DWI AGUS/RADAR JOGJA
SPESIAL: Konser bertajuk Enam Enem Enom melibatkan 14 kelompok musik. Sudah enam tahun komunitas musik jazz ini tampil setiap Senin di Bentara Budaya Jogjakarta.

Enam Tahun Berjalan, Total Sudah 288 Episode Pentas

Perkembangan musik Jazz di Jogjakarta terus berkembang. Peran komunitas jazz dalam membesarkan aliran musik yang berasal dari Amerika Serikat ini sangatlah berpengaruh. Salah satu komunitas yang konsisten mengawal perkembangan jenis musik ini adalah Jazz Mben Senen.

DWI AGUS, Jogja

TAHUN demi tahun alunan musik Jazz di Jogjakarta terus berkembang. Berangkat dari segelintir orang, musik Jazz di Kota Gudeg telah memiliki basis massa yang besar. Hal tersebut terlihat dengan membanjirnya penonton yang datang saat pertunjukan musik ini berlangsung.

Salah satu komunitas yang memiliki peran besar adalah Jazz Mben Senen. Komunitas yang selalu tampil di halaman Bentara Budaya Jogjakarta ini telah memasuki usia enam tahun. Sebagai penanda, sebuah konser spesial mereka bawakan awal pekan kemarin.

Jazz Mben Senen bisa dibilang surga bagi para pecinta Jazz. Tidak ada batas yang menaungi para penggawa di dalamnya. Baik musisi professional hingga yang baru belajar membaur jadi satu. Bahkan beberapa diantara mereka membuat sebuah proyek musik bersama.

“Jazz Mben Senen, sebuah tempat di mana semua menjadi satu kesatuan. Guyub rukun dan menyengkuyung perkembangan musik jazz di Jogjakarta,” kata seniman dan budayawan Djaduk Ferianto.

Nama Djaduk sendiri memiliki andil dalam membesarkan komunitas ini. Bersama Romo Sindhunata, Bambang Paningron, dan Aji Wartono, dia membesarkan komunitas yang berangkat dari sebuah jam session ini. Awalnya, komunitas ini lahir dengan nama Jazz On The Street.

Pada awalnya rumah komunitas ini berada di Boulevard UGM. Dimulai pada bulan April 2007 dengan pentas rutin sebulan sekali di hari Sabtu dan Minggu. Hingga dua tahun berjalan, pada tahun 2009 komunitas ini resmi boyongan ke Bentara Budaya Jogjakarta.

Penamaan Jazz Mben Senen berangkat dari pentas rutin komunitas ini, di mana setiap Senin malam mereka melakukan jam session. Sekadar sharing wawasan hingga kolaborasi dalam proyek musik. Uniknya, untuk bergabung di Jazz Mben Senen tidak ada aturan khusus. Terpenting mau berkembang dan menjaga keguyuban. Jazz Mben Senen dianggap sebagai “rumah”, sehingga setiap penggawanya dapat terus belajar, berkeluarga, dan berkawan.

Salah seorang penggawa Jazz Mben Senen Praswa Jati mengatakan, sejak saat itu, acara jam session yang diadakan tiap Senin malam ini dinamakan Jazz Mben Senen. “Jauh sebelumnya, embrionya sudah kumpul sejak era 1999 dalam Jazz Gayeng. Diprakarsai oleh Agung Prasetyo penggagas Jogja Jazz Club sekaligus pimpinan Festival Jazz Gayeng,” katanya.

Jazz Gayeng sendiri diadakan rutin setiap tahunnya oleh Jogja Jazz Club. Namun memasuki tahun ke lima, Jazz Gayeng perlu penyegaran. Khususnya untuk menampung ide kreatif para musisi Jazz di Jogjakarta.

Pras, sapaannya, menjelaskan dari keresahan inilah lahir sebuah ide. Mengadakan sebuah acara yang sifatnya reguler. Menghadirkan sajian musik Jazz ke khalayak luas. Hingga tercetuslah mengadakan Jazz On The Street yang kemudian menjelma menjadi Jazz Mben Senen.

“Jazz Mben Senen menjadi tradisi yang menyenangkan. Tidak hanya bagi musisi Jazz, pecinta Jazz juga dapat bergabung. Bahkan beberapa di antaranya berawal dari penonton. Ketertarikan membuat mereka bergabung dan turut mencipta karya,” ujar Pras.

Senin lalu (18/1) komunitas ini resmi memasuki usia enam tahun. Sebuah konser spesial diadakan untuk merayakan konsistensi mereka. Bertajuk Enam Enem Enom, melibatkan 14 kelompok musik. Seluruhnya hadir dengan warna yang berbeda, namun berakar pada musik jazz.

Keempat belas penampil ini di antaranya Eko Widyamanto Latin Project, Felicidade, Jasmine Feat. Alcatraz Percussion, Mr. Dynamic, Batiga.

Adapula Tik-Tok, Kaleb Project, Trio Jonathan (Etawa), Tricotado, Alldint, MFE (Music for Everyone). Brazzigur Brass Band Feat. Danny Eriawan, CISS Band serta Donny Wirandana and the Quartet Harmony.

“Saat ini setidaknya terdapat 25 hingga 40 musisi yang aktif terlibat di setiap event. Selama tahun, total tercatat ada 288 episode pentas atau hampir 300 episode tampil,” kata Pras.

Dia berharap, Jazz Mben Senen dapat terus mewarnai musik di Jogjakarta. Hadir sebagai khazanah kesenian khususnya di bidang musik. “Juga sebagai rumah bagi para pecinta kesenian, untuk berjalan, bercanda, dan berkomunikasi ala Jazz,” tutup Pras. (ila/ong)