MAGELANG – Langkah Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Pemkot Magelang mengadakan jembatan portable pada Tahun Anggaran (TA) 2016 mendapat dukungan dari koleganya yang terkait infrastruktur. Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Pemkot Magelang menyambut baik rencana tersebut. Alasannya, muatan yang melebihi batas maksimal alias over tonase dari kendaraan angkutan, sudah lama ditengarai menjadi penyebab terjadinya kerusakan ruas jalan.

“Adanya jembatan portabel diharapkan kerusakan jalan bisa dikurangi. Karena faktor utama kerusakan jalan di Kota Magelang oleh kendaraan over tonase,” ungkap Kepala Seksi Jalan dan Jembatan Bina Marga DPU Kota Magelang Budi Susilo kemarin (21/1).

Budi menjelaskan, selama ini masih banyak kendaraan melintasi ruas jalan kota, provinsi, dan nasional, seperti Jalan Soekarno Hatta, Jalan Urip Sumoharjo, dan Jalan A Yani yang muatannya melebihi tonase. Hal itu mempercepat kerusakan jalan.

“Adanya jembatan portabel akan mendeteksi tiap kendaraan yang sebenarnya tidak laik. Karena kelebihan tonase. Efektivitasnya, bisa mencegah beban jalan, sehingga tidak cepat berlubang,” paparnya.

Menurut Budi, tak hanya kendaraan over tonase yang jadi faktor utama kerusakan jalan di Kota Sejuta Bunga ini. Selain cuaca, perbaikan tak sempurna bekas galian PDAM juga dituding menjadi pemicunya.

“Galian PDAM sampai sekarang normalisasinya kurang sempurna. Banyak jalan-jalan yang baru selesai diperbaiki, jadi bergelombang karena di tepiannya ada galian pipa. Parahnya lagi, proses perbaikannya tidak menggunakan hotmix seperti yang digunakan DPU,” katanya.

Dikemukakan, penggunaan aspal di bawah standar yang dilakukan PDAM untuk normalisasi galian pipa, berpergaruh besar pada kerusakan jalan. Meski pada awal tidak terlihat, dalam jangka waktu tertentu menimbulkan gelombang yang lebih parah.

“Bisa dilihat awalnya (normalisasi PDAM) terlihat menonjol dari aspal lainnya. Lama kelamaan akan menyusut dan membuat lubang baru. Karena proses pengepresan atau perataannya tidak sempurna, ditambah kualitas aspal yang tak sesuai,” ungkapnya.

Budi mencontohkan, beberapa kerusakan jalan yang dipicu galian PDAM ada di Jalan Pemuda, sebagian Jalan Pahlawan, Tentara Pelajar, dan beberapa jalan arteri lain.

Sebelumnya, Dishubkominfo Kota Magelang berencana membangun jembatan portabel dengan alokasi dana Rp180 juta di tahun ini. Alat yang cenderung fleksibel, bisa dipindah-pindah tersebut diperkirakan mampu mencegah percepatan kerusakan jalan yang disebabkan kendaraan over tonase.

“Kendaraan over tonase merugikan kami. Ditambah tidak adanya jembatan timbang di kawasan ini, sering dimanfaatkan sopir nakal dengan membawa muatan melebihi ketentuan,” ungkap Kepala Dishubkominfo Kota Magelang Suko Tri Cahyo.

Selama ini, pengecekan muatan angkutan berat menggunakan cara tradisional dan dianggap belum efektif menentukan apakah kendaraan tersebut over tonase atau tidak. Caranya, dengan melihat dimensi muatan kendaraan.

“Untuk mengetahui berat harus pakai jembatan timbang. Kalau hanya pakai dimensi muatan sering meleset. Harapannya, jembatan portabel ini mampu memastikan jumlah tonase kendaraan,” katanya.(dem/hes/ong)