MUNGKID – Atap kelas Ma-drasah Ibtidaiyah (MI) Maarif Wanurejo di Kecamatan Boro-budur masih ambrol sejak keja-dian pada Desember 2015. Namun, hingga kemarin (18/1), belum ada upaya perbaikan dari Pemkab Magelang maupun pihak sekolah. Minimnya anggaran menjadi penyebab utama urungnya per-baikan atap ruang kelas. Sejak sebulan lalu, para siswa ter-paksa melangsungkan kegiatan belajar mengajar (KBM) di musala sekolah tersebut.Tokoh Masyarakat Borobudur Sucoro menyayangkan ambrol-nya atap ruang kelas MI Maarif Wanurejo yang belum mendapat perhatian dari lembaga terkait. Ia minta, Pemkab Magelang semestinya tidak mem beda-bedakan pembangunan antara sekolah berstatus swasta ataupun negeri. “Pendidikan sama pentingnya baik di sekolah swasta ataupun negeri. Adanya ruang kelas yang ambrol, semestinya cepat men-dapat perhatian,” pinta Sucoro kemarin (18/1).

Selain menyayangkan Pemkab Magelang, sesepuh Komunitas Warung Info Jagad Cleguk ini juga menyayangkan lembaga atau perusahaan swasta di sekitar Borobudur. Di Borobudur, ada Objek Wisata Candi Borobudur yang memiliki pendapatan per tahun mencapai ratusan miliar rupiah.Semestinya, dunia pendidikan menjadi prioritas untuk diper-hatikan semua elemen ma-syarakat. Termasuk pengelola Candi Borobudur. “Ya sangat disayangkan. Se-mestinya ambrolnya atap ruang kelas cepat mendapat perhatian. Apalagi peristiwa ambrolnya ruang kelas sudah sejak Desember 2015,” paparnya.

Sucoro mengatakan, pe ngelola taman wisata candi Borobudur (TWCB) bisa mengalokasikan dana CSR untuk pembangunan ruang kelas yang rusak. Ia mem-perkirakan, alokasi dana CSR PT TWC Borobudur sekitar Rp 300 juta. “Dari jumlah itu, sebagian bisa disumbangkan untuk pembangunan sekolah yang rusak,” katanya.Kepala MI Maarif Wanurejo Borobudur Ngesti Sulistyaningsih mengatakan, pihak sekolah sudah mengajukan bantuan ke be berapa pihak. Selain Pemkab Magelang, permintaan bantuan juga di-tujukan ke BRI Muntilan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Bazda, PT TWC Boro-budur, dan lainnya. “Dari permintaan bantuan yang kami kirimkan, tidak ada satupun yang memberi,” katanya.

Menurut Ngesti, justru yang bergerak mencari bantuan untuk pembangunan adalah para wali murid. Mereka mencari sumbangan ke pedagang di sekitar candi dan Terminal Borobudur. Selain itu, bantuan juga diberi-kan para dermawan di sekitar wilayah Borobudur.Kepala Unit TWC Borobudur Krisnamurti Adiningrum menga-ku tidak hafal soal permintaan bantuan yang masuk ke pe ngelola. Ia minta untuk menunggu bantuan yang diajukan dari MI Maarif, Wanurejo, Borobudur itu. “Nunggu disposisi dari di-reksi,” katanya. (ady/hes/ong)