GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
LANDMARK: Pejalan kaki melintas di dekat landmark Pasar Beringharjo yang terletak di sisi selatan pasar, Jalan Pabringan, Jogja, Rabu (20/1). Selain sebagai penanda juga sengaja disiapkan bagi warga untuk berfoto. Keberadaan tempat itu turut mempromosikan pasar tradisional serta memperindah area sekitar pasar.

JOGJA – Seiring perkembangan teknologi, selfie atau memotret diri sendiri sudah menjadi budaya. Tak hanya anak muda, anak-anak sampai orang tua banyak yang memanfaatkan tempat-tempat baru untuk berfoto.

Budaya ini ditangkap Dinas Pengelola Pasar (Dinlopas) Kota Jogja. Di sejumlah pasar dipasang landmark atau penanda yang dilengkapi fasilitas kursi dan taman. Hal itu, dilakukan demi mengubah citra pasar yang selama ini dinilai kotor dan bau.

Beberapa pasar yang berada di Jalan Protokol bakal diberi sebuah bentuk tulisan nama pasar. Proyek pertama berada di Pasar Beringharjo. Di sisi selatan pasar terbesar di DIJ itu kini telah dilengkapi dengan tempat selfie.

“Di lokasi itu, sudah ada landmark baru berupa nama pasar dalam huruf kuning berukuran besar yang bisa digunakan sebagai background foto,” kata Kepala Bidang Pengembangan Dinlopas Kota Jogja Rudi Firdaus, kemarin (20/1).

Rudi menjelaskan, keberadaan tempat khusus untuk selfie memberikan manfaat bagi Pasar Beringharjo, baik dari sisi promosi dan kebersihan. Diungkapkan, jika banyak pengunjung yang memanfaatkan lokasi itu untuk foto, kemudian mengunggahnya ke media sosial tentu akan lebih banyak orang yang mengenal Pasar Beringharjo.

Selain promosi, keberadaan tempat tersebut juga turut memperindah lingkungan. Lokasi tersebut sebelumnya sangat kumuh. Kini sudah jauh lebih bersih. Pembangunan tulisan yang terbuat dari besi itu dilakukan pada Desember tahun lalu. Dananya dari Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pusat Bisnis di APBD Perubahan.

Dinlopas Kota Jogja merencanakan menambahkan fasilitas yang sama di sejumlah pasar tradisional lain. Terutama pasar yang berada di tepi jalan protokol. “Anggaran untuk membangun fasilitas tersebut sudah masuk dalam APBD 2016. Harapannya, mulai April sudah bisa dikerjakan,” terangnya.

Sejumlah pasar yang akan dilengkapi fasilitas yang sama di antaranya Pasar Ngasem, Kranggan, Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta (PASTY) serta Pasar Sentul.

Di lain pihak, keberadaan papan itu juga harus disertai dengan kebersihan pasar. Inilah pesan yang harus dilakukan pedagang. “Pedagang harus bisa merasa tempatnya layak dikunjungi. Makanya wajib bersih,” pesan Kepala Dinlopas Kota Jogja Maryustion Tonang.

Sementara itu, terkait pemasangan pagar portable di kawasan Malioboro yang berujung kritikan dari masyarakat, juga didengar oleh Pemprov DIJ. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) DIJ Tavip Agus Rayanto mengatakan, untuk desain dan pelaksanaan merupakan kewenangan Pemkot Jogja, meski dibiayai dengan Dana Keistimewaan (Danais).

“Sudah saya cek, pagar di Malioboro itu didanai dengan Danais yang dititipkan melalui UPT Malioboro,” ujar Tavip, kemarin (20/1).

Menurutnya, meski dibiayai dengan Danais, pihaknya tidak bisa mengawal hingga ke pelaksanaannya. Itu karena sudah merupakan kewenangan UPT Malioboro. “Dalam pelaksanaannya untuk desain dan sebagainya tidak melakukan komunikasi lagi ke kita (Pemprov DIJ),” lanjutnya.

Diakui Tavip, kondisi seperti itu memang menjadi persoalan. Bappeda, jelas Tavip, dalam program kerjanya berbasis kinerja dan distribusi anggaran. Untuk itu, pihaknya akan meminta pada bagian pengendalian untuk ketat melakukan pengecekan. “Sering kali dalam pelaksanaan hanya sesuai selera pelakunya,” terang Tavip.

Pihaknya juga mengaku senang dengan adanya kritikan dan masukan dari masyarakat. “Saya malah senang ada masukan seperti itu,” jelasnya. (eri/pra/ila)