BANTUL – Usaha pemeriksaan makanan yang rutin dilaksanakan Dinas Pertanian dan Kehutanan (Dispertahut) pada akhir 2015 menunjukkan hasil cukup mengejutkan. Dari hasil pemeriksaan atas sejumlah sampel, ada dua jenis makanan yang dinyatakan positif tercampur dengan daging babi. Dua jenis makanan itu adalah bakso dan soto daging sapi.

Kabid Kesehatan Hewan Dispertahut Bantul Agus Rahmat Susanto mengatakan, setiap bulan Dispertahut rutin melakukan uji petik makanan sebanyak dua kali. Nah, dua jenis makanan yang dinyatakan positif tercampur dengan daging babi diambil pada 10 Oktober tahun lalu. “Sampel makanan yang diambil kemudian kami uji di Balai Pengembangan Bibit Pakan Ternak Diagnostik Kehewanan DIJ,” terang Agus saat ditemui di ruang kerjanya, kemarin (21/1).

Kendati positif tercampur dengan daging babi, Agus belum dapat memastikan apakah pencampuran dilakukan dengan sengaja atau tidak. Sebab, ada banyak kemungkinan tercampurnya daging sapi yang menjadi bahan baku kedua jenis makanan tersebut dengan daging babi. “Untuk bakso, apakah tercampur saat proses penggilingan atau bagaimana kami belum dapat memastikan,” ujarnya.

Ditegaskan Agus, uji petik makanan sebenarnya bertujuan untuk memberikan rasa nyaman kepada para pedagang sekaligus melindungi konsumen. Karena itu, Agus meminta masyarakat tidak perlu resah dengan adanya temuan dua jenis makanan yang tercampur dengan daging babi. Biasanya, uji petik makanan menyasar warung atau pedagang makanan yang memiliki banyak konsumen. “Seperti penjual bakso dan soto daging ini. Pembelinya banyak,” ungkapnya.

Di samping itu, uji petik makanan juga menyasar para pedagang makanan di wilayah perbatasan. Tujuannya, agar kedua penjual ini tidak mengulangi perbuatannya, Dispertahut pun melayangkan surat teguran. Dalam surat tertanggal 18 Januari 2016 yang diteken Kepala Dispertahut Bantul Partogi Dame Pakpahan, pencampuran daging babi ke dalam soto daging maupun bakso dinilai melanggar undang-undang tentang keamanan pangan asal hewan.

Menurutnya, Dispertahut belum berencana menerapkan tindakan represif dengan memidanakan perbuatan kedua pedagang tersebut. Dispertahut masih mencoba upaya persuasif dengan melakukan pembinaan agar mereka tidak mengulanginya lagi. Dispertahut baru akan menempuh upaya represif bila keduanya mengulangi lagi perbuatannya. “Di 2015 juga ada satu temuan bakso yang mengandung daging babi. Kami juga memberikan teguran dan sekarang dia tidak mengulanginya lagi,” tambahnya.

Kendati positif mengandung babi, Agus enggan membeberkan siapa dan alamat kedua pedagang tersebut. Yang pasti, pedagang bakso yang dinyatakan positif mengandung daging babi sehari-hari berjualan keliling. Adapun daging soto yang dinyatakan positif punya merek dagang Soto Marjuki. “Yang jelas di wilayah Bantul,” Agus berkilah.(zam/din/ong)