GUNTUR AGAR TIRTANA/RADAR JOGJA
TERUS DIEVALUASI: Suasana taman parkir portable ABA yang penuh dengan penumpang bus pariwisata. Keberadaan taman parkir ABA yang masih dalam tahap uji coba akan terus dievaluasi.
JOGJA – Keberadaan taman parkir por table Abu Bakar Ali (ABA) yang masih menyisakan masalah akan dievaluasi. Sebagai pemra-karsa pembangunan taman parkir ABA, Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, Energi dan Sumber Daya Mineral (PUP-ESDM) DIJ tidak masalah jika parkir bus nantinya tidak berada di sana. Terlebih, konsep awalnya di lantai bawah ABA digunakan untuk parkir roda empat
Kepala Dinas PUP-ESDM DIJ Rani Sjamsinarsi mengatakan, segera dilakukan evaluasi. Di-jelaskan, dulunya ABA memang untuk parkir bus. Namun, ka-rena ada kepentingan memindah parkir motor, maka dibangun tiga lantai di ABA. “Sehingga ya mengurangi space parkir bus,” ujarnya ketika ditemui di Kepa-tihan, kemarin (18/1). Diakuinya dengan membangun parkir bertingkat di ABA untuk parkir motor, mengurangi daya tampung bus. Namun, hal itu sebelumnya sudah dikomunika-sikan dengan komunitas parkir di ABA. Dengan pembangunan parkir portable di ABA, kapasitas bus yang bisa parkir di ABA ber-kurang. Hanya bisa menampung maksimal 40 bus saja. Termasuk untuk pengaturan lalu lintas bus yang akan masuk. Terkait hal itu, pihaknya sudah menyerahkan ke Dinas Perhubungan (Dishub) DIJ untuk pengaturannya. “Saya minta Dishub yang di de-pan, karena pengaturan lalu lintas kan kewenangan mereka,” jelasnya.

Rani menyarankan, supaya tidak terjadi kemacetan saat bus masuk ke ABA terhubung dengan traffic light dari arah barat di Jalan Abu Bakar Ali. Terlepas dari itu semua, Rani mengatakan, sebaiknya bus-bus besar memang tidak masuk wilayah Kota Jogja. Terlebih per-kembangan kota yang dinamis. Rani mendukung usulan Gu-bernur DIJ HB X yang hendak melarang bus besar masuk Kota Jogja. Rani mencontohkan di sejumlah kota metropolitan, ada pengaturan tentang bus besar yang masuk wilayah per-kotaan. “Ngarso Dalem (HB X) beberapa kali kan sudah mewa-canakan itu, tapi Kota Jogja be-lum mau,” ujarnya
.Jika bus tak masuk kota, maka parkir ABA maupun parkir Nga-bean, yang sama-sama portable, bisa digunakan untuk parkir kendaraan lain. Semisal motor maupun mobil pribadi. Rani menambahkan, di parkir Nga-bean lantai atas, nantinya juga dilengkapi dengan atap penutup, seperti di ABA. Sehingga jika tidak digunakan untuk parkir bisa di-manfaatkan untuk kegiatan lain. “Kalau enggan pada parkir di atas kan bisa untuk kegiatan lain, semisal kuliner,” jelasnya.Sebelumnya, Kepala Dinas Perhubungan DIJ Sigit Hary-anta mengaku secara pribadi tidak sepakat dengan parkir bus di ABA. Dia lebih setuju parkir di lantai dasar ABA tersebut di-gunakan untuk parkir mobil pribadi atau motor. Sigit kha-watir jika bus tidak tertampung di tempat parkir ABA, justru bisa parkir di pinggir jalan. “Kalau bus kan jumlahnya banyak, sedang di sana (ABA) terbatas. Kalau sudah penuh, bus mau parkir mana,” ujarnya. (pra/ila/ong)