RADAR JOGJA FILE
TETAP MAKSIMAL: Tim hoki merupakan beberapa cabang olahraga yang menggelar Puslatda Mandiri untuk menghadapi Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016 di Bandung, Jawa Barat mendatang.

JOGJA- KONI DIJ hanya mampu membantu 50 persen dari semua kebutuhan bagi atlet atau ofisial yang berstatus mandiri. Untuk itu, KONI DIJ mengeluarkan ketentuan, bahwa setiap cabor peserta puslatda mandiri PON 2016, wajib setor Rp 6,6 juta per atlet dan ofisial.

Ketua Bidang Pembinaan Prestasi KONI DIJ Agung Nugroho mengatakan, setiap atlet atau ofisial anggota kontingen DIJ membutuhkan dana Rp 13,2 juta. ” Nah, setoran Rp 6,6 juta per atlet atau ofisial tersebut masih berupa asumsi untuk biaya keseluruhan selama 14 hari pelaksanaan PON 2016 mendatang,” ujarnya kemarin (21/1).

Ketentuan tersebut disampaikan kepada masing-masing pengda cabor dan pelatih Puslatda Mandiri PON XIX dalam pertemuan di Gedung KONI DIJ, Rabu (20/1).

Menurutnya, pengurus KONI DIJ terpaksa memberlakukan ketentuan tersebut mengingat kondisi dana yang tersedia tidak mencukupi jika harus memberangkatkan semua atlet yang lolos dari babak kualifikasi atau PraPON XIX. “Dengan ketentuan tersebut, semua atlet dan ofisial anggota kontingen DIJ, baik yang mandiri maupun reguler, dalam PON XIX nanti akan mendapatkan perlakuan yang sama,” paparnya.

Di lain pihak, sejumlah pengda babor ternyata merasa keberatan dengan besaran setoran yang diberlakukan KONI DIJ tersebut. Secara terpisah, sikap keberatan datang dari pengda babor, terutama yang beregu.

Salah satunya cabor bola voli indoor, yang memang berstatus mandiri. “Sebagai peserta Puslatda PON XIX yang berstatus mandiri, kami jelas kecewa karena kebijakan KONI DIJ tersebut menambah beban bagi Pengda Cabor kami (PBVSI),” ujar pelatih kepala tim bola voli indoor putra DIJ Putut Marhaento.

Menurutnya, cabor puslatda mandiri tidak perlu lagi dibebani biaya yang luar biasa besarnya. Apalagi, cabor yang menggelar Puslatda mandiri sudah berupaya untuk berangkat, dengan kemampuan sendiri. “Janganlah cabor mandiri dipaksakan harus sama seperti yang reguler. Namanya saja mandiri, ya biarkan saja kami berangkat sendiri,” tegasnya.

Menurutnya, yang terpenting, timnya bertanding di PON untuk meraih prestasi terbaik. Sehingga bisa memersembahkan medali bagi kontingen DIJ.

Sekum Pengda Federasi Hoki Indonesia (FHI) DIJ Yudi “Bontot” mengaku terkejut dengan kebijakan tersebut. Bahkan kabar tersebut sempat menurunkan motivasi atlet yang tengah giat berlatih. “Saya nggak habis pikir. Berjuang untuk mengharumkan nama DIJ kok malah diminta setor uang,” ujarnya.

Tim hoki sendiri telah berhasil meloloskan tiga Tim ke PON XIX. Yakni satu tim sesuai kriteria KONI DIJ dan dua tim harus menjalani Puslatda mandiri. Total kebutuhan dana yang harus disediakan Pengda FHI DIJ untuk memberangkatkan atlet Puslatda mandiri mencapai Rp 200 juta lebih.

Rinciannya, untuk tim indoor putri 14 atlet dan tim oudoor putra 20 atlet. Jumlah itu belum termasuk ofisial. “Untuk membiayai Puslatda (mandiri) saja kami sudah merasa berat. Ini malah ditambah beban baru harus menanggung biaya keikutsertaan di PON,” keluhnya.(dya/din/ong)