JOGJA – Para eks anggota Gafatar asal DIJ, tampaknya tak harus merisaukan tentang tempat tinggal setelah di-evakuasi dari camp mereka di Mempawah, Kalimantan Barat. Pemprov DIJ telah menyiapkan Gelanggang Pemuda atau yang lebih dikenal dengan Gedung Youth Center, yang beralamat di Bolawen, Tlogoadi, Mlati, Sleman untuk penampungan sementara bagi mereka.Sesuai yang dijadwalkan, se-banyak 375 orang eks Gafatar pada Jumat (22/1) sore diberang-katkan dari Kalimantan Barat menuju Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, Jawa Tengah
Mereka divakuasi melalui trans-portasi laut menggunakan KRI Teluk Gilimanuk. Dari 375 eks anggota Gafatar yang akan di-pulangkan tahap pertama ini, ada sekitar 50 orang dari DIJ, selebihnya dari Jateng. Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesra Pemprov DIJ Sulistyo yang mengikuti rapat koordi-nasi dengan Pemprov Jateng menuturkan, setelah tiba di Pe-labuhan Tanjung Emas Semarang, selanjutnya mereka akan ditam-pung di asrama haji Donohudan Boyolali. “Tidak langsung ke daerah asal masing-masing, tapi dari pelabuhan akan singgah dulu di asrama haji Donohudan Boyolali,” katanya.

Sesampainya di Asrama Haji Donohudan, juga tidak langsung dibawa ke DIJ. Mereka diberikan waktu beberapa saat untuk ber-istirahat dan menunggu situasi kondusif. “Nanti diberi waktu istirahat dulu hingga situasi enak, baru dibawa ke DIJ,” lanjutnya.Sambil menunggu kedatangan warga eks Gafatar tiba, Pemprov DIJ telah menyiapkan penam-pungan sementara, yakni di Youth Center Sleman. Kepas-tian itu disampaikan Sekprov DIJ Ichsanuri. Selama dalam penampungan, untuk kebutuhan logistik, akan diam-bilkan dari persediaan logistik yang dimiliki Dinas Sosial. “Se-lama beberapa saat, mereka akan ditempatkan di sana. Ini untuk langkah awal, sekaligus pemu-lihan psikis atau trauma healing,” jelas Ichsan saat ditemui di DPRD DIJ, kemarin (22/1).

Terpisah Gubernur DIJ Sri Sul-tan Hamengku Buwono (HB) X meminta, sebelum warga eks Gafatar tersebut dipulangkan ke rumah atau daerahnya masing-masing, agar dideradikalisasi terlebih dulu. Deradikalisasi sebagai upaya untuk menurun-kan paham radikal yang selama ini mereka pakai. Menurut HB X, deradikalisasi akan dilakukan di tempat khu-sus, setelah mereka tiba di DIJ. “Harapannya, jangan langsung dipulangkan. Ditampung, dan dikarantina dulu untuk didera-dikalisasi. Setelah itu baru boleh pulang ke alamat masing- masing,” ujar HB X.

Deradikalisasi, lanjut HB X, bertujuan agar mereka tidak kembali ke organisasi serupa. Deradikalisasi dilakukan dengan melibatkan banyak pihak, se-perti unsur agama, psikolog, polisi dan lainnya. “Di susun saja materinya untuk dideradi-kalisasi itu,” imbuhnya.Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat (Bakesbanglinmas) DIJ Agung Supriyono menambahkan, jum-lah eks Gafatar asal DIJ yang dipulangkan sekitar 272 orang. Namun jumlah tersebut belum klir. “Kepastiannya baru bisa dilakukan setelah turun dari ka-pal di Tanjung Emas,” ungkapnya.

Agung juga membenarkan mereka tidak langsung dipu-langkan ke alamat rumah ma-sing-masing, melainkan harus menjalani deradikalisasi dulu. Deradikaliasi melibatkan TNI/Polri untuk keamanan, dan keawaspadaan; Kementerian Agama dan Forum Komuni-kasi Umat Beragama (FKUB) untuk menanamkan akidah, psikolog dan lainnya.Dia berharap, supaya ma-syarakat bisa menerima para warga eks Gafatar ini, serta tidak mengucilkan mereka saat kem-bali ke rumah masing-masing. “Masyarakat harus menerima mereka kembali dengan legawa, karena mereka tetap warga kita. Yang penting mereka (warga eks Gafatar) nanti tidak lagi aneh-aneh,” kata dia.

Dalam saat yang bersamaan, instansi terkait juga gencar mela-kukan pemahaman dan sosia-lisasi kepada masyarakat. Se-perti Pemkab Bantul dan Sleman, mereka juga sudah siap untuk menerima warganya yang sem-pat bergabung Gafatar tersebut. Selengkapnya baca beritanya di Halaman 6. (pra/jko/ong)