian rumah yang mudah ter-bakar. (zam/yog/din/ong)