GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
KORBAN GAFATAR: Istiana, salah seorang anggota Forum Silaturahmi Keluarga Korban Gafatar menunjukkan foto anggota keluarganya yang merupakan eks Gafatar, seusai beraudiensi dengan DPRD DIJ, Jumat (22/1).

PADA bagian lain, berbagai upaya terus dilakukan para keluarga korban Gafatar, yang anggota keluarganya hilang. Setelah melapor ke Polda DIJ, dan ke organisasi masyarakat, kemarin (22/1) giliran ngudo rasa ke gedung DPRD DIJ. Mereka meminta DPRD DIJ ikut aktif membantu memulangkan anggota keluarga mereka
Sambil berlinang air mata, Ibu Diah Ayu menangis tersedu-sedu karena putrinya tidak kun-jung pulang. Dia mendatangi gedung DPRD DIJ, ditemani besan dan adiknya. Di dewan, mereka meminta bantuan untuk menemukan dan membawa pu-lang Diah Ayu. Farid Cahyono, paman Diah Ayu, mengisahkan keponakannya yang pergi dengan alasan mendapatkan pekerjaan. “Ayu meninggalkan SMS (Jangan khawatir saya pergi mendapatkan pekerjaan), pendekatannya pekerjaan,” ujar Farid.

Menurut dia, keponakannya tersebut dulunya memang ang-gota Gafatar, namun sudah keluar. Tapi pada saat dirinya labil, karena suaminya mening-gal, Diah didekati kembali dan akhirnya pergi. Untuk itu, dirinya meminta supaya ada penindakan tegas bagi para pentolan Gafatar. Dirinya juga meminta ada penanganan dan konseling bagi para eks Gafatar. “Usulan kami universitas dan pesantren ikut bantu konseling,” harapnya.

Kekhawatiran lain, adalah pe-nerimaan masyarakat. Diakuinya, dengan masifnya pemberitaan tentang Gafatar, awalnya malu. Tapi karena keinginan untuk menemukan keponakanya ter-sebut, kelaurga yang awalnya diam-diam, mau terbuka. Salah satu kekhawatirannya adalah tanggapan dari tetangga. ” Tetangga ada yang baik, ada yang nyinyir juga. Tapi sekarang sudah mau terbuka,” jelasnya.

Ketua Forum Silaturahmi Kelu-arga Gafatar Mohammad Naiem mengakui, selama berbulan-bulan keluarga korban berada dalam ketidakpastian atas meng-hilangnya anak atau sanak sau-daranya. Dirinya mengaku ang-gota keluarganya berada di Mempawah, jauh sebelum Ga-fatar mengemuka. Bahkan dia pernah ke sana menjemputnya. Sayangnya upaya tersebut tidak berhasil, karena handphone tidak bisa dihubungi, bertanya kepada warga (eks Gafatar) di sana juga tidak ada yang tahu. “Atau pura-pura tidak tahu atau menutup-nutupi. Kehidupan di perkampungan eks Gafatar di Mempawah juga ekskusif,” ungkapnya.

Bersama anggota keluarga korban Gafatar lainnya, mereka berharap kepada DPRD DIJ bisa memulangkan mereka. DPRD DIJ diminta proaktif mendorong pemerintah dan polisi mem-bantu proses penjemputan dengan cepat dan tuntas. Naiem berharap, setelah eks Gafatar tiba di DIJ, pihak terkait mem-bantu proses rehabilitasi, baik dari perguruan tinggi, pesantren, ormas dan lainnya. “Kami min-ta DPRD DIJ juga memanggil pengurus Gafatar meski orga-nisasi ini sudah berganti nama. Mereka (pengurus) harus bertanggung jawab,” kata dia.Wakil Ketua DPRD DIJ Arif Noor Hartanto saat menerima Forum Silaturahmi Keluarga Gafatar, mengisahkan pengalamanya dengan korban Gafatar DIJ yang sudah ditemukan. Menurutnya, kondisi korban saat ini masih menjaga jarak dengan keluarga lain, termasuk dengan suaminya. “Dari informasi, dia belum nyambung 100 persen,” tutur pria yang akrab disapa Inung ini.

Selain itu, Inung juga memin-ta jangan ada stigma atau peno-lakan dari masyarakat terhadap eks Gafatar. Hal itu juga untuk mempercepat pemulihan so-sial. Untuk itu, Inung juga akan mendorong perguruan tinggi di DIJ supaya membantu dalam trauma healing.Mencegah kasus serupa teru-lang dan untuk menuntaskan Gafatar ini, DPRD DIJ juga mer-encanakan untuk mengundang Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompinda) DIJ, se-perti Gubernur DIJ, Kapolda DIJ dan Danrem DIJ. “Tentu juga perlu penindakan tegas terhadap pelaku, supaya kasus serupa tidak terulang, apalagi di DIJ,” terangnya. (pra/jko/ong)