SLEMAN – Suswiyanta, 33, war-ga Ngerdi, Sindumartani, Sleman, pelaku pencabulan (so do mi) terhadap 10 remaja laki-laki itu ter nyata dikenal selalu bergaul dengan remaja laki-laki. Namun remaja-remaja tersebut bukan asal desanya, tapi dari luar tem-pat tinggalnya.Suswiyanta alias Redi, di ling-kung annya dikenal dengan Sus atau Si Sus. Warga mengenalnya sehari-hari bekerja sebagai ma-kelar penambangan pasir.

Selain itu, bujangan 33 tahun ini juga disebut kerap berurusan dengan pihak kepolisian. Sebelumnya, pihak kepolisian dari Piyungan, Prambanan, dan Manisrenggo, Klaten sudah per-nah mencari keberadaan Si Sus ke Desa Ngerdi. “Si Sus itu sudah sering dicari polisi. Ada dari intel Prambanan juga pernah nyari-nyari tahu. Tapi kasusnya apa, kami ndak tahu persis,” ujar Ketua RT 03 Warno kepada war-tawan, kemarin (22/1).

Warno menambahkan, Sus me mang jarang bergaul dengan war ga sekitar. Termasuk jika ada ke giatan warga di lingkungannya atau di desa, dia jarang ikut ber-partisipasi. Tamatan SMP itu justru lebih sering bergaul dengan orang di luar desanya. “Kalau kumpul warga sini, jarang se-kali bergaul dengan warga. Ka-lau orang Jawa bi lang orangnya tidak pernah se rawung,” imbuh-nya.

Di sisi lain, diketahui tersang-ka juga sangat akrab dengan anak-anak SMP. Namun warga ju ga tidak mengenal remaja yang se ring bergaul dengan Sus ter-se but. Para remaja yang berada di rumah tersangka bukan dari war ga Ngerdi. “Sering sekali ber-kum pul dengan anak-anak SMP, ka dang anak-anak SMP itu me-ngi nap di rumah Si Sus. Tapi me reka bukan dari warga sini,” te rang Andi, salah seorang te-tang ga Suswiyanta.

Andi mengungkapkan, sejak kecil Si Sus yang kini mendekam di tahanan polisi karena diduga men sodomi 10 anak di bawah umur, hanya dirawat oleh ne-nek nya. Sedangkan orang tuanya ting gal di daerah Ngentak, Sleman. Beberapa tahun lalu, Si Sus su dah membangun rumah sendi-ri, yang berjarak tak jauh dari ru mah neneknya. Rumah itulah yang diduga dijadikan tempat kum pul oleh anak-anak SMP yang sering bergaul dengan Si Sus. Bahkan tak jarang, mereka ke rap mabuk bersama hingga ma lam.

Andi menambahkan, sebenar-nya sejak lama, warga telah me-na ruh curiga dengan kepribadi-an Si Sus. Sebab sepengetahuan-nya, dia tidak pernah terlihat ber sama teman perempuan. Teman-teman Si Sus kebanyakan laki-laki yang masih SMP. “Kalau se tahu saya, semua temannya anak-anak SMP, itu pun semua-nya laki-laki. Saya tidak pernah melihat dia bersama teman pe-rempuan,” ungkapnya.

Menanggapi munculnya pe-ristiwa pencabulan dengan kor-bannya yang mencapai 10 anak itu, memunculkan kembali wa-cana pengebirian kepada pela-kunya. Melihat hal itu, Adnan Pambudi, Direktur Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia (PBHI) mengatakan, untuk berhati-hati ketika akan menerapkan kebijakan pidana kebiri kimia ini. “Diperlukan kajian dan studi yang panjang serta komprehensif,” katanya.

Di sisi lain, penegak hukum ju ga perlu mengedepankan pradu ga tak bersalah kepada ter sangka. “Penyidik dalam hal ini polisi harus mendampingi pe laku dengan psikolog. Karena se belumnya, diketahui pelaku juga pernah menjadi korban. Apa kah ada hubungan dengan pe ristiwa sebelumnya,” katanya kepada Radar Jogja, Jumat (22/1).Senada dengan Adnan, Syarif Nurjodayat, Pakar Hukum dari Fakultas Hukum (FH) UII ber-pandangan bahwa hukuman ini terbilang baru di Indonesia. Jika diterapkan, perlu kajian yang cukup lama. “Sejumlah negara di luar per-nah menerapkannya. Contohnya Jerman dan Prancis. Tapi gaga-san ini perlu dikaji dengan baik mengenai justifikasi atau argu-mentasi pembenarnya. Jangan sampai emosional semata, ka-rena jadinya nanti kontrapro-duktif,” jelasnya. (riz/jko/ong)