GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
PERKUAT JAGAL SAPI: Pedagang daging sapi melayani pembeli di Pasar Beringharjo, Jogja, Minggu (24/1). Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Pertanian Kota Jogja berencana memperkuat kelompok jagal sapi di Kota Jogja guna mendukung stabilitas harga daging.

JOGJA – Jika selama ini pengonsumsi daging sapi di wilayah Kota Jogja merasa harganya sering fluktuatif dan cenderung naik, dalam waktu dekat tak akan terjadi lagi. Sebab, kenaikan harga daging sapi yang kerap tak lumrah di Jogja mulai terurai.

Keberadaan pemain besar di Bantul yang selama ini bisa dengan mudah memainkan harga, disikapi Pemkot Jogja dengan memutus mata rantai daging sapi tersebut. Selama ini, keberadaan pemain besar di Bantul, memang telah memonopoli pasar. Mereka dengan seenaknya bisa menentukan harga, yakni dengan mengurangi sapi yang dipotong. Padahal, stok sapi siap potongnya juga masih banyak. Sesuai dengan ilmu pasar, jumlah daging yang sedikit bakal menaikkan harga jual.

Melihat kondisi tersebut, Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan Pertanian (Disperindagkoptan) Kota Jogja tengah mengupayakan pemotongan mata rantai tersebut. Mereka berencana untuk memperbanyak penyuplai daging sapi di pasar-pasar tradisional di wilayah Kota Jogja.

“Jika para jagal di Kota Jogja difasilitasi, akan banyak penyuplai daging sapi di pasar-pasar di Kota Jogja,” kata Kepala Disperindagkoptan Kota Jogja Suyana, akhir pekan kemarin (22/1).

Diakui, selama ini, keberadaan pemain besar di Bantul itu memang telah memonopoli pasar. Kemudian, mereka dengan seenaknya menentukan harga yakni dengan mengurangi sapi yang dipotong. “Padahal, stok sapi siap potongnya juga masih banyak,” sesalnya.

Sesuai dengan ilmu pasar, jumlah daging yang sedikit bakal menaikkan harga jual. Makanya, pihaknya akan mendorong ketersediaan daging sapi di pasaran. “Jika bisa memperoleh sapi potong dengan lebih mudah, diharapkan mereka bisa menjaga pasokan daging sehingga harga daging sapi di pasaran stabil,” tambahnya.

Secara statistik pertanian, jumlah sapi potong yang ada di DIJ sebenarnya mencukupi. Namun, jika sudah masuk ke statistik perdagangan, maka jumlahnya bisa tidak mencukupi karena ada yang bermain. Apalagi, Pemprov DIJ melarang adanya sapi dari luar wilayah yang masuk dan kemudian diperdagangkan secara terbuka.

“Larangan tersebut kemudian dimanfaatkan oleh kelompok tertentu untuk mengatur jumlah sapi yang dipotong, sehingga bisa mengatur harga,” tandasnya.

Namun, lanjut Suyana, pihaknya juga bisa memanfaatkan aturan itu dengan memberikan akses yang lebih mudah kepada para jagal. Disperindagkoptan akan membuka keran bagi jagal lokal untuk mendapat sapi dari luar daerah.

Di Kota Jogja, terdapat delapan jagal yang seluruhnya tergabung dalam asosiasi atau kelompok jagal di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Giwangan. Di RPH Giwangan, rata-rata memotong 15 ekor sapi setiap hari. Daging itu semuanya dijual di pasar tradisional di Jogja. Selain dari RPH Giwangan, pedagang di pasar tradisional juga mendatangkan daging sapi dari luar kota, seperti dari Bantul dan beberapa kabupaten di Jawa Tengah.

“Jumlah sapi yang dipotong di RPH Giwangan sudah berkurang hingga 50 persen dibanding setahun kemarin, setelah ada kenaikan harga daging sapi yang cukup tinggi,” kata Kepala Seksi Pengawasan Mutu Komoditas dan Kesehatan Hewan Disperindagkoptan Kota Jogja Endang Finiarti.

Harga daging sapi di pasar tradisional di Kota Jogja, lanjutnya, sudah mengalami peningkatan sejak Desember 2015 dan berlanjut hingga Januari. Berdasarkan pemantauan terakhir, rata-rata harga daging sapi di Pasar Beringharjo Rp 100.000 per kilogram hingga Rp 105.000 per kilogram untuk daging yang biasanya digunakan pedagang bakso. Sedangkan harga daging untuk keperluan rumah tangga berkisar Rp 110.000 per kilogram. (eri/jko/ong)

Perbanyak Penyuplai di Pasar Tradisional