SEMENTARA ITU, maraknya kabar orang hilang di DIJ membuat gusar Kopertis 5 Jogja. Jika tidak bisa segera diselesaikan secara menyeluruh, dikhawatirkan minat calon mahasiswa dari luar DIJ yang akan menuntut ilmu di DIJ menurun.

Koordinator Kopertis Wilayah 5 Jogja Dr Bambang Supriyadi mengatakan, pihaknya telah mengeluarkan imbauan pada perguruan tinggi baik negeri maupun swasta yang ada di wilayah DIJ untuk membekali siswa dan alumninya dengan pemahaman tentang Gafatar.

Menurut dia, rektor dan bidang kesiswaan mengambil peran penting untuk mencegah masuknya paham organisasi tersebut pada anak-anak muda. “Intinya kami meminta pada rektor dan bidang kesiswaan untuk memberikan gambaran tentang organisasi Gafatar,” terangnya ketika ditemui di Kepatihan, kemarin (19/1).

Pihaknya meminta supaya permasalahan Gafatar harus segera diatasi sebelum masa penerimaan mahasiswa pada Juni-Juli 2016 nanti. Sebab, kopertis menilai isu tersebut akan banyak mempengaruhi para orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya ke DIJ.

Menurut Bambang, isu-isu seperti itu cukup mempengaruhi keputusan orang tua menyekolahkan anaknya ke luar daerah. “Contohnya seperti beberapa waktu lalu saat muncul isu tes keperawanan yang terbukti berpengaruh cukup besar,” ungkapnya.

Meskipun begitu hingga saat ini Kopertis belum menerima adanya laporan mahasiswa yang bergabung dalam organisasi Gafatar dan ikut menghilang ke Kalimantan. “Sampai sekarang belum ada laporan masuk, harapannya tidak ada sampai nanti bisa diselesaikan,” ungkap Bambang.

Terpisah, Kepala Kantor Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat (Kesbanglinmas) DIJ Agung Supriyanto mengatakan, Pemprov DIJ tidak memiliki anggaran untuk membantu pemulangan anggota Gafatar asal DIJ yang berada di Kalimantan. Menurut Agung, anggaran tidak terduga yang dimiliki Pemprov DIJ digunakan pada saat ada bencana. Meskipun begitu, Agung menjanjikan akan berkomunikasi dengan Sekprov DIJ terkait hal itu. “Ya nanti saya laporkan dulu ke pimpinan (Sekprov DIJ),” tuturnya. (pra/ila/omg)