SLEMAN – Banyaknya warga Jogjakarta yang diketahui keberadaannya di camp eks anggota Gafatar di Mempawah, Kalimantan Barat, membuat Polri bergetar dan tergerak untuk mengevakuasi mereka. Sedikitnya, Polda DIJ mengirim satu kompi (100 personel) brigade mobil (Brimob) ke Mempawah untuk mencari dan membawa pulang mereka kembali ke Jogjakarta.

“Kami diminta Mabes Polri untuk mengirim pasukan ke Mempawah. Tim kami berangkatkan satu kompi Brimob dipimpin langsung oleh komandan kompi Brimob,” kata Kapolda DIJ Brigjen Pol Erwin Triwanto, kepada Radar Jogja, kemarin (21/1).

Pasukan brimob tersebut sudah diberangkatkan dari Jogjakarta kemarin (20/1). Menurut Kapolda, dari hasil koordinasi dengan Polda Kalbar, saat ini di Mempawah terdapat kurang lebih 50 warga Jogjakarta di camp eks anggota Gafatar.

Namun ketika ditanyakan lebih lanjut, dari 79 orang yang dilaporkan hilang di Polda DIJ, hanya terdapat 5 orang yang mengalami kecocokan (identik) nama. “Baru sekitar 5 orang yang cocok dengan data yang dilaporkan. Hari ini (kemarin), kami diminta mengirim pasukan pengamanan dan juga untuk evakuasi masyarakat di beberapa wilayah,” imbuhnya.

Lebih jauh dikatakan, ternyata dari beberapa orang yang sebelumnya dilaporkan hilang, sebagian telah kembali ke rumahnya masing-masing. “Hanya karena privasi tidak mau di-publish. Kalau dari keterangan yang melapor memang disebut seperti pernah terdaftar organisasi tersebut (Gafatar,red),” jelasnya.

Sayangnya, pihak kepolisian belum dapat meminta keterangan dari warga yang dilaporkan hilang dan telah kembali tersebut. “Karena masih tertutup, mudah-mudahan mereka kooperatif, sehingga dapat memberikan informasi,” tuturnya.

Disinggung mengenai Kevin Aprilio dan beberapa nama lain, Kapolda enggan membeberkan lima orang warga DIJ yang telah teridentifikasi tersebut. “Kalau di data yang 50, tidak ada nama Kevin, yang lima belum bisa kami sebutkan,” kilahnya.

Selain itu, mengenai kedatangan para warga Jogkakarta tersebut, dia belum dapat memastikan kapan mereka sampai di Jogja. “Belum tentu kapan waktunya, kami masih persiapkan dan lihat keadaannya di sana (Mempawah). Yang pasti kami akan berikan keamanan bagi mereka kalau kembali nanti. Bagaimanapun, mereka adalah warga kita juga, mungkin saja kemarin itu khilaf,” tandasnya.

Sementara itu, dari informasi yang didapat Radar Jogja, ada 50 nama yang terdaftar bergabung dengan warga eks anggota Gafatar Mempawah, Kalimantan Barat. Mereka diketahui setelah ada aksi massa warga setempat yang menolak camp Gafatar di sana (lihat nama-nama di grafis).

Pada bagian lain, kejadian pembakaran camp eks anggota Gafatar di Mempawah, Kalimantan Barat membuat bekas anggota Gafatar khawatir hal tersebut juga terjadi di Jogja. Karena itu, mereka meminta perlindungan seandainya mereka sudah kembali ke daerah asal masing-masing.

“Kalau khawatir, jelas ada kekhawatiran. Makanya kami berharap ada perlindungan, dan jaminan keamanan dari pemerintah setempat, atau dari pihak keamanan,” kata mantan anggota Gafatar Yudhistira Arief Rahman Hakim, Rabu (20/1).

Dia yang sebelumnya menjabat sebagai Ketua DPD Gafatar DIJ menganggap, seandainya tidak ada perlindungan dari pemerintah, pihaknya juga tidak mempermasalahkannya. Termasuk menyerahkan sepenuhnya proses pemulangan mantan anggota Gafatar oleh pemda setempat ke daerah asal.

“Ya terserah pemerintah saja, mau memulangkan atau tidak. Bagi kami cuma bertani saja dianggap ajaran sesat, ya nggak papa. Jika ada intimidasi, kami juga tidak akan melawan, karena tidak diajarkan seperti itu. Karena ajaran balas-lah kejahatan dengan kebaikan, begitu perintahnya,” ungkap pria yang saat ini mengaku berprofesi sebagai advokat itu.

Di sisi lain, dia juga menyesalkan aksi pembakaran camp eks Gafatar di Mempawah, Kalimantan Barat. Menurutnya, tindakan tersebut tidak seharusnya dilakukan oleh warga Indonesia. “Sebagai negara hukum, kalau kita melihat konstitusi, warga negara bebas mau tinggal di mana saja dan dijamin keamanannya oleh negara. Sehingga kejadian seperti di Mempawah itu, sangat saya sesalkan,” ungkapnya.

Dia berharap, aparat keamanan bisa memberikan pengamanan bagi eks Gafatar, sebab bagaimana pun mereka adalah warga negara Indonesia yang juga harus dilindungi. “Kalau kawan eks Gafatar itu yang saya baca di media sudah bersedia direlokasi, tidak perlu membakar seperti itu. Orang-orang itu kan sudah tidak punya harta lagi, harta terakhir mereka sudah dibakar,” ujarnya.

Dia mengusulkan, jika memang akan direlokasi, para eks Gafatar harus difasilitasi lahan pertanian untuk mereka bisa bercocok tanam dan bertahan hidup. Sebab sebagian besar hidup mereka bergantung pada bertani. “Semoga ini jadi yang terakhir. Jangan sampai terjadi seperti ini lagi. Kalau bisa mereka tetap difasilitasi untuk bertani, karena itu cara mereka bertahan hidup,” harapnya.

Sebelumnya, ratusan warga eks anggota ormas Gafatar yang bermukim di Moton Panjang, Mempawah Timur, Mempawah Kalbar mulai diungsikan ke Kota Pontianak. Selanjutnya, sekitar 800-an warga tersebut akan dipulangkan ke daerah masing-masing.

Dari informasi yang dihimpun Radar Jogja menyebutkan, proses pemulangan akan dilakukan via laut dengan titik kedatangan di Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, Jawa Tengah. (riz/ila/jko)