GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
PENGASAPAN: Petugas Dinas Kesehatan Kota Jogja melakukan pengasapan atau fogging di pemukiman warga di kawasan Timoho, Umbulharjo, Jogja, Kamis (21/1). Pengasapan untuk memutus siklus hidup nyamuk aedes aegypti penyebab yang berkembang biak saat musim hujan.
 
JOGJA – Peningkatan penderita demam berdarah tahun 2015 lalu menjadi pelajaran berharga bagi Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jogja. Terlebih, musim penghujan tahun ini berbeda dengan tahun lalu. Hujan dan panas tak menentu yang membuat nyamuk aedes aegypti dengan mudah berkembang biak.

Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinkes Kota Jogja Yudiria Amelia mengungkapkan, pihaknya terus melakukan upaya antisipasi. Tujuannya menekan atau mengurangi daerah endemis. “Masih terkendali. Tidak seperti lima tahun lalu,” ujarnya, kemarin (21/1).

Tahun lalu, lanjut dia, wilayah endemis tinggi juga mengalami perubahan. Jika 2014 kasus tertinggi di Wirobrajan, Wirogunan, Sorosutan, dan Mantrijeron. Namun, pada 2015 empat kelurahan endemis tinggi bergeser jadi Sorosutan, Klitren, Muja-Muju, dan Kricak. Diungkapkan, hingga awal Januari tahun ini, sudah ada sepuluh kasus demam berdarah.

“Daerah dengan endemis tinggi harus gencar melakukan antisipasi. Namun penderita yang meninggal dunia juga jadi pencermatan kami, apakah ada keterlambatan penanangan atau seperti apa,” terangnya.

Sesuai dengan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, kasus demam berdarah mulai ditemukan Januari hingga Maret. Ini bersamaan dengan intensitas musim hujan yang ikut meningkat. Sedangkan berdasarkan golongan umur, penderita tertinggi usia 7 hingga 12 tahun.

Tingginya kasus demam berdarah hingga angka kematian yang mencapai 1 persen, turut menjadi perhatian Pemprov DIJ. Menurut Yudiria, Gubernur DIJ merekomendasikan agar Community Deal atau kesepakatan antarmasyarakat di lingkungan masing-masing kembali digalakkan.

Tanpa didasari kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungannya setempat, maka kasus demam berdarah sulit dikendalikan. “Kami juga akan mengerahkan segala sumber daya guna mengantisipasi kejadian luar biasa,” tambahnya.

Di samping itu, setiap gejala yang mirip dengan demam berdarah, harus segera diperiksakan ke fasilitas layanan kesehatan. Gejala tersebut berupa suhu badan meningkat atau demam hingga tiga hari. “Apalagi, jika sempat terjadi penurunan suhu namun kemudian kembali meningkat,” ungkapnya.

Direktur Utama RS Jogja Tuty Setyowati meminta masyarakat untuk mengecek jika ada anggota kelurga yang mengami demam lebih dari tiga hari. Ini agar, kondisi pasien saat dimasukkan ke RS bisa bertahan. “Pas sudah agak parah, jangan baru diantarkan ke rumah sakit,” pesan mantan Kepala Dinkes ini.

Mulai Hujan, tapi Masih Gerah

Sementara itu, selama tiga hari terakhir hujan sudah mulai mengguyur Jogjakarta dan sekitarnya. Setelah beberapa hari sebelumnya cuaca panas akibat fenomena badai El Nino.

“Cuaca sekarang ini mudah berubah. Karena, musim penghujan kering akibat adanya badai El Nino,” ujar Staf Seksi Data dan Informasi BMKG Jogjakarta Indah Retno Wulan, Rabu (20/1).

Indah menjelaskan, dengan adanya El Nino membuat cuaca kerap berubah. Sebab, kondisi cuaca juga dipengaruhi dengan pola angin yang membawa angin hujan. “Misalnya, angin terlalu kecil dengan durasi yang tidak terlalu lama. Itu membuat awan hujan tidak dapat terkumpul,” terangnya.

Alhasil, dengan kondisi tersebut membuat cuaca di Jogjakarta dan sekitarnya panas. Ini sudah berlangsung beberapa hari lalu. “Panas terik matahari tidak ada angin menambah badan terasa gerah,” lanjutnya.

Dia menambahkan, saat tak ada angin yang mengumpulkan awan hujan otomatis tak terjadi hujan. Hal yang dikhawatirkan jika kondisi ini berlangsung lama yakni beberapa daerah di pegunungan bisa mengalami kekeringan.

Hujan di Jogjakarta dan sekitarnya, sambung dia, seperti hujan orografik. Sebab, hanya daerah tertentu yang anginnya lebih kencang baru terjadi hujan. Seperti banyak terjadi di dataran tinggi.

“Hujan yang berlangsung memang tidak merata. Paling sering di wilayah dataran tinggi seperti Sleman di bagian utara (lereng Gunung Merapi),” katanya.

Kondisi hujan yang tak setiap hari ini bakal berlangsung lebih panjang. BMKG Jogjakarta memprediksi gangguan cuaca dari El Nino berlangsung sampai Februari mendatang. “Jika pola anginnya tidak merata sulit bisa terjadi hujan,” tandasnya.

Berdasarkan hasil pemetaan satelit antariksa terbaru, menurut Indah, gejala alami berlangsung lebih lama hingga Februari mendatang. “El Nino menyebabkan curah hujan tinggi di Amerika Latin, belahan bumi lainnya terancam kekeringan,” jelasnya.

Di lain pihak Kepala Badan Penangulangan Bencana Daerah (BPPD) Kota Jogja Agus Winarto mengungkapkan, El Nino berimbas pada terganggunya masalah kesehatan bagi manusia. Termasuk hingga terganggunya proses pertanian.

“Polutan jika berinteraksi dengan asam sulfat di daun, maka akan sangat berbahaya untuk produksi pertanian. Bisa mengganggu kesehatan jika dikonsumsi,” tambahnya. (eri/ila/ong)