YOGI ISTI PUJIAJI/RADAR JOGJA
KAMUFLASE: Anggota Satpol PP Sleman melepas kertas penutup brand toko. Selain mengubah nama toko menjadi “Bhineka Mitra”, semua tulisan bernada brand toko pada label papan prmosi maupun daftar harga ditutup dengan kertas putih.

SLEMAN- Bukan hanya aparat Satpol PP yang dikelabuhi pemilik toko modern bandel di Pasar Cebongan. Tapi para konsumen. Toko waralaba pelanggar aturan itu ditutup paksa petugas Satpol PP setelah ketahuan tetap beroperasi meski sudah diperingatkan untuk menutup sendiri.

Bahkan, ada indikasi kesengajaan tindakan pembohongan publik oleh pihak pengelola toko. Selain mengubah nama toko menjadi “Bhineka Mitra”, semua tulisan bernada brand toko pada label papan prmosi maupun daftar harga ditutup dengan kertas putih.

Tak hanya itu, label brand toko yang biasa tertempel pada seragam karyawan juga dilepas. “Ini hanya akal-akalan. Kamuflase,” sesal Kasi Operasional, Bidang Penegakan Perundang-undangan Satpol PP sebelum menyegel toko kemarin (21/1).

Toko tersebut masuk daftar enam usaha jejaring waralaba yang seharusnya ditutup paksa pada Senin (18/1). Namun, aparat tidak melakukan penyegelan lantaran toko dalam kondisi tertutup saat petugas sampai lokasi. Saat itu, pemilik toko dinilai telah memenuhi imbauan pemerintah dengan menutup toko sendiri. Kenyataanya justru sebaliknya.

Satpol PP mencium gelagat buruk sejak Rabu (20/1), setelah mengetahui toko berganti nama. Sekitar pukul 10.15 kemarin, aparat memergoki sedikitnya empat karyawan berbaju biru stand by di toko. Parahnya, karyawan tetap melayani pembeli di hadapan belasan aparat pemerintah yang sedang inspeksi.

“Kami ingatkan, toko boleh buka lagi setelah mendapatkan izin baru. Membuka segel ancamannya penjara,” tegasnya kepada karyawan toko. Rusdi mengingatkan bahwa membuka segel termasuk tindakan pidana melawan hukum, yang melanggar pasal 232 ayat (1) KUHP.

Rusdi menengarai, pembukaan toko di Cebongan menjadi uji coba jejaring waralaba yang khas dengan brand warna biru itu. Jika tidak segera ditindak, Rusdi khawatir, itu seolah menjadi tanda yang akan diikuti toko-toko pelanggar aturan lainnya untuk mengganti brand. “Meski ganti nama, tidak ada bedanya. Tetap kami segel,” tandasnya.

Sayangnya, aparat tak bisa menemui pemilik atau manajer toko untuk diperingatkan. Seorang karyawan tampak beberapa kali menerima telepon dari seseorang sebelum menemui petugas. “Manajer baru rapat. Tadi diminta buka. Sekarang disuruh menutup toko,” katanya.

Saat karyawan mau menutup toko, Kabid Penegakan Perundang-undangan Ignatius Sunarto mencegahnya. “Biar kami yang menutup,” tegasnya.

Lalu, Sunarto memerintahkan anak buahnya untuk memasang tanda tulisan bahwa toko ditutup karena melanggar aturan. “Semua toko yang menjadi target untuk ditutup menjadi pengawasan kami,” ucapnya.

Kabid Perdagangan, Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi Slamet Riyadi menyatakan, apapun label baru yang dipasang ditoko tersebut tetap tidak sah. Sebab, pemilik usaha belum mengajukan izin. Apalagi, ketahuan adanya upaya kamuflase terhadap brand lama. “Masak ujug-ujug ganti nama lalu buka. Sama saja membohongi warga,” ungkapnya.

Menurut Slamet, sudah sejak lama perusahaan induk toko tersebut dibina dan diperingatkan terkait pelanggaran aturan dan izin. “Ini memang bandel. Perilaku tidak berubah,” lanjutnya.

Slamet menegaskan, toko tersebut dalam pengawasan. Pihaknya akan mengecek sistem dan barcode toko untuk memastikan pelanggarannya.

Tindakan serupa terjadi pada Toko Total Jaya Abadi di Pasar Setan, Tajem, Maguwoharjo. Toko yang terhitung masih satu manajemen dengan Bhineka Mitra itu juga nekat buka kemarin, hingga ditutup paksa Satpol PP.(yog/din/ong)