MAGELANG – Untuk melestarikan dan mengenalkan budaya nusantara, khususnya wayang, Artos Mall me-majang wayang raksasa bertokoh Semar dari “Sanggar Wayang Gogon”. Ukurannya tinggi 5 meter dan lebar 4 meter, terbuat dari 11 lembar kulit kerbau. “Bagi pengunjung Artos Mall yang belum sempat melihat dan me-ngabadikan moment ini, wayang raksasa ini akan dipajang sampai akhir Januari ini di Atrium. Saat bersamaan dengan itu, kami juga menggelar Multiproduk Exhibition,” kata Casual Leasing Artos Mall Magelang Meyta Fitriyani kemarin (18/1).Wayang yang diklaim terbesar di Indonesia ini merupakan karya seniman asal Solo bernama Margono atau biasa disapa Gogon. Bentuk wayang berupa Semar tidak lepas untuk me ngabadikan sosok Pamomong atau pelindung dalam dunia pewayangan bernama Semar.

“Idenya dari 2008, ketika saya lulus kuliah dari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta,” ungkap Gogon kemarin (18/1).Menurutnya, sosok Semar menjadi simbol teladan pemimpin yang mem-berikan perlindungan, merangkul, dan perhatian pada rakyat tanpa pan-dang bulu. “Saat ini banyak pejabat atau pemimpin yang lupa akan tanah air yang punya budaya yang adi luhung,” ungkapnya.Sifat pamomong disimbolisasikan dalam kuncung atau rambut depan Semar yang terurai sampai tanah. Sedangkan ukuran 4 x 5 meter ber arti ‘Pat Jupat Limo Pancer’ yang me miliki filosofi dari segala penjuru arah mata angin tertuju hanya pada satu titik. “Saya buat besar, agar para pemimpin negeri ini tahu sosok Semar ini. Harapannya, mereka mau ke bawah bersama rakyat,” jelasnya.

Gogon bercerita, dia dan temannya butuh waktu hingga setahun untuk menyelesaikan wayang Semar tersebut. “Proses penyambunganya yang lama,” katanya.Ia mengatakan, ada kisah perjalanan panjang nan mengharu biru, sebelum akhirnya wayang Semar sampai di Magelang. Pada 2012, wayang yang terbuat dari 11 lembar kulit kerbau pilihan tersebut akan dipamerkan di pusat perbelanjaan di Solo, Jawa Tengah. Namun dibatalkan, karena satu alasan. Setahun kemudian, pada 2013 wayang Semar ini akan ikut dikirab dalam pagelaran yang diselenggarakan Pe-merintah Kota Solo. Namun, rencana itu gagal lagi. Alasannya, anggaran pemerintan tidak mencukupi.Sebelum berangkat ke Jakarta, gogon dan wayangnya diminta Pemkot Magelang tampil di alun-alun se tempat. Ia juga mengunjungi Gunung Tidar, di mana ada makam tokoh yang di-juluki Kyai Semar. “Saya terharu, sempat meneteskan air mata. Karena wayang di Magelang mendapat sambutan luar biasa dari pemkot dan masyarakat. Sedangkan di kota kelahiran saya, tidak demikian,” katanya.Tahun 2015 Gogon membawa pulang wayang ke Solo dan ikut pementasan di Pantai Selatan Jogjakarta. Sampai akhirnya wayang Semar dipamerkan di Magelang. (dem/hes/ong)