RIZAL SN/RADAR JOGJA
HAMPIR SEABAD: Mbah Lindu saat melayani pembeli di lapak jualannya di pos ronda yang berada di Jalan Sosrowijayan, Jogja, kemarin (19/1).

Racik Bumbu Sendiri, Digemari Pembeli dari Luar Negeri

Usianya tak lagi muda, namun semangatnya untuk bekerja patut diacungi jempol. Bahkan di usia senja, tak pernah ada keluhan keluar dari bibirnya. Itulah Mbah Lindu, penjual gudeg tertua di Jogja yang tetap mempertahankan cita rasa asli. Seperti apa kisahnya?

RIZAL SN, Jogja

HARI masih pagi. Tapi jualan Mbah Lindu sudah ramai dengan pembeli. Dengan tekun, dia melayani satu per satu pemesan gudegnya. Di usinya yang tak lagi muda, dia masih setia berjualan gudeg, makanan khas dari Jogjakarta. Uniknya, bisa jadi gudeg yang dijual Mbah Lindu adalah yang tertua di Jogja.

Sebuah tempat sederhana di depan pos ronda di Jalan Sosrowijayan, Jogja itulah Mbah Lindu biasa berjualan. Di atas kursi dari bambu berjejer baskom berbahan stainless stell warna hijau belang. Isinya berupa gudeg telur, gudeg ayam potong, ayam utuh, dan kering tempe. Di sisi sampingnya, ada tenggok berisi nasi. Sementara di bagian pos ronda, ada beberapa tumpuk daun pisang yang digunakan sebagai tempat makan.

Iya, untuk para pembeli, perempuan sepuh usia 97 itu memang tidak menyediakan piring. Sebagai gantinya, mereka dapat menikmati gudegnya dengan wadah pincuk dari daun pisang. Sensasi makan gudeg seperti ini membuat pembeli merasakan kesederhanaan di Jogja. Mereka dapat bersama-sama duduk di kursi berukuran 1,5 meter tanpa meja bagi pembeli.

Nama asli Mbah Lindu adalah Setya Utomo. Namun orang-orang lebih mengenalnya dengan sebutan Mbah Lindu. Hal itu juga berlaku untuk gudegnya yang lebih dikenal dengan Gudeg Mbah Lindu.

Mbah Lindu mengisahkan, dia mulai berjualan gudeg sudah sangat lama. Bahkan seingatnya, sebelum zaman datangnya penjajah Jepang pada 1942. Dia mulai menjajakan makanan yang awalnya dikonsumsi para pejuang gerilya itu. Saat itu gudeg bisa tahan sampai beberapa hari menjadi lauk dan bekal para pejuang perang gerilya.

“Awal berjualan saya sudah lupa, tapi sebelum Jepang datang. Wong waktu Jepang datang itu saya sudah punya anak satu,” kenangnya.

Ketika itu, dia belum menetap seperti saat ini. Tapi, berjalan kaki berkeliling dari rumahnya di daerah Klebengan, Caturtunggal, Depok, Sleman. Karena saat itu belum ada alat transportasi, dia menjajakan jualannya dengan berjalan kaki.

“Zaman dulu kan belum ada bis, rumah juga belum banyak seperti sekarang. Pohon-pohon masih banyak jadi adem. Gudeg saya gendong, lalu jalan kaki berkeliling,” ujarnya ramah kepada Radar Jogja, Selasa (19/1).

Perempuan yang telah dikaruniai 5 orang anak dan 15 cucu ini mengenang, pernah merasakan bertransaksi dengan menggunakan mata uang lawas. Yakni benggol, sen, dan rupiah lawas. “Dulu, satu sen itu bisa buat empat sampai lima pincuk nasi gudeg. Terus benggol, uang koin yang bolong tengahnya itu saya juga sempat mengalami,” ujarnya.

Seingatnya, saat itu penjual gudeg sudah ada di banyak desa di Jogja. Selain itu, meskipun telah berjualan puluhan tahun, namun Mbah Lindu tetap mempertahankan resep gudegnya.

Bahkan, di usianya yang menjelang seabad, Mbah Lindu masih meracik bumbu dan mengolah gudeg dengan tanganya sendiri. Hal itu dilakukannya karena ingin mempertahankan cita rasa asli gudeg buatannya. Gudeg yang berbahan nangka muda, gula kelapa, dan santan itu perlu dimasak berjam-jam. Kemudian ditambah daun jati membuat warna gudeg menjadi kecokelatan.

“Masih seperti dulu tidak pernah berubah sama sekali. Jenisnya juga masih sama, krecek, gudeg tahu tempe, dan telur ayam,” katanya.

Gudeg Mbah Lindu buka setiap hari dari mulai pukul 05.00 sampai dengan pukul 10.00 WIB. Harga untuk gudeg lawas ini terbilang cukup murah antara Rp 15 ribu sampai dengan Rp 20 ribu.

Meskipun tempat berjualannya terhitung sangat sederhana, Gudeg Mbah Lindu setiap harinya selalu diserbu para pembeli. Bahkan tak jarang para pembeli memborong gudeg untuk dibungkus sebagai oleh-oleh kelurga di rumah.

“Saya setiap pagi diantar cucu dengan mobil bukaan itu. Rutin buka dari jam lima pagi sampai jam sepuluh pagi,” tandasnya.

Ditanyakan mengenai harapannya, Mbah Lindu hanya ingin selalu diberikan kesehatan. Sehingga bisa terus berjualan untuk para pelanggannya. “Saya mau berjualan terus sekuatnya. Mau diberikan rezeki banyak atau sedikit ya harus tetap syukuri,” terang Mbah Lindu
Saat ini, setiap hari Mbah Lindu berjualan dibantu oleh anaknya yang nomor lima, Ratiah, 50. Namun dia mengaku, Ratiah hanya membantu untuk perhitungan uang, sementara mulai dari menyajikan dan membungkus tetap dilakukan sendiri.

Meskipun hanya di depan pos kampling dan berada di pinggir jalan, namun pembeli Gudeg Mbah Lindu cukup bervariasi. Mulai dari tukang becak, mahasiswa sampai wisatawan lokal maupun asing. Bahkan, menurut Ratiah beberapa orang terkenal di Indonesia sampai saat ini masih sering pesan gudeg.

“Pakar kuliner Indonesia William Wongso sering ke sini. Dia sampai perintah sopirnya untuk beli lalu dibawa ke Jakarta lagi,” terang Ratiah.

Gudeg Mbah Lindu ternyata tidak hanya dikenal di Jogja, namun juga terdengar sampai ke luar negeri seperti Malaysia dan Singapura. “Beberapa kali ada wisatawan dari Singapura dan Malaysia yang ke sini. Lalu pesan beberapa besek untuk dibawa ke negaranya,” katanya. (ila/ong)