FRIETQI SURYAWAN/RADAR JOGJA
BUTUH DISERIUSI: Pengelolaan parkir roda dua di Rejowinangun belum maksimal. Dewan juga mendapati sejumlah titik masih terkesan kumuh, kotor, dan berbau
MAGELANG – Wakil rakyat menilai, pengelolaan Pasar Rejowinangun belum maksimal. Ini diungkapkan Wakil Ketua Komisi B DPRD Kota Magelang Tyas Anggraeni kemarin (18/1).Menurut Tyas, posisi parkir kendaraan roda dua di lantai dua pasar tersebut masih terlihat semrawut. Bahkan, di sejumlah titik Pasar Rejowinangun masih terkesan kumuh, kotor, dan berbau. Ini diperparah dengan kondisi pasar tradisional yang memprihatinkan. Karena kebanyakan pedagang mem-buang sampah di sembarang tempat. Khususnya di bagian los ikan, daging, dan sayur-sayuran, terlihat kumuh dan menimbulkan bau tidak sedap. “Selain bau tidak sedap, di pasar tersebut banyak ditemui binatang. Sperti tikus yang ukurannya besar-besar. Ini kan mengurangi ke nyamanan para pengunjung sebenarnya,” kritik Tyas.

Menurut Politisi Hanura ini, semes-tinya sampah pedagang tidak dibuang di sembarang tempat. Karena ada tempat atau bak penampungan sampah yang telah disediakan pemerintah. Selain itu, puluhan pedagang lesehan juga sebaiknya ditata rapi, agar terlihat lebih bersih. “Bukan hanya masalah sampah, penataan tempat pedagang juga belum tertata maksimal. Pedagang sayuran masih bercecer di badan jalan. Ini sering membuat arus kendaraan di Pasar Rejowinangun macet,” paparnya.

Ia berharap, ada evaluasi khusus dari Dinas Pengelola Pasar (DPP) setempat, untuk menata lahan parker. Terutama bagi kendaraan roda dua. Apalagi ia merasakan, ada keinginan Pejabat (Pj) Wali Kota Magelang Rudy Apriyantono mewujudkan Pasar Re-jowinangun sebagai one stop shopping. Atas rencana tersebut,Tyas mengaku mendukung dan menilai perlu konsep positif untuk meningkatkan tingkat kunjungan ke pasar terbesar di eks-Karesidenan Kedu tersebut.Saya harap ada evaluasi soal pe nataan tempat parkir. Pasar Rejowinangun kan luas, masih bisa titik-titik kosong dijadikan tempat parker, biar bisa bikin nyaman para pedagang sendiri maupun pengunjungnya. Kalau sudah begitu, saya yakin target menjadi one stop shopping seperti yang diutarakan Pak Rudy bisa terwujud,” tegasnya.Kepala DPP Kota Magelang Joko Budiyono mengakui, akses lalu lintas di Pasar Rejowinangun belum tertata maksimal. Ini disebabkan banyaknya pedagang lesehan yang masih menjaja di badan jalan. “Penataan pedagang masih dalam proses. Kami akui soal parkir ada masalah, karena lahan parkir untuk sementara digunakan puluhan pe-dagang lesehan yang mayoritas men-jaja dagangan sayuran. Ini tentu mem-buat kapasitas jalan juga berkurang,” paparnya.

Dalam waktu dekat, DPP akan me-lakukan pengembangan pasar. Pe-ngembangan tersebut diestimasikan menguras APBD sebesar Rp 4,5 miliar yang dialokasikan untuk penataan pedagang lesehan ke tempat khusus. Juga penataan parkir di sekitaran basement. “Pedagang lesehan nanti ditempatkan secara khusus, masih di Pasar Rejo-winangun. Ke depan, secara komper-hensif dan integrative, semua akan ditata. Termasuk basement nantinya dikhususkan untuk parkir para pedagang. Sedangkan pengunjung bisa meng-gunakan basement di lantai satu maupun tempat parkir di lantai dua,” katanya.Joko menjelaskan, untuk masalah sampah, DPP akan berkoordinasi dengan Dinas Kebersihan Pertamanan dan Tata Kota (DKPT), agar menambah frekuensi pengangkutan sampah. Ia akan melakukan sosialisasi pada pedagang, agar membuang sampah di tempat-tempat yang disediakan pe-merintah. “Masalah kebersihan saya kira di Pasar Rejowinangun sudah agak lumayan. Tapi yang jelas akan terus didorong, supaya pedagang terus meningkatkan budaya bersih. Upaya ini juga salah satu langkah agar pengunjung juga merasa nyaman,” janjinya. (dem/hes/ong)