SETIAKY A. KUSUMA/RADAR JOGJA
PREDATOR ANAK: Suswiyanta, 33 warga Ngemplak, Sleman tersangka pencabulan ditangkap petugas kepolisian Rabu (19/1).

SLEMAN – Hati-hati bagi orang tua yang memiliki anak remaja, baik laki-laki maupun perempuan. Pasalnya, predator anak, sebutan bagi pelaku kejahatan seksual, masih mengintai. Kejadian memprihatinkan dialami sepuluh anak di Sleman yang menjadi korban pencabulan.

Tak perlu waktu lama setelah laporan diterima, petugas Polda DIJ segera mengamankan Suswiyanta, 33 warga Ngemplak, Sleman, Rabu (19/1) kemarin. Dia ditangkap setelah dilaporkan mencabuli sepuluh anak laki-laki yang masih duduk di bangku SMP.

Kelakuan bejat bujang lapuk tersebut diduga dilakukan sejak akhir 2015 dan awal tahun baru 2016. Hal itu mengingat tidak sedikitnya korban perilaku pencabulan yang dilakukan oleh pria yang juga mengaku bernama Redi itu.

Direskrimum Polda DIJ Kombes Pol Hudit Wahyudi mengatakan perbuatan pelaku terungkap ketika salah seorang korban yang merupakan anggota klub sepak bola Putra Kembang Sari menceritakan kejadian itu pada pelatihnya. Sang pelatih lalu mengumpulkan korban dan kemudian bersama keluarga melapor ke Polisi.

“Laporannya kemarin tanggal 19 Januari, langsung kami tangkap hari itu juga. Kita bergerak cepat untuk menghindari kaburnya pelaku,” kata Hudit kepada wartawan di Mapolda DIJ, Kamis (21/1).

Menurut pengakuan tersangka, korban dicabuli di rumahnya di daerah Sindumartani, Ngemplak, Sleman. Para korban bertemu dengan tersangka di kantin sekolah di daerah Piyungan, Bantul. Di tempat itu pelaku mengajak kenalan korban, lalu diajak ke rumahnya.

“Korbannya tidak langsung berbarengan semua, tapi satu per satu diajak ke rumah tersangka,” ujar Hudit.

Di tempat itu, korban lantas dicekoki minuman oplosan dari miras dan minuman energi. “Setelah korban mabuk, baru pelaku melancarkan aksinya,” terangnya.

Hudit mengatakan, mengingat korbannya cukup banyak, polisi akan meminta bantuan psikolog untuk memeriksa kejiwaan pelaku. Petugas juga menjerat tersangka dengan pasal berlapis yakni Pasal 82 UU nomor 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara. Serta Pasal 290 ayat 1 KUHP dengan ancaman hukuman 7 tahun dan 292 KUHP dengan ancaman hukuman 5 tahun.

Sementara itu, ditambahkan Hudit, ke sepuluh korban akan didampingi tim psikolog Polda DIJ untuk menghilangkan trauma. Dia berharap para orang tua lebih mengawasi anak-anaknya agar tidak menjadi korban.

“Jumlahnya sudah termasuk cukup banyak. Tapi tidak menutup kemungkinan juga ada korban-korban lainnya, diharapkan bisa segera melapor,” terangnya.

Sementara itu, tersangka mengaku sebelumnya dia pernah menjadi korban sodomi seseorang. Namun, dia tidak mengingat pasti kejadian tersebut. Alasannya, kejadiannya saat pelaku masih remaja.

“Iya dulu pernah (disodomi) oleh teman. Usianya lupa saat remaja. Saya tidak ada dendam, melakukan itu (sodomi) hanya ingin merasakan,” ujar tersangka.

Menurut tersangka, dia melakukan pencabulan tersebut di ruang tamu rumahnya. Meskipun dia juga menyebut bahwa saat itu di rumah tersebut ada orang lain juga. Namun, dia membantah saat merayu korbannya memberikan iming-iming sesuatu. Dari tersangka, polisi menyita dua botol Vodka, dua botol minuman energi, dua botol Green Sands, dan sebuah ponsel warna putih.

Kejadian ini mengingatkan kembali pada pro dan kontra hukuman kebiri bagi predator anak. Sebelumnya, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa dalam kesempatannya saat berkunjung Jogja dan Magelang belum lama ini sempat menyinggung mengenai hukuman kebiri bagi predator anak. Menurutnya, pemutusan saraf gairah seksual sebagai hukuman pelaku penyimpangan seksual tak melanggar hak asasi manusia (HAM) maupun pedoman kitab undang-undang hukum pidana (KUHP). Asalkan ketetapan sanksi tersebut sudah melalui vonis pengadilan terhadap predator (pelaku).

“Hukuman pemutusan saraf libido ini dijatuhkan kalau sudah ada vonis hakim. Sifatnya pemberatan karena predator itu korbannya bisa berantai,” ujarnya.

Menurutnya, hukuman berat ini perlu dilakukan sebagai efek jera. Sebab, ada kemungkinan predator kejahatan seksual yang sudah dipenjara begitu bebas mengulangi kembali perbuatannya. Bahkan bisa jadi dengan korban yang lebih banyak.

Selain itu, korban yang disodomi memiliki kecenderungan menyodomi kembali. Berdasarkan data dari Kementerian Sosial, rata-rata predator itu dulunya juga korban. “Dengan pola pemberatan hukuman ini, potensi negatif bisa dicegah,” ungkapnya. (riz/ila/ong)