DWI AGUS/Radar Jogja
NGOBROL : (Dari kiri) Seniman Ong Hari Wahyu, Kurator BBY Hermanu, Komunitas Radio Lawas Didi Padmaditya, Pengelola BBY Romo Sindhunata, dan seniman Subandi berbincang di sela pameran, kemarin.

Bukan Sekadar Pemanis, tapi Dapat Menjadi Saksi Sejarah

Jauh sebelum dunia percetakan digital berkembang, ilustrasi gambar masih menjadi pionir. Biasanya ilustrasi ini hadir dalam setiap cetakan buku. Teknik ini pertama kali dikenalkan pemerintah Hindia Belanda di tahun 1848.

DWI AGUS, Jogja
SELAIN menjajah, Belanda meninggalkan beberapa pengetahuannya di Indonesia. Salah satunya adalah teknik ilustrasi pada buku cetak. Teknik ini dikenalkan ke masyarakat pada 1848 silam.

Di era ini pula masyarakat Indonesia mulai mengenal buku pelajaran. Buku-buku ini diterbitkan langsung oleh Pemerintah Belanda yang berkuasa pada waktu itu. Meski hanya tersebar di kalangan terbatas, golongan bangsawan, priyayi, dan pegawai Belanda.

Ilustrasi menjadi senjata andalan pada waktu itu. Belum dikenalnya teknologi digital, membuat ilustrasi tangan digandrungi. Bahkan gambar-gambar yang dihasilkan mampu menarik minat untuk membaca buku pelajaran.

“Berdiri pula sekolah-sekolah Ongko Loro, HIS, Mulo, HBS, AMS oleh Pemerintah Belanda untuk kalangan terbatas. Adapula sekolah swasta di kemudian hari, seperti Taman Siswa, Ongko Loro, HIS dan HCS. Semua sekolah itu membutuhkan buku pelajaran,” kata Kurator Bentara Budaya Yogyakarta (BBY) Dr Gabriel Possenti Sindhunata, S.J, kemarin (24/1).

Pada era itu, menurut Romo Sindhu, sapaannya, ilustrasi berkembang dengan pesat. Ragam buku pelajaran mengandalkan ilustrasi sebagai unsur penguatnya. Buku-buku ini di antaranya Siti karo Slamet, Kembang Setaman, Pinter Matja,Tataran, dan Pim en Mien.

Buku terbitan Belanda ini terus membanjiri Indonesia. Bahkan, proses cetak tetap dilanjutkan setelah Kemerdekaan RI tahun 1945. Menurut Romo Sindhu, Belanda pada waktu itu masih yakin akan bertahan lama di Indonesia.

Bahkan, hingga era agresi militer kedua di tahun 1949, ternyata penerbit Belanda masih terus memproduksi buku-buku bacaan untuk anak-anak Indonesia. “Kemungkinan mereka masih yakin bahwa Indonesia akan dapat dikuasai Belanda lagi, ternyata kenyataan berkata lain,” ujarnya.

Setelah era kemerdekaan, buku yang diterbitkan di antaranya Wulang Basa, Tiga Sekawan, Campur Bawur, Nyamikan, dan Tjahaja. Buku-buku ini menjadi andalan bagi para siswa pada waktu itu untuk belajar.

“Hingga akhirnya pemerintah Indonesia menyatakan tetap bekerja sama dengan penerbit Belanda seperti JB Walters. Dengan menerbitkan buku-buku bacaan baru, seperti Matahari Terbit, Pancaran Bahagia, dan di Kampung,” terangnya.

Uniknya, ilustrasi ini diciptakan para ilustrator dari negeri Belanda. Di era 1848 sampai 1940an sebagian besar dikerjakan oleh ilustrator kenamaan Belanda seperti C.Jetses, W.K De Bruin, Ishing, J. Wolters V.B, dan masih banyak lagi.

Kehadiran ilustrator Indonesia baru dirasakan tahun 1920an. Beberapa nama seperti R.J. Katamsi, B Margono, DS Tanto, Kamil, dan Surya mendominasi buku-buku pada waktu itu. Dinamika ini dirangkum dalam pameran bertajuk Di Kampoeng yang berlangsung di BBY. Pameran yang berlangsung hingga 30 Januari ini menyajikan puluhan gambar ilustrasi.

Ilustrasi dalam buku di repro dan dihadirkan dalam ukuran yang lebih besar. Di antaranya merupakan karya dari W.K.De Bruin, Ishing, J.Walters van Blom, Menno, Suzon Beynon, Sierk Schroder, dan M.A. Koekkoek.

“Ilustrasi-ilustrasi yang hadir dalam pameran ini menggambarkan kehidupan kampung pada waktu itu. Sangat mencerminkan masyarakat Indonesia di masa lalu,” kata Romo Sindhu.

Romo Sindhu menjelaskan, ilustrasi memiliki peran yang sangat besar. Tidak hanya sebagai pemanis namun dapat menjadi saksi sejarah. Terlihat dalam karya-karya yang dipamerkan di BBY.

Menurut Romo Sindhu, beberapa illustrator asal Belanda ini justru belum pernah blusukan. Namun dalam karya, mereka mampu menggambarkan suasana kampung. Keyakinan pada waktu itu tentang sistem pembelajaran membuat ilustrasi menjadi faktor penunjang pendidikan yang penting.

“Mereka (illustrator) hanya tahu sedikit tentang Indonesia yang waktu itu masih bernama Nertherland Indische. Namun, karyanya mendalam dan detail,” ujarnya.

Sayangnya, ilustrasi perkampungan kurang mendapatkan tempat di dunia seni. Termasuk para illustrator Indonesia dalam menghasilkan karya. Menurutnya, konsep ilustrasi kampung hadir dengan nilai yang kuat.

Karya-karya yang dipamerkan mampu menggambarkan konsep ini. Mulai dari suasana pedesaan yang sederhana. Warga yang hidup rukun dan guyub tanpa ada perselisihan. Penuh dengan nilai-nilai yang tetap relevan untuk diterapkan dalam suasana kehidupan masyarakat saat ini. (ila/ong)